Banyak “Kejutan” di Event “Pekan Seni Budaya dan Ekraf Hari Jadi 91 Tahun Pakasa”

  • Post author:
  • Post published:December 21, 2022
  • Post category:Regional
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Banyak “Kejutan” di Event “Pekan Seni Budaya dan Ekraf Hari Jadi 91 Tahun Pakasa”
BEDAYA ENDHOL-ENDHOL : Tari "Bedaya Endhol-endhol" yang hanya dimiliki Kraton Mataram Surakarta dan sangat jarang ditampilkan, digelar pada malam keempat "Pekan Seni Budaya dan Ekraf Hari Jadi 91 Tahun Pakasa", Selasa malam tadi (20/12/2022). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ada Daerah Bekas Wilayah “Nagari” Mataram Berkembang Dominan Kesenian Rakyat

SURAKARTA, iMNews.id – Sampai malam keempat pelaksanaan event “Pekan Seni Budaya dan Ekraf Hari Jadi 91 Tahun Pakasa” yang digelar sejak Sabtu malam (17/12), sudah muncul banyak kejutan yang dipersembahkan sejumlah kontingen Pakasa cabang dari beberapa daerah yang sudah tampil. Kejutan itu berupa sajian tari yang bukan menjadi cirikhas daerahnya seperti tari “Bambangan Cakil” (Pakasa Jepara), tari “Remong Putra” (Pakasa Wonogiri), “Topeng” (Pakasa Klaten) dan beberapa jenis tarian rakyat yang disebut “rundown” acara digelar sore setelah pukul 15.00 WIB hingga menjelang Magrib.

Beberapa jenis repertoar tari yang disajikan dalam beberapa sore dan malam itu memang bisa dianggap menjadi kejutan sekaligus mangagumkan, karena daerah-daerah yang jauh dari asal-usul jenis tari itu bisa menguasai dengan baik. Misalnya, suguhan tari “Remong Putra” yang dipersembahkan Pakasa Cabang Wonogiri di urutan tampil kedua setelah Pawiyatan Beksa Kraton Mataram Surakarta menyuguhkan tari “Bedaya Edhol-endhol” yang sangat khas kraton. Dalam terminologi dan khasanah seni tari di Jawa, tari “Remo” khas Surabaya atau Jatim itu masuk kategori kesenian rakyat.

TARI REMONG PUTRA: Di ajang event “Pekan Seni Budaya dan Ekraf Hari Jadi 91 Tahun Pakasa” malam keempat Selasa malam tadi (20/12/2022), kontingen Pakasa Cabang Wonigiri memberi kejutan dengan persembahan tari “Remong Putra” atau tari Remo yang khas Jatim. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Begitu pula sajian tari “Topeng” dari Pakasa Cabang Klaten, sebagai daerah bekas wilayah “nagari” Mataram Surakarta (1745-1945), yang mengadopsi tari “Klana Topeng” sebagai bagian dari kisah perjalanan Kraton Kediri (abad 12). Jenis tari yang menceritakan perjalanan tokoh-tokoh dari kraton Jenggala, Daha (Kediri) itu dipetik bagian-bagian sampai yang terkecil, hingga menjadi kategori kesenian rakyat. Dan oleh Pakasa Cabang Klaten disajikan dengan gaya kocak, segar dan menarik, di urutan tampil ketiga setelah tari “Remong Putra”.

Suguhan kedua Pakasa Cabang Klaten di malam hari atau ketiga dari sajian kesenian rakyat Jathilan sorenya, yaitu tari kreasi baru yang memadukan antara potensi industri payung di Kecamatan Juwiring dan industri Lurik di Kecamatan Pedan, hingga jadi tari Lurik-Payung yang disingkat jadi “Luyung”. Tari “Topeng” dan “Luyung” masing-masing hanya berdurasi 10 menit, tetapi fragmen ketoprak dengan lakon “Randha Kuning” disuguhkan dengan durasi 50 menit sebagai penutup rangkaian “Pekan Seni Budaya dan Ekraf Hari Jadi 91 Tahun Pakasa” hari keempat, malam tadi.

TOPENG KLANA : Kontingen Pakasa Cabang Klaten juga memberi kejutan di ajang Di ajang event “Pekan Seni Budaya dan Ekraf Hari Jadi 91 Tahun Pakasa” malam keempat Selasa malam tadi (20/12/2022), yaitu mempersembahkan tari “Topeng” (Klana) dari kisah Kraton Kediri.
(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ajang event “Pekan Seni Budaya dan Ekraf Hari Jadi 91 Tahun Pakasa” ini memang tidak membatasi atau menggolongkan masing-masing suguhan seni pertunjukan yang dipersembahkan. Karena event yang berkait dengan ulang tahun organisasi Pakasa itu adalah bagian dari instrumen dan upaya pelestarian seni budaya Jawa yang bersumber dari Kraton Mataram Surakarta. Hampir semua sajian seni yang berbasis gerak tari sejak malam perdana, Sabtu malam (iMNews.id, 18/12/2022), adalah hasil kreasi dan perkembangan sesuai cirikhas daerah tersebut, termasuk semua yang disajikan Sanggar Lokatari Art (Karanganyar) dalam dua malam bertutur-turut (18-19/12/) dan tari kolosal “Sabdo-Palon” yang disajikan Pakasa Karanganyar sore sebelumnya.

Sampai malam keempat event “Pekan Seni Budaya dan Ekraf Hari Jadi 91 Tahun Pakasa” suasana kegiatan aman-aman saja, sejak ada peristiwa masuknya kembali Gusti Moeng ke dalam “habitatnya” sesuai haknya sebagai salah seorang putridalem Sinuhun PB XII, Sabtu sore (17/12), dengan segala bentuk aktivitas pelestarian budayanya serta seluruh daya dukungnya yang dimulai Minggu (18/12) dengan latihan tari di Bangsal Smarakata. Bahkan, tepat di hari Selasa Kliwon atau Anggara Kasih, tradisi gladen tari “Bedaya Ketawang”-pun dilakukan di Pendapa Sasana Sewaka, sebelum digunakan latihan para penari “dari luar” Sanggar Pawiyatan Beksa Kraton Mataram Surakarta (iMNews.id, 20/12/2022).

FRAGMEN KETOPRAK : Menutup empat sajian yang disuguhkan berturut-turut di ajang event “Pekan Seni Budaya dan Ekraf Hari Jadi 91 Tahun Pakasa” malam keempat Selasa malam tadi (20/12/2022), Kontingen Pakasa Cabang Klaten mempersembahkan fragmen ketoprak dengan lakon “Randa Kuning”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Kalau ada yang menyebut saya dan semua elemen pengikut menduduki kraton, mbok coba dipkir lagi dan dipahami latarbelakangnya secara urut dan waras. Saya kembali masuk kraton, karena ini adalah hak pribadi saya sebagai anak ke-25 (putridalem) Sinuhun PB XII. Hak kami semua yang peduli dan sadar punya tugas dan kewajiban untuk melestarikan budaya Jawa yang bersumber dari kraton. Hak kami semua untuk menjaga tetap tegaknya adat peninggalan leluhur Dinasti Mataram. Hak kami untuk menjaga kelangsungan atau eksistensi Kraton Mataram Surakarta, sebagai tanggungjawab dan tugas meneruskan agar tetap lestari sepanjang zaman,” tegas GKR Wandansari Koes Moertiyah yang akrab disapa Gusti Moeng, baik sebagai Ketua LDA maupun Pengageng Sasana Wilapa, saat memberi penjelasan atas pertanyaan para awak media di halaman Pendapa Sasana Sewaka, Selasa siang (iMNews.id, 20/12).

Malam nanti, evenet “Pekan Seni Budaya dan Ekraf Hari Jadi 91 Tahun Pakasa” terus berlanjut dengan penampilan “pethilan” tari “Gatutkaca Gandrung” persembahan Pakasa Cabang Sragen, seusai pembukaan dan bersama-sama menyanyikan lagu “Indonesia Raya”. Setelah itu,  sajian tari “Golek Srirejeki” dan dilanjutkan tari ” Bandayuda” sebagai persembahan Sanggar Tari BSAJ Solo. Sore sebelumnya, dalam rundown acara dari panitia tidak menyebutkan adanya sajian kesenian rakyat alias “nihil”. Begitu juga pada Kamis besok (22/12/2022), malah libur alias tidak ada kegiatan pentas sama sekali, karena menjelang Jumat menjadi hari pantangan bagi kraton untuk melakukan aktivitas khususnya “seni”. (won-i1)    

Leave a Reply