Melacak Jejak Sunan Kudus Karena Dikenal Sikapnya yang Toleran Terhadap Perbedaan (seri 3 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:February 1, 2024
  • Post category:Budaya
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:8 mins read
You are currently viewing Melacak Jejak Sunan Kudus Karena Dikenal Sikapnya yang Toleran Terhadap Perbedaan (seri 3 – bersambung)
SUDAH TERWUJUD : Cita-cita KRA Panembahan Didik Gilingwesi untuk bisa kembali ke Kraton Mataram Surakarta sebagai habitatnya, setelah ditinggal sang kakek yang pernah memperkenalkannya dengan kraton, kini sudah terwujud. Dalam dua tahun terakhir, Pakasa Cabang Kudus hadir dengan totalitas di setiap upacara adat. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

 “Kembali ke Habitat”, dengan Semangat dan Kepedulian yang Totalitas

IMNEWS.ID – ABDI-DALEM “Kanca Kaji” yang juga dosen pengajar/peneliti dari IAIN Ponorogo (Jatim), Ahmad Faruq MFil-I yang beberapa kali diwawancarai iMNews.id hingga kemarin menyebut, tampilnya KRA Panembahan Didik Gilingwesi (“Plt” Ketua Pakasa Cabang Kudus) dan daerah di sekitarnya khususnya Kabupaten Pati dan Kabupaten Jepara, adalah bukan suatu kebetulan.

Menurut koordinator penerbitan “Kur’an Jawi” yang baru dicetak dan dibagikan secara terbatas, tahun 2022 yang memiliki nama kekerabatan KRT Ahmad Faruq Reksobudoyo itu, sangat jelas ada sentuhan “tangan Tuhan”, Allah SWT. Karena, dari ketiga kabupaten itu, kraton mendapat dukungan SDM abdi-dalem “Kanca Kaji” yang jumlah keseluruhannya 30-an orang.

Bahkan, melihat sosok tampilnya KRA Panembahan Didik Gilingwesi Hadinagoro, seakan menjadi kebangkitan warga Kabupaten Kudus dan dua kabupaten di wilayah Gunung Muria, menjadi kekuatan baru Kraton Mataram Surakarta semakin eksis sebagai sumber budaya Jawa dan semakin “kuncara” sebagai kraton yang benar-benar memperlihatkan cirikhas dan identitasnya sebagai Mataram Islam.

IKATAN SAUDARA : Setelah bisa kembali ke kraton sebagai “habitatnya”, KRA Panembahan Didik Gilingwesi mendapat “saudara” sesama Pakasa cabang dari Kabupaten Pati (KRAt Mulyadi Puspopustoko) dan Kabupaten Jepara (KRA Bammbang S Adiningrat) yang menjadi satu ikatan persaudaraan masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam kesempatan wawancara, KRAT Mulyadi Puspopustoko selaku Ketua Pakasa Cabang Pati yang ikut menyemangati Kabupaten Kudus untuk bergabung ke Kraton Mataram Surakarta. Dia bersyukur, karena KRA Panembahan Didik begitu cepat merespon dan total “suwita”, bahkan ikut memberdayakan lingkungan untuk keperluan kraton, khususnya penyediaan SDM abdi-dalem “Kanca-Kaji”.

Dalam rangkaian wawancara pda beberapa kesempatan, KRA Panembahan Didik juga mengakui peran KRAT Mulyadi Puspopustoko dan menyampaikan rasa terimakasihnya. Meskipun belum dikukuhkan penuh sebagai Pakasa cabang, Pakasa Cabang Kudus kini sudah menjadi bagian dari ikatan silaturahmi keluarga “Pakasa Tiga Serangkai” bersama Pakasa Pati dan Pakasa Jepara, bahkan Demak.

“Saya juga mengakui peran Kanjeng Mul (KRAT Mulyadi-Red). Maka, setiap Pakasa mengadakan kegiatan dalam rangka pelestarian budaya Jawa, apakah itu haul atau yang lain, Pakasa Cabang Kudus berusaha ingin ikut hadir mendukung dan memeriahkan. Begitu pula, terhadap Kanjeng Bambang (Ketua Pakasa Cabang Jepara), bahkan Demak, yang sudah seperti menjadi saudara dalam Pakasa”.

BERBAGAI EKSPRESI : Sebagai ekspresi tanda terima kasih dan ikatan persaudaraan sesama menjadi bagian dari masyarakat adat Kraton mataram Surakarta, KRA Panembahan Didik memimpin rombongan Pakasa Cabang Kudus berziarah di makam Sunan Prawoto di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati menjelang kirab haul, belum lama ini. (foto : iMNews.id/dok)

“Maka, setelah kami kenal dengan beberapa pengurus pakasa terdekat sampai yang jauh- misalnya saat ada peringatan ulang tahun seperti di kraton (Kraton Mataram Surakarta-Red), beberapa waktu lalu, secara pribadi saya merasa senang. Karena, cita-cita saya sejak lama ingin suwita di kraton sudah bisa terujud, bahkan punya saudara dalam Pakasa, banyak sekali”.

“Sekarang tidak hanya pribadi saya yang merasa senang, bangga dan mendapat kehormatan bisa menjadi bagian dari keluarga besar kraton. Keluarga kecil saya, bahkan para santri dan orang-orang yang ikut bergabung dalam Pakasa Cabang Kudus, juga ikut berbangga, merasa senang, karena punya kraton. Rasanya lebih nyaman mengikuti Gusti Moeng,” ujar KRA Panembahan Didik.

Hal terakhir yang disebut KRA Panembahan Didik itu, merupakan pengakuan apa adanya yang dirasakan sejak bisa masuk kraton untuk mengikuti langkah GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng, selaku Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa Lembaga Dewan Adat. Karena sebelumnya, dirinya sempat “terkecoh” mengikuti ajakan orang lain yang mengaku utusan dari kraton.

PAPAN NAMA : Papan nama Sunan Kudus yang dipahat di atas selembar papan kayu ditaruh tepat berada di atas pusara Kandjeng Soesoehoenan Djakpar Sodik kompleks makam tokoh Wali Sanga ini di kota Kabupaten Kudus, yang tak lain leluhur atau eyang KRA Panembahan Didik Gilingwesi itu. (foto : iMNews.id/dok)

KRA Panembahan Didik mengaku, diri dan keluarga besarnya merasa seperti dibukakan jalan ke kraton, diantaranya melalui wisuda penyerahan kekancingan gelar sesebutan yang diterimanya di Pendapa Kabupaten Klaten, beberapa tahun lalu. Saat itu, Pakasa Cabang Klaten menggelar upacara wisuda abdi-dalem yang diikuti warga dari Pakasa cabang lain, termasuk dari Kabupaten Kudus.

“Sejak kakek saya (R Kartowi Djojo Soerat-Red) meninggal di tahun 1970-an, saya merasa putus dari suasana yang sudah membuat diri saya nyaman menjadi bagian dari masyarakat adat kraton. Karena, sejak itu tidak ada lagi tokoh panutan yang sering megajak saya sowan ke kraton. Maka, saya bercita-cita untuk bisa kembali masuk kraton. Dan baru dua tahun lalu, saya bisa”.

“Saya ingin meneladani jejak kakek saya, bergabung ke kraton. Apalagi, setelah saya tahu, ternyata saya adalah bagian dari keluarga besar kraton, dari garis trah darah-dalem Sunan Kudus. Tetapi saya prihatin, melihat situasi kraton yang sudah tidak kuat memelihara bangunan asetnya, tidak mampu menggaji abdi-dalem dengan layak. Saya ingin membantu,” ujarnya.

SANG AYAH : Pada papan nama di atas nisan ayahandanya, tertulis Ramelan. Tetapi sejatinya, ayah kandung KRA Panembahan Didik yang wafat tahun 1989 itu bernama lengkap “R Soekardjin” bin R Kartowi Djojo Soerat. Gelar “R” disembunyikan, dan ditulis sebagai singkatan dari nama “Ramelan”. (foto : iMNews.id/dok)

KRA Panembahan Didik memang bukan termasuk tokoh yang kaya-raya seperti sejumlah nama dalam deretan orang terkaya di Tanah Air yang sering dilansir berbagai media di akhir dan awal tahun, tetapi pengabdian dan kepeduliannya terhadap pelestarian budaya Jawa yang bersumber dari kraton dan kelangsungan Kraton Mataram Surakarta, begitu besar dan punya sikap totalitas.

Tak hanya bantuan materi yang bisa diupayakan dan jumlahnya tidak sebesar harapan banyak pihak, tetapi kepeduliannya patut diteladani. Bahkan, dia berharap kegiatan belajar-mengajar di tiga majlis taklim yang dipimpinnya di Kudus, bisa berjalan seperti perguruan atau pasinaon yang selalu mencerminkan cirikhas dan identitas Jawa-Kraton Mataram Surakarta.

“Sedikit-sedikit, saya mengajak agar ara santri saya mengenal pengetahuan tentang busana adat Jawa, lalu mengenakannya secara benar. Pengetahuan tentang busana, sedapat mungkin saya tularkan kepada mereka. Untuk itu, saya sendiri juga ingin belajar di kraton. Baik tentang busana adat, pengetahuan budaya, tata krama, unggah-ungguh basa dan sebagainya,” tambahnya. (Won Poerwono-bersambung/i1).

Leave a Reply