Meneladani Para Leluhurnya, Sinuhun PB XIV Akan “Lerem” di Kraton Kulon

You are currently viewing Meneladani Para Leluhurnya, Sinuhun PB XIV Akan “Lerem” di Kraton Kulon
BERSHALAWAT BERSAMA : Sinuhun PB XIV Hangabehi, Gusti Moeng dan Gusti Ayu tampak bershalawat bersama para sentana-dalem serta berbagai elemen masyarakat yang hadir pada khol Sinuhun PB XII di Pendapa Sitinggil, Minggu siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Disampaikan Dalam Ritual Khol ke-14 Sinuhun PB XII, Siang Tadi

SURAKARTA, iMNews.id – Sambil “berbagi ruang” dan mengawasi jalannya pelaksanaan proyek revitalisasi yang akan mulai digarap, Senin (5/6) besok, Sinuhun PB XIV akan “lerem” atau menumpang tinggal di ndalem Kraton Kulon. Tempat tinggal para (raja) pemimpin Dinasti Mataram Surakarta di kawasan barat atau belakang Pendapa Sasana Sewaka itu, sudah dilakukan sejak Sinuhun PB IV.

“Jadi, sudah ada pembicaraan dan kesepakatan, Sinuhun (PB XIV Hangabehi) nanti akan ‘lerem’ di ndalem Kraton Kulon. ‘Lerem’ di sana bisa sambil ngawasi proyek revitalisasi yang akan dikerjakan mulai Senin besok. Sebetulnya bukan soal ada  revitalisasi itu, tetapi sambil ditata ndalem di sana ditinggali. Sinuhun PB XII lama lerem di sana, yang dimulai Sinuhun PB IV,” ujar Gusti Moeng berkisah.

Lumayan panjang-lebar Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA itu bertutur tentang beberapa hal, dalam sambutan tunggal di akhir upacara adat khol peringatan wafat ke-14 Sinuhun PB XII di Pendapa Sitinggil Lor, Minggu (4/10) siang tadi. Ritual khol yang digelar Bebadan Kabinet 2004 itu, dihadiri sekitar 400 orang dari berbagai elemen masyarakat adat, termasuk yang “diwisuda” pagi sebelumnya.

Rangkaian upacara adat spiritual religi khol Sinuhun PB XII yang dimulai menjelang pukul 12.00 WIB siang tadi, suasananya mirip dengan ritual serupa di tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, yang berlangsung siang tadi lebih kelihatan suasana hebohnya karena di sekitarnya, baik sepanjang jalan Supit-Urang maupun yang melingkari Alun-alun Lor menjadi rute peziarah haul Habib Ali Al Habsyi.

MEMENUHI PENDAPA : Walau para wisudawan banyak yang absen, tetapi dari yang habis diwisuda dan utusan beberapa cabang Pakasa, sudah memenuhi Pendapa Sitinggil Lor saat khol Sinuhun PB XII didigelar Pendapa Sitinggil, siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ritual haul Habib Muhammad Ali Al Habsyi yang dipusatkan di Masjid Riyadh, Jalan Kapten Mulyadi, Pasar Kliwon, memang selalu hampir bersamaan karena hanya selisih 1 hari. Maka, 3 hari agenda haul yang berpusat di Masjid Riyadh yaitu 2-4 Oktober 2026 ini, terkesan menjadi satu dan semakin “meriah” karena agenda haul Sinuhun PB XII jatuh Minggu, 4 Oktober, yang lokasinya sangat berdekatan.

Karena hampir semua kawasan kraton disiapkan untuk segera ditutup karena pekerjaan fisik proyek revitalisasi akan dimulai Senin (5/10) besok, maka kegiatan khol Sinuhun PB XII terpaksa digelar di luar bangunan utama, biasanya di gedhong Sasana Handrawina. Dan Pendapa Sitinggil Lor yang berada di dalam jalan lingkar Supit-Urang, seakan berbaur dengan para peziarah Masjid Riyadh.

Lalu-lintas di jalan lingkar itu sempat beberapa kali macet, karena ribuan peziarah haul Habib Muhammad Ali Al Habsyi yang menggunakan mobil kecil dan motor serta pejalan kaki menggunakan rute itu untuk mencapai lokasi masjid di sisi timur kraton. Sementara, para abdi-dalem elemen Pakasa cabang dari berbagai daerah di luar kota, juga berdatangan padi waktu bersamaan, pagi tadi.

“Untuk kali ini, khol Sinuhun PB XII terpaksa digelar di Bangsal Sewayana Pendapa Sitinggil Lor ini. Kebetulan, tanggalnya hampir bersamaan. Haul Habib Ali Al Habsyi hari ini, Sinuhun PB XII juga hari ini. Mudah-mudahan, kalau revitalisasinya sudah rampung, bisa digelar di dalam kraton lagi. Kalau lancar, Februari (2027) proyek revitalisasi sudah selesai,” jelas Gusti Moeng lagi.

JADI PRIORITAS : Suami GRAy Putri Purnaningsih, menjadi salah satu prioritas menempatkannya di jajaran daya dukung potensian Sinuhun PB XIV Hangabehi. Ia diwisuda dengan gelar baru KRMH Rizki Baruna, dari sebelumnya berpangkat “KRA”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Minggu pagi hingga siang tadi, kraton sibuk karena ada dua upacara yang sekaligus digelar berurutan di awal era Sinuhun PB XIV Hangabehi ini. Peristiwa itu tentu menjadi jenis peristiwa perdana, apalagi paginya mulai pukul 08.00 WIB digelar upacara wisuda abdi-dalem dan sentana-dalem, siangnya dilanjutkan khol Sinuhun PB XII. Ada 400-an abdi-dalem dan sentana-dalem yang diwisuda.

Dari 400-an yang diwisuda, tidak semuanya bisa hadir karena berbagai hal. Baik 300-an abdi-dalem yang diwisuda di Bangsal Smarakata, maupun 30-an sentana-dalem yang diwisuda di Bangsal Kasentanan atau Sidikara. Tetapi, ada yang menarik dicermati, yaitu dari yang diwisuda tampak abdi-dalem ulama RT Irawan Wijaya Pujidipuro naik menjadi “KRT”, KRT Dr Joko Daryanto naik menjadi “KRAT”.

Sementara, di Bangsal Sidikara juga banyak yang menarik karena unsur tokoh yang diwisuda KPH Bimo Djoyo Adilogo dan ditunggui Gusti Moeng itu. Karena di sana ada dalang terkenal Ki Purbo Asmoro yang naik dari Mas Ngabehi (MNg) belasan tahun lalu, kini menjadi “KRA” (Kanjeng Raden Aryo). Beberapa seniman dalang terkenal lain seperti Ki Muh Pamungkas Bayuaji dan Ki Amar Pradopo tidak hadir.

Yang menarik lagi, adik ipar Sinuhun PB XIV atau suami GRAy Putri Purnaningrum yaitu KRA Rizki Baruna, diwisuda naik gelarnya menjadi KRMH Rizki Baruna. Demikian pula putra tunggal GKR Sekar Kencana (almh) yang bernama KRMY Suryo Manikmoyo, diwisuda naik menjadi KPH Ruryo Manikmoyo. Ia adalah tokoh muda yang kini mendampingi Sinuhun PB XIV, bersama para wayah-dalem lain dalam kerja adat.  

UNSUR SENIMAN : Dalang terkenal Ki Purbo Asmoro adalah salah satu unsur seniman dari luar yang mendapat perhatian kraton di era Sinuhun PB XIV Hangabehi ini. Sebelumnya punya gelar Mas MNgabehi (MNg), siang tadi dinaikkan menjadi “KRA”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Jalannya khol Sinuhun PB XII di Pendapa Sitinggil Lor, termask lancar walau sedikit terlambat dimulainya, karena upacara wisuda sentana dan abdi-dalem yang lebih dulu juga mundur. Doa, tahlil dan dzikir, shalawat Sultan Agungan dan syahadat Qurez bergema dipimpin abdi-dalem KRT Irawan Wijaya Pujodipuro. Begitu menginjak syahadat Qurez, Gusti Moeng memberi aba-aba Sinuhun PB XIV hadir.

Menunggu sejenak saat Sinuhun PB XIV Hangabehi duduk di kursi yang sudah disediakan, lalu dilanjutkan bagian akhir rangkaian doa, tahlil dan dzikir itu. Apalagi, doanya jatuh di urutan paling belakang, sehingga memberi pemandangan yang masih langka, karena pemimpin baru Dinasti Mataram Surakarta bersama-sama semua elemen masyarakat adatnya tampak kompak seirama dan khusuk dalam doa.

Hal paling menarik dari jalannya khol Sinuhun PB XIV Hangabehi itu, adalah isi sambutan Gusti Moeng yang langsung didengar Sinuhun Dan segenap elemen masyarakat adatnya. Selain soal tempat “palereman”, Gusti Moeng mengulas soal peran tokoh yang sedang diperingati haulnya, yaitu Sinuhun PB XII. Ia mengajak semua masyarakat adatnya, agar memahami ketokohan Sinuhun saat lahirnya NKRI.

“Penjenengan semua harus tahu, bahwa Sinuhun PB XII adalah raja atau pemimpin negara Mataram Surakarta yang pertama kali mendukung kemerdekaan RI atau lahirnya NKRI. Beliau yang pertama kali menyatakan menggabungkan nagari Mataram Surakarta ke dalam NKRI. Karena, dalam Piagam Kedudukan yang diterbitkan (NKRI) kali pertama (1 September 45) adalah untuk Surakarta, sebagai Daerah Istimewa”.

PRIORITAS UTAMA : Abdi-dalem juru-suranata RT Irawan Pujodipuro, adalah satu di antara beberapa tokoh yang mendapat prioritas dinaikkan pangkatnya menjadi “KRT” dalam wisuda 400-an abdidalem dan sentana-dalem di kraton, siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Tetapi, saat awal pemerintahan NKRI dilanda krisis politik oleh kelompok kiri, pemerintah menerbitkan Perpres No 16 SD (Sangat Darurat) tahun 1946. Isinya, untuk sementara waktu status Daerah Istimewa Surakarta diambil-alih Pemerintah Pusat. Bukan dibatalkan, bukan dibubarkan atau bukan dibekukan. Jadi, sampai sekarang sudah 81 tahun ini, NKRI (pemerintah) masih punya utang kepada kita”.

“Bener napa mboten?. Kita wajib menagih, leres napa mboten?. Kita harus terus menagih utang itu, leres mboten? Mangga Sinuhun, hoyag-hoyag supados status Daerah Istimewa Surakarta dikembalikan. Iki ora provokasi lo… Iki mung ojok-ojok sithik. Sekarang, soal Sinuhun sing bener, ya sing eneng tengenku iki ta ya. Yen eneng cah cilik ngaku-ngaku Sinuhun, wani dites (DNA) apa ora?,” tantang Gusti Moeng lagi. (won-i1)