Mengapa Data Informasi Sejarah Banyak Mengungkap Sisi Konfliknya? (Seri 2-habis)

  • Post author:
  • Post published:October 3, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Mengapa Data Informasi Sejarah Banyak Mengungkap Sisi Konfliknya? (Seri 2-habis)
LEBIH BERMANFAAT : Seandainya naskah-naskah berisi pengetahuan herbal jejamuan diprioritaskan digitalisasi dan kemudahan aksesnya, mungkin lebih bermanfaat. Tetapi, ini menjadi tantangan industri farmasi dan industri penerbitan buku. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Menciptakan Konflik, Berarti Perluasan Pasar, Ciri Kapitalisme Liberal

IMNEWS.ID – SISI kurang menguntungkan ketika data-data informasi sejarah hanya tersimpan di ruang pemiliknya, yang sulit bahkan tidak bisa diakses setiap orang atau publik secara luas. Itu berarti, data informasi tentang aset koleksi tangible dan intangible tersebut hanya digunakan oleh komunitas tertentu di lingkungan terbatas, untuk kepentingan menjaga kelangsungan entitas komunitas itu.

Ketika data informasi pengetahuan bersejarah dari peradaban masa lalu berada dalam posisi seperti itu, maka itu berarti memiliki nilai sangat tinggi bagi entitas komunitas tersebut. Ketika publik di luar entitas komunitas itu ingin mengetahui karena merasa punya kesamaan etnik dan berbagai alasan lain, maka dicari cara (teknologi) untuk mengaksesnya, untuk memudahkan mengetahuinya.

Sampai di situ, data informasi berbagai pengetahuan bersejarah peninggalan para leluhur peradaban masa lalu itu masih memiliki fungsi dan makna ideal (mulia), mengedukasi, mencerdaskan, memberi “kesejahteraan” dan “kemakmuran”. Sampai di sini, yang dianggap kurang menguntungkan berubah menjadi bermanfaat walau belum merata. Dari sudut pandang lain, suasana seperti itu tetap tidak menguntungkan.

Anggapan atau cara berpikir berdasarkan kalkulasi matematis, apalagi ketika ada latar belakang pengaruh kapitalisme liberal, pasti tegas menganggap model berbagi data informasi seperti itu jelas tidak menguntungkan. Karena, dianggap tidak sesuai dengan kaidah ekonomi yang menempatkan nilai barang sebagai modal, dan memposisikan pemilik informasi sebagai penjual (pedagang/produsen).

BEBERAPA GELINTIR : Sasana Pustaka Kraton Mataram Surakarta tinggal memiliki beberapa gelintir SDM yang sudah sibuk melayani berbagai kebutuhan pengunjung. Ketersediaan data terjemahan dan mata rantainya semakin terbatas. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam mata rantai ekonomi bisnis, data informasi itu menjadi komoditas bernilai ekonomis. Agar dikenal lalu dibeli oleh para pengguna, perlu promosi/pemasaran untuk menciptakan dan ekspansi (perluasan) pasar. Digitalisasi naskah-naskah di Sasana Pustaka, dimaksudkan agar data-data informasi pengetahuan tangible dan intangible tersaji dalam bentuk softwere, mudah diakses melalui internet.

Sampai di situ, mungkin dari satu sisi masih bisa dianggap “menguntungkan” bagi publik secara luas di luar entitas komunitas. Tetapi, ketika proses mengakses harus menggunakan HP, laptop (komputer), flashdisk, wifi dan berbagai peralatan teknis pendukung, di situlah letak nilai ekonomi yang harus dibayar sebagai biaya proses. Berikut, pulsa bernilai ekonomi sangat tinggi menjadi penentunya.

Proyek digitalisasi naskah-naskah Sasana Pustaka yang dibiayai British Library, di satu sisi menjalankan “amanat” para leluhur bahwa semua “pusaka” yang diwariskan bisa dimanfaatkan untuk “hamemayu-hayuning bawana” dan “karya nak-tyasing sasama”. Walaupun, sebenarnya disertai/dilengkapi “pitutur luhur” eksekusinya berbunyi “Mangisis eseming budi” dan “Memasuh memalaning jagad”.

Dalam rangkaian semua kata bijak kearifan Budaya Jawa itu, tak sepatah katapun dari berbagai pengetahuan “tangible dan intangible” itu menunjuk pada nilai ekonomis atau konsekuensi biaya yang harus dibayar untuk mewujudkan tatanan dunia, minimal di wilayah etnik atau Tanah Air. Tetapi, kata bijak “Jer basuki mawa bea” itu yang menegaskan, bahwa setiap keinginan ada biayanya (harga).

ASTRONOMI TRADISI : Sama-sama mengurus bidang astronomi, tetapi astronom tradisi yang lahir dari Kraton Mataram Surakarta punya spesifikasi sesuai kondisi alam negaranya, yang beda jauh dengan astronom barat. Ini adalah aset. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Walau di wilayah yang mulai ada unsur-unsur bernilai ekonomis, tetapi dalam konsep keseimbangan Budaya Jawa tak ada yang secara tegas meletakkan nilai ekonomis dalam setiap gagasan, pemikiran, gerak dan kebendaan yang dikuasai dan dimiliki. Karena, ada mekanisme kontrol diri dan sosial di dalam entitas komunitas Budaya Jawa, yaitu etika dan estetika “sak madya” atau “poma-poma”.

Tata-nilai dalam Budaya Jawa itulah yang menjadi ukuran dalam praktik apa saja, termasuk ketika semua naskah sudah didigitalkan dan siap “dikonsumsi” publik melalui HP/laptop/komputer. Saat beberapa perangkat itu baru bisa bekerja jika terpasang wifi yang membayar biaya langganan sambungan internet, atau membeli pulsa, maka nilai bisnis muncul saat mengakses data informasi naskah tersebut.

Begitu kegiatan mengakses data informasi naskah Sasana Pustaka harus diperoleh dengan memasang wifi atau membeli pulsa, maka proyek digitalisasi itu memasuki wilayah nilai ekonomi sebagai ekspansi bisnis informasi pemilik usaha internet. Perkembangan ekonomi bisnis di Tanah Air yang melindas habis ciri ekonomi “Tuna sathak, bathi sanak”, jelas karena pengaruh kapitalis industri liberal.

Kalau naskah-naskah aset koleksi Sasana Pustaka memasuki jaringan internet yang menjadi bagian industri informasi, pendukung ekonomi kapitalis liberal, pelan-pelan berbagai pengetahuan yang lahir dari naskah-naskah itu juga akan menjadi komoditas bernilai ekonomi bisnis. Misalnya pengetahuan teknik konstruksi masjid khas Jawa, ramuan herbal, kriya keris, gamelan, karawitan dan lainnya.

TATA-BUSANA : Pengetahuan tentang tata-busana dan paes pengantin Jawa gagrag Surakarta, punya pedoman naskah manuskrip baik soal peralatan, penggunaan dan kegunaannya. Pengetahuan ini lebih membanggakan dari pada konfliknya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dan digitalisasi yang dialami naskah-naskah Sasana Pustaka itu, terjadi jauh  sesudah sisi “tabu” (negatif) sejarah perjalanan kraton-kraton di Jawa habis-habisan, dieksploitasi para ilmuwan barat dan jaringan ekonomi kapitalis liberalnya. Merekalah yang lahir ke dunia ditakdirkan menguasai segala macam ilmu pengetahuan hasil olah pikir dan nalarnya, termasuk teknologi informasi.

Dengan menguasai teknologi informasi berbasis ekonomi bisnis, maka bangsa-bangsa timur termasuk Tanah Air, belakangan “tersadar” telah tertinggal. Bahwa pengetahuan yang lahir dari “olah rasa” (kebatinan/religi), ternyata butuh “peralatan”, produk bangsa barat. “Jer basuki mawa bea” lalu dimaknai begitu longgar, yaitu memperoleh keuntungan dengan mengiris secuil label identitasnya.

Walau opini publik secara luas sudah terbentuk menjadi sebuah keyakinan tentang konstelasi politik tentang citra buruk kerajaan-kerajaan di Jawa, tetapi ketika  pengetahuan tentang nilai-nilai positif, bermakna dan bermanfaat dari naskah-naskah Sasana Pustaka sudah bisa diakses, tentu akan memberi keseimbangan. Walau tidak benar-benar seimbang (setara), tetapi bisa merubah stigma publik.

Yaitu, stigma publik yang apriori dan selalu menganggap buruk apa saja dan semua yang berbau sejarah kraton-kraton di Jawa, apalagi bila berkait Dinasti Mataram, termasuk Mataram Surakarta. Termasuk munculnya stigma bahwa berbicara tentang sejarah (Mataram), hanya mengenang romantika masa lalu. Ini jadi ironis, karena unsur konfliknya lebih menonjol, dominan dan bernilai bisnis tinggi.

KULINER KHUSUS : Sasana Pustaka menyimpan naskah berisi rangkaian kuliner khusus untuk berbagai upacara adat. Pengetahuan ini sangat spesifik, penuh keindahan dan kedamaian, dibanding sisi konflik yang memecah-belah kekerabatan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Tetapi sampai kapanpun, unsur konflik dalam perjalanan kraton-kraton di Jawa itu selalu akan mudah muncul, mudah ditonjolkan dan dominan, karena mereka menguasai teknologi informasi dan materi informasi yang banyak dihasilkan para penulisnya. Opini yang hanya berdasar pengalaman empiris sudah terbentuk karena bisa dipelihara dengan teknologinya, sementara pembandingnya sangat lemah.

Data informasi dari naskah-naskah Sasana Pustaka bisa menjadi penyeimbang opini itu, tetapi sangat sedikit figur yang bisa menjelaskan kata demi kata dan makna serta suasana yang tersirat di balik kalimat naskah atau peristiwanya. Padahal, dengan mengetahui yang sebenarnya terjadi di belakang layar, sangat membantu pemahaman terhadap peristiwa yang biasanya ada di balik naskah manuskrip itu. (Won Poerwono-habis/i1)