Tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi, Bangkitnya Cabang-cabang Seni di Kraton (seri 1-bersambung)

  • Post author:
  • Post published:October 5, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi, Bangkitnya Cabang-cabang Seni di Kraton (seri 1-bersambung)
PEMIMPIN BARU : Tampilnya sosok pemimpin baru, Sinuhun PB XIV Hangabehi, memberikan sinyal kuat sebagai momentum kebangkitan cabang-cabang seni khas Kraton Mataram Surakarta. Inilah momentum yang ditunggu-tunggu publik. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ada Tanda Gerak Kehidupan Nyata di Awal Era Pemimpin Baru  

IMNEWS.ID – DALAM dua malam berturut-turut Sabtu-Minggu (3-4/9/2026) selepas pukul 20.00 WIB, di Bangsal Smarakata ada kesibukan kecil beberapa abdi-dalem seniman. Pemandangan yang dua kali iMNews.id cermati, kesibukan itu diawali diskusi kecil beberapa tokoh penting, sambil menyimak sebuah buku ukuran besar. Setelah 5 menit kemudian, kendang memberi “ada-ada” gamelan lengkap ditabuh.

Kira-kira seperti itu metode berlatih yang diterapkan sang instruktur, yang tak lain adalah Ki KRT Dr Bambang Suwarno SKar. Ia lalu berbalik menghadap “kelir” sambil “ndhodhog” kotak, untuk sebagai aba-aba gendhing karawitan iringan adegan “budhalan” ditabuh. Ki KRT Suwito, abdi-dalem seniman pengendang senior berpengalaman, selalu mengikuti arahan dan keinginan dalang sepuh profesional itu.

MASIH ADA : Walau dunia seni pakeliran wayang kulit sedang mengalami “krisis” hebat di bidang ketokohan yang punya komitmen tinggi pada esensi jatidiri kesenian itu, tetapi masih ada sosok Ki KRT Dr Bambang Suwarno yang peduli. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam metode berlatih seperti itulah, Ki KRT Suwito dan belasan seniman karawitan abdi-dalem Reh Lembisana Keparak Mandra Budaya memberikan respon menabuh gamelan iringan pertunjukan wayang kulit purwa. Di saat-saat yang dimaksud Ki KRT Dr Bambang Suwarno menunjukkan tahapan metodenya, Ki KPH Dr Raditya Lintang Sasangka juga menyimak buku catatan struktur lakon dan iringan.

Karena sudah memasuki saat “action” (berlatih), maka Ki KRT Dr Joko Daryanto lalu pindah di tempatnya “menabuh kecer”. Dosen di FKIP UNS ini adalah penyusun skenario rangkaian konser 13 gamelan yang digunakan untuk iringan upacara adat “njangkepi jumenengan-nata”, Sabtu (5/9). Dia, adalah satu dari tiga tokoh penting yang menjalankan metode “gladen ringgit wacucal”, dalam dua malam itu.

BERSINERGI BERSAMA : Ki KRT Dr Bambang Suwarno, Ki KRT Dr Joko Daryanto dan Ki KPH Dr Raditya Lintang Sasangka, bersinergi bersama membangkitkan seni wayang gagrag Surakarta khas kraton yang telah lama “hilang” dari ruang publik. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Gladen sabet” dan keseluruhan urutan struktur pentas “ringgit wacucal” di Bangsal Smarakata itu, sudah dilakukan beberapa kali sebelumnya. Ki KRT Dr Joko Daryanto menjadi mitra solid dengan Ki KRT Dr Bambang Suwarno, untuk menyusun iringan pentas wayang kulit yang tepat bagi Ki KRT Dr Raditya Lintang Sasangka yang akan diagendakan tampil “mayang” (mendalang) menyajikan lakon “Dewa Ruci”.

Karena agenda pentas wayang kulit klasik konvensional “gagrag” Surakarta khas Kraton Mataram Surakarta masih agak jauh, sesi “gladen” di Bangsal Smarakata juga masih panjang, dalam beberapa malam lagi tergantung kesepakatan di antara para petugasnya, terutama tiga tokoh itu. Bahkan ada kabar, Sinuhun PB XIV akan ikut berlatih, walau dari tahap paling mendasar, yaitu “mucuki bedhol kayon”.

NYAWA PAKELIRAN : Para abdi-dalem mengusung satu kotak wayang dari tempat penyimpanannya, gedhong Lembisana. Di tempat itulah, “nyawa” seni pakeliran gaya kraton terjaga aman tetapi lama sekali “tidak tampak hidup”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Karena latihannya di Bangsal Smarakata, sepasang gamelan yang dipakai adalah gamelan pusaka Kiai Sukasih dan Kiai Pamedarsih. Ki KRT Dr Joko punya kesan tersendiri untuk gamelan kuno berukuran kecil, tetapi punya kadar suara luar biasa dan sudah mapan menjadi ikon Bangsal Smarakata. Sedangkan wayang yang digunakan latihan, bernama “wayang para”, khusus dipakai untuk berlatih/gladen.

Ki KPH Dr Raditya Lintang Sasangka, adalah cucu Sinuhun PB X yang karena sejak kecil tak pernah jauh dari lingkungan berkesenian di kraton, hingga kini sibuk sebagai dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNS, tetap cinta dan makin “expert” sebagai seniman karawitan, apalagi tari khas kraton. Bahkan, sudah beberapa kali, ia tampil menjadi dalang pada pentas wayang khusus di kraton.

PANDEMEN BERAT : Dalang senior terkenal Ki KRT Dr Bambang Suwarno adalah pensiunan dosen ISI Surakarta, yang punya kecintaan atau “pandemen” berat terhadap koleksi wayang pusaka dan seni pedalangan di kraton. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Di sela-sela suasana “gladen” wayang kulit dalam dua malam berlatih sajian struktur lengkap lakon “Dewa Ruci” itu, ada suami GRAy Putri Purnaningrum atau adik ipar Sinuhun PB XIV Hangabehi yang bernama KRMH Rizki Baruna. Ternyata, dia adalah tokoh yang bertanggung-jawab sebagai “tindhih abdi-dalem” Lembisana Kadipaten Keparak Mandra Budaya. Dia mengisi kekosongan yang sudah begitu lama.

Pelan-pelan, ada dinamika yang sedang berjalan dalam struktur Bebadan Kabinet 2004 sejak menjelang Sinuhun PB XIV Hangabehi “jangkep jumeneng-nata”. GRAy Putri diberi tugas sebagai “tindhih abdi-dalem” Bedhaya, sementara suaminya, KRMH Rizki mengisi kekosongan satu dekade terakhir di lembaga “Reh Lembisana”. Tanda “kehidupan” di kraton, adalah bagian dari kebangkitan di era pemimpin baru. (Won Poerwono-bersambung/i1)