Jumat, 3 Desember 2021
Budaya Pakasa Sidoarjo Tutup Tahun 2020 Dengan Menari

Pakasa Sidoarjo Tutup Tahun 2020 Dengan Menari

Baca Juga

Seakan tak Mengenal Lelah, Terus Bergerak Memimpin Upaya Pelestarian Budaya

Belum Selesai Menggelar Hari Jadi Pakasa, Sudah Diselingi Ritual Mahesa Lawung SOLO, iMNews.id – Seakan tak mengenal lelah, belum selesai...

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

Wakil Wali Kota : “Kalau Tidak Mau Dihormati, ya………..”

Sumbang Rp 5 Juta untuk Pekan Seni 90 Tahun Pakasa SOLO, iMNews.id – Pembukaan Pekan Seni dan Ekraf (Ekonomi Kreatif)...
~Pariwara~

Sosialisasi Eksistensi Pakasa yang Baru Terbentuk Awal Desember

SIDOARJOsmnusantara.com – Warga Paguyuban Kulawarga Keraton ”Mataram” Surakarta (Pakasa) Cabang Sidoarjo (Jatim), menggelar event bertajuk ”Sidoarjo Menari” di sebuah mal terkenal di Kota Surabaya, Selasa (29/12) mulai pukul 17.– hingga 21.00 WIB. Ada beberapa tarian garapan baru yang berbasis repertoar tari tradisional Jawa yang disajikan 30-an penari anggota Sanggar Tari Rizky Budoyo pimpinan KMT Niswarini Budoyoningrum yang juga Ketua Pakasa Cabang kabupaten setempat.

Menurut pimpinan sanggar tari dan modelling yang terlahir dengan nama Rizki Niswarini Utami itu, event yang digelar di tengah suasana pandemi Corona itu, hanya untuk sosialisasi kepada khalayak luas utamanya masyarakat kabupaten dan sekitarnya, bahwa Pakasa Cabang Sidoarjo sudah ada dan eksis, kepengurusannya juga sudah terbentuk sejak awal Desember lalu.

”Jadi, ada beberapa hal yang ingin kami capai dengan event Sidoarjo Menari ini. Selain memperkenalkan organisasi Pakasa Cabang Sidoarjo, kami juga ingin mengajak kalangan generasi muda untuk mencintai seni budaya milik kita sendiri yang bersumber dari budaya Jawa”.

”Maka, kami menggelar event itu di Atrium Royal Plasa, salah satu mal terkenal di sini. Agar kaum milenial yang biasa jalan-jalan ke mal, mengenal kekayaan budaya asli Indonesia yang harus dilestarikan,” pinta pemilik sanggar yang bermarkas di Desa Pandean, Banjar Kemantren itu, menjawab pertanyaan smnusantara.com, tadi siang.

Baca Juga:

Wawancara melalui nomer WAnya, lebih lanjut KMT Niswarini atau KMT Rizky itu menyebut, pergelaran 10 tarian dan peragaan busana oleh beberapa model cantik anggota sanggar, merupakan puncak dari kegiatan ”Bincang UMKM 2021” yang digelar atas kerjasama berbagai pihak setempat. Event ”Sidoarjo Menari”, merupakan puncak acara untuk memperkenalkan Pakasa, Sanggar Riszky Budoyo dan mengajak kalangan kawula muda untuk kembali mencintai seni budaya Jawa dan melestarikannya.

FRAGMEN LUDRUK : Sebuah adegan dalam fragmen ludruk dengan lakon ” Sarip Tambakyoso”, melibatkan sejumlah penari anggota Sanggar Rizky Budoyo dan anggota Pakasa Cabang Sidoarjo, dalam event ”Sidoarjo Menari” di atrium Royal Plasa, Surabaya, Selasa (29/12) sore hingga malam.(foto :smnusantara.com/dok)

Masih Zona Merah

Seperti diberitakan Satgas Nasional Penanggulangan Covid 19, hingga kini Jatim memang masih masuk zona merah pandemi Corona, namun event itu bisa terwujud karena pelaksanaannya disesuaikan dengan aturan protokol Covid 19. Selain pelibatan penyaji hanya sekitar 30 orang, penonton yang hadir di plasa itu juga dibatasi jumlah serta aturan protokol kesehatan lainnya.

”Semua penari kami haruskan mengenakan masker full face tembus pandang itu. Begitu pula, saat sajian peragaan busana. Semua modelnya harus mengenakan masker serupa. Saya lihat, yang nonton di lantai atas dan bawah paling hanya 30-an orang. Jadi, kami betul-betul memperhatikan aturan itu. Dan semua, alhamdulillah sukses”, ujar mantan siswa SMKI yang kemudian menjadi SMKN 12 Surabaya 30-an tahun silam.

KMT Rizky, mendapat paringdalem gelar sesebutan dari LDA Keraton Mataram Surakarta, karena alasan kecintaannya dalam melestarikan budaya Jawa. Walaupun, dalam cara-cara mengedukasi kalangan siswa sanggarnya, menggunakan bentuk-bentuk perpaduan antara unsur tradisional dan unsur modern atau yang akrab dengan dunia kaum milenial.

Oleh sebab itu, banyak sajian tari yang digelar merupakan bentuk perpaduan antara unsur tradisi dan modern, seperti tarian Saman Ratoe Jaroe, tari Keris Bali, tari Putri Batik Jenggolo, tari Yuk Kupang Sidoarjo dan fragmen ludruk ”Sarip Tambakyoso”. Baru ketika disajikan geguritan, terasa sekali kekuatan unsur tradisional (sastra) Jawanya. (won)  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini

Seakan tak Mengenal Lelah, Terus Bergerak Memimpin Upaya Pelestarian Budaya

Belum Selesai Menggelar Hari Jadi Pakasa, Sudah Diselingi Ritual Mahesa Lawung SOLO, iMNews.id – Seakan tak mengenal lelah, belum selesai...

More Articles Like This