Melacak Jejak Sunan Kudus Karena Dikenal Sikapnya yang Toleran Terhadap Perbedaan (seri 2 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:January 31, 2024
  • Post category:Budaya
  • Reading time:8 mins read
You are currently viewing Melacak Jejak Sunan Kudus Karena Dikenal Sikapnya yang Toleran Terhadap Perbedaan (seri 2 – bersambung)
KEBANGGAAN KELUARGA : Bangunan monumen "Menara Kudus" yang berada dalam satu kompleks dengan makam Sunan Kudus dan masjid di tengah kota Kabupaten Kudus, adalah menomumen kebanggaan warga perdadaban secara luas, warga kabupaten, terlebih bagi KRA Panembahan Didik sebagai bagian keluarga besar keturunannya. (foto : iMNews.id/dok)

GKR Kencana, Trah Darah-Dalem Sunan Kudus yang Melahirkan Sinuhun PB II

IMNEWS.ID – MEMANG benar, pandangan, pemikiran dan ajaran Sunan Kudus hingga kini terkesan nyaris tidak muncul diadopsi, dilestarikan dan menjadi bagian dari karya dokumentatif manuskrip atau yang lain. Bagi KRT Ahmad Faruq Reksobudoyo MFil-I, itu bukan berarti sama sekali tidak ada, tetapi perlu kajian yang mendalam untuk menemukannya.

“Menurut saya, mungkin belum diketemukan saja. Karena, melacak kandungan-kandungan seperti itu perlu kajian mendalam. Selama ini, saya belum tahu apakah sudah ada kajian tentang itu. Tetapi sejauh yang saya cermati dari karya-karya manuskrip yang berkait syi’ar Islam, saya belum menemukan. Tetapi mungkin ada, kalau sudah dilakukan kajian ke sana,” ujarnya.

Abdi-dalem “Kanca Kaji” KRT Ahmad Faruq Reksobudya yang kemarin dihubungi iMNews.id, memberi beberapa referensi tentang ketokohan Sunan Kudus yang lahir 9/9/1400 dan wafat 5/5/1550. Dosen pengajar dan peneliti dari IAIN Ponorogo (Jatim) ini mengaku, data informasi tentang tokoh “Wali Sanga” bernama kecil Sayyid Dja’far Ash-shadiq yang didapat masih sangat minim.

DALAM UKIRAN : Wajah Sunan Kudus, dalam karya pahat atau ukir kayu yang pernah dibuat seorang seniman di tahun 1970-an, kini disimpan KRA Panembahan Didik Gilingwesi, salah satu keluarga besar trah darah-dalem keturunan seorang tokoh “Wali Sanga” itu yang tinggal di dekat kawasan cagar budaya nasional itu. (foto : iMNews.id/dok)

Minimnya data informasi sejarah Sunan Kudus yang diperoleh KRT Ahmad Faruq Reksobudoyo, mungkin bisa dibenarkan dengan penjelasan Dr Purwadi, seorang peneliti sejarah khusus tentang Mataram dan lebih khusus tentang Surakarta selama lebih dari 10 tahun sejak 2004. Menurut Ketua Lokantara Pusat di Jogja ini, masa kekaryaannya berakhir di zaman Mataram.

“Peran Kudus berakhir pada zaman Mataram (mulai 1588). Walaupun, kekaryaan Sunan Kudus dalam syi’ar agama dan pemikiran-pemikiran dan pandangan-pandangannya sangat berpengaruh pada zaman Kraton Demak (1478-1549), kemudian Kraton Pajang (1550-1587). Karya yang paling menonjol, adalah sikapnya yang toleran terhadap keberadaan pemeluk Hindu,” tegas Dr Purwadi.

Sebagai tokoh intelektual yang banyak menyumbangkan pemikiran-pemikirannya terhadap Kraton Mataram Surakarta setelah “Bebadan Kabinet 2004” melewati peristiwa alih suksesi di tahun 2004, Dr Purwadi mengaku belum banyak mengenal tokoh KRA Panembahan Didik Gilingwesi Hadinagoro. Tetapi, dia sangat mengapresiasi kemunculan dan perannya sebagai pimpinan Pakasa Cabang Kudus.

TETAP KONSISTEN : Menyadari dirinya adalah trah darah-dalem keturunan Sunan Kudus yang juga menurunkan raja-raja Mataram, KRA Panembahan Kudus selalu konsisten untuk memperlihatkan simbol-simbol identitasnya sebagai bagian dari masyarakat adat Mataram Surakarta, saat berziarah di pusara eyangnya, “Kandjeng Soesoehoenan Koedoes” itu. (foto : iMNews.id/dok)

Dari penjelasan Dr Purwadi pula, penelitian dan kajian serta penulisan sejarah tentang keberadaan dan perjalanan para tokoh “Wali Sanga” yang muncul ke permukaan hingga kini memang sangat terbatas. Terlebih, kalau dikaitkan dengan eksistensi dan perjalanan sejarah kraton-kraton, khususnya Mataram, lebih khusus lagi Mataram Surakarta.

Dalam pandangannya, ada semacam pembatasan ruang gerak penggalian secara ilmiah di lingkungan pendidikan negeri, terhadap segala fakta sejarah keberadaan kraton-kraton khususnya Mataram, dan lebih khusus Mataram Surakarta, sehingga menjadi membuat iklim yang kurang sehat dalam keperluan edukasi bangsa.

Selain itu, perkembangan sejarah agama (Islam) yang berkait dengan kelembagaan monarki di Indonesia, juga ada batasan-batasan sesuai gaya (aliran-Red) yang masuk ke Tanah Air di masa lalu, sebut saja mulai zaman para tokoh “Wali Sanga” eksis berkarya. Karena, dari beberapa gaya yang masuk, ada yang berciri kurang mementingkan aspek dokumentasi, apalagi bersifat kebendaan.  

GARIS TOKOH : Nyi Mas Tumenggung (MT) Tarmini Budyaningtyas yang tak lain adalah ibunda KRA Panembahan Didik Gilingwesi, tak salah mendidik anak-anaknya selalu mendekat ke Kraton Mataram Surakarta. Selain sang ibunda punya trah darah-dalem Raja Pataram II, Prabu Hanyakrawati, dirinya juga punya garis keturunan tokoh Sunan Kudus. (foto : iMNews.id/dok)

Oleh sebab itu, kalau hingga kini pencatatan tentang sejarah eksistensi dan perjalanan Sunan Kudus termasuk masih sangat sedikit, itu bisa dipandang wajar. KRA Panembahan Didik Gilingwesi Hadinagoro selaku trah darah-dalem atau generasi ke-14 keturunan Sunan Kudus sendiri menyebut, hanya ada silsilah yang mungkin baru mulai dicatat oleh generasi anak-cucunya.

“Catatan-catatan harian Eyang Sunan Kudus kok saya belum pernah melihat. Mungkin ada tetapi saya yang tidak tahu, atau memang tidak ada sama sekali. Silsilah itupun, sebagian kecil baru ditulis oleh anak atau cucu (generasi kedua/ketiga) beliau. Sunan mengajarkan agar masyarakat Kudus tidak menyembelih sapi/lembu itu saat Idhul Adha, juga belum ditemukan catatannya”.

“Termasuk juga, catatan-catatan keluarga besar kami secara turun-temurun yang pernah menjadi bagian dari keluarga besar Kraton Demak, Mataram sampai Mataram Surakarta, ya hampir tidak ada. Mungkin hanya data informasi berupa silsilah yang bisa saya dapat. Dan, itu justru menjadi sangat bermakna bagi saya. Itu yang menjadikan saya bersemangat,” ujar KRA Panembahan.

MENERIMA BUKTI : KRA Panembahan Didik Gilingwesi Hadinagoro saat menerima bukti berupa pengakuan bahwa dirinya adalah salah seorang trah darah-dalem keturunan Sunan Kudus, dalam sebuah upacara wisuda di Pendapa kabupaten Klaten, sekitar 3 tahun lalu. Gelar “Sentana Riya Inggil” yang diterimanya, sebagai tanda bagian dari keluarga besar Mataram Surakarta. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Hasil perbincangan iMNews.id dengan KRA Panembahan Didik Gilingwesi Hadinagoro melalui nomer WA-nya hingga kemarin, termasuk beberapa kali bertemu saat hadir di pisowanan upacara adat yang digelar kraton, memberikan catatan penting, terutama bagi keluarga besarnya, juga keluarga besar trah darah-dalem Sunan Kudus.

Karena GKR Kencana, putri dari Raden Adipati Tirtokusumo (ing Kudus-Red) itu, adalah “garwa prameswari” (permaisuri) Sinuhun Amangkurat IV (1719-1727), Raja (ke-8) Kraton Mataram saat berIbuk-Kota di Kartasura. GKR Kencana itu yang melahirkan Sinuhun Paku Buwana II (1727-1749), tokoh “inisiator” sekaligus “eksekutor” pendiri “nagari” Mataram Surakarta.

Raden Adipati Tirtokusumo, adalah Bupati Kudus pada zaman Kraton Mataram masih berIbu-Kota di Kartasura (1613-1745), yang merupakan generasi ketujuh Kandjeng Soesoehoenan Koedoes Djakpar Sodik. Itu berarti, KRA Panembahan Didik jelas bukan orang lain, karena justru tokoh “Sentana Riya Inggil” (bukan Bupati Riya Inggil-Red) bagi keluarga besar Mataram Surakarta. (Won Poerwono-bersambung/i1).