Kamis, 2 Desember 2021
Regional Terkunci dari Luar, Saat Ingin Melihat Kekotoran di Dalam Keraton

Terkunci dari Luar, Saat Ingin Melihat Kekotoran di Dalam Keraton

Baca Juga

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

Wakil Wali Kota : “Kalau Tidak Mau Dihormati, ya………..”

Sumbang Rp 5 Juta untuk Pekan Seni 90 Tahun Pakasa SOLO, iMNews.id – Pembukaan Pekan Seni dan Ekraf (Ekonomi Kreatif)...

Istana Maimun Medan Akan Dikembalikan Menjadi Ikon Kota

Dikunjungi Ketua DPD RI dan Disaksikan Ketua MAKN MEDAN, iMNews.id – Ketua DPD RI AA LaNyala Mahmud Mattalitti yang belakangan...
~Pariwara~

BERTANYA-TANYA = KPH Edy Wirabhumi yang menyusul Yemi Triana dan sejumlah abdidalem di depan Kori Brajanala Lor, sedang bertanya-tanya tentang perginya petugas penunggu pintu yang tampak terkunci, tadi siang.  (foto : iMNews.Id/Won Poerwono)
—————————————-
SOLO, iMNews.Id – Pengageng Sasana Wilapa GKR Wandansari Koes Moertiyah yang akrab disapa Gusti Moeng, sejak Kamis sore hingga Jumat petang tadi belum bisa keluar dari asrama ”tenggan” Keputren, kompleks Keraton Mataram Surakarta. Karena, semua penjaga pintu menghilang setelah menyatakan tidak membawa kunci di setiap akses pintu masuk dimaksud.

”Karena Gusti (Gusti Moeng-Red) dan beberapa abdidalem tidak bisa keluar, dan kami semua juga tidak bisa masuk, maka nanti akan mencari upaya. Kalau pak RT atau pak Lurah tidak berhasil memasukkan kami, kami pertimbangkan minta bantuan polisi (Polsek Pasarkliwon) untuk mengantar kami masuk. Mereka yang terkunci di dalam, tidak ada makanan. Kami ingin mengantar makanan ke sana,” jelas KPH Edy Wirabhumi menjawab pertanyaan para awak media di halaman Kamandungan, tadi sore.

Disebutkan Pimpinan Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS) itu, Gusti Moeng dan GKR Timoer Rumbai Kusumadewayani yang akrab disapa Gusti Timoer, Kamis sore sepulang dari ndalem Kayonan menuju kantor eks Badan Pengelola (BP) melihat pintu masuk di Kamandungan terbuka. Karena tidak tampak ada yang menunggu, keduanya diantar beberapa abdidalem mencoba masuk untuk mencari penjaga pintu.

Sesampai di dalam, dilihat pemandangan sekitar Pendapa Sasana Sewaka yang tampak kotor berusaha dilihat dari dekat. Karena pintu Wiwara Kenya yang ada di selatan juga terbuka, dicoba untuk melihat suasana di sekitar rumah yang mirip asrama yang namanya ”tenggan” Keputren, tampak begitu tak terurus, nyaris tertutup aneka tetumbuhan liar.

Karena asyik melihat suasana menyedihkan, tak terasa sudah nyaris petang dan ketika mencoba kembali lewat pintu yang tadinya terbuka, sudah tertutup rapat dan digembok para petugasnya. Kontak dengan semua yang berada di luar, sudah dilakukan hingga sejumlah petugas polisi datang Kamis malam sekitar pukul 19.00.
Namun, kedatangan polisi itu tidak memperlihatkan ada hasilnya, karena Gusti Moeng, Gusti Timoer dan beberapa abdidalem tidak tampak keluar. Sampai sore tadi, semua yang terkunci di dalam tidak berhasil keluar, dan semua akses pintu keluar-masuk dalam keadaan terkunci.

Kelihatan dua petugas yang ada di luar, ketika dimintai tolong abdidalem Yemi Triana, mengaku tidak membawa kunci dan tidak bisa kontak telepon dengan para petugas pembawa kunci yang ada di dalam. Sampai sore tadi pula, upaya yangt berada di luar untuk masuk dan membawa aneka makanan untuk semua yang terkunci di dalam, juga tidak berhasil.

Pagi hingga siang tadi, Yemi Triana yang diikuti 10-an abdidalem berusaha masuk dengan mengetok pintu, tetapi tak ada satupun orang di dalam Kori Brajanala Lor yang menjawab. Begitu pula ketika berusaha masuk lewat pintu Sasana Putra, ketokan minta dibukakan juga sama sekali tidak ada jawaban.

”Ya sudah, tidak ada yang menjawab. Diketok juga tidak ada yang membukakan pintu, kami pulang saja. Padahal, kasihan Gusti dan beberapa yang penderek, dari kemarin tidak makan nasi. Mosok akan dibiarkan begitu…,” keluh Yemi yang mantan abdidalem penari Bedaya Ketawang. (won) 

2 KOMENTAR

  1. Miris melihat kericuhan Surakarta, saya banyak membaca pemberitaan tentang keraton Surakarta dengan berbagai permasalahannya yg sampai saat ini belum terselesaikan, soal tahta dan harta menjadi berita, mungkin Sudah saatnya tahta dikembalikan kepada garis asli dari permaisuri PB.X, PB.XIII dan saudara-saudaranya (adik-adiknya) betul keturunan dari PB.X namun dari garis selir bukan dari garis permaisuri.
    PB.X hanya memiliki dua permaisuri, permaisuri yg pertama tidak memiliki keturunan sedangkan permaisuri yg kedua hanya memiliki seorang putri yg bernama GKR Pembayun yg kemudian menikah dengan bangsawan Madura dan keluar dari keraton, namun diliteratur Belanda disebutkan GKR Pembayun adalah putri mahkota.
    PB.XIII sendiri pernah menyampaikan bahwa saat PB.XII akan mangkat mereka diperintahkan mencari Cucu PB.X dari permaisuri namun perintah dawuh tersebut tidak mereka laksanakan sampai akhirnya PB.XII mangkat dan Hangabehi naik tahta menjadi PB.XIII.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

More Articles Like This