Sekaten Garebeg Mulud yang Bisa Melahirkan Banyak “Makna”
IMNEWS.ID – PELAKSANAAN upacara adat hajad-dalem Sekaten Garebeg Mulud Tahun Be 1960 di tahun 2026, akan menjadi peristiwa yang bisa dimaknai banyak hal sebagai bagian perjalanan sejarah Kraton Mataram Surakarta. Tetapi bisa juga menjadi penanda perjalanan sejarah bagi publik secara luas di lingkungan Kota Surakarta, atau skala lebih besar, karena peristiwanya bisa dirasakan seluruh bangsa ini.
Pertama, pelaksanaan ritual Sekaten Garebeg Besar yang nyaris bersamaan dengan proses revitalisasi sebagian besar dari seluruh kawasan kraton yang luasnya 92 hektare itu, tentu akan menjadi makna tersendiri. Misalnya makna “politis” dari kualitas “hubungan” kraton dan penguasa saat dua alun-alun direvitalisasi di era Presiden ke-7, maupun ketika hubungan antara keduanya saat era Presiden ke-8.

Kedua, pelaksanaan ritual peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW di Tahun Be 1960 yang masuk tahun 2026 ini, bisa dimaknai sebagai ritual Sekaten Garebeg Mulud “perdana” bagi masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta, di era kepemimpinan Sinuhun PB XIV Hangabehi. Ritual perdana yang bisa disebut sebagai “karya” sang pemimpin baru itu, juga bisa dimaknai sebagai karya Bebadan Kabinet 2004.
Ketiga, upacara adat Sekaten Garebeg Mulud tahun 2026 bisa dimaknai sebagai ritual yang berada dalam suasana kemelut akibat proses pergantian tahta yang “tak berjalan baik-baik” saja. Proses pergantian tahta yang diwarnai gejolak sebagian kecil masyarakat ada di dalamnya, yang “bereksperimen” untuk merebut “kekuasaan” dengan cara “melanggar” yang tak bisa dibenarkan oleh alasan dan aturan apapun.

Keempat, ritual Sekaten Garebeg Mulud tahun 2026 ini bisa dimaknai sebagai ritual yang punya dukungan “semangat” sangat berbeda dengan Sekaten di tahun-tahun dan dekade sebelumnya. Karena, Sekaten kali ini di satu sisi memanfaatkan ruang yang tersedia, tetapi di sisi lain salah satu ruang itu punya riwayat yang “tak jelas” status hukum adiministratifnya setelah direvitalisasi di zaman Presiden ke-7.
Kelima, Sekaten Garebeg Mulud 2026 bisa dimaknai sebagai lahirnya semangat baru dalam hubungan kemitraan dan simbiosis antara kraton dan pemerintah lebih tegas dan terang-terangan dibanding era-era kekuasaan negara sebelumnya. Karena, kraton terkesan menemukan “mitra” dan “pengayoman” ideal di era kepemimpinan Presiden ke-8 ini, yang bisa dilihat dari kebersaman di berbagai “media” dan kesempatan.

Keenam, Sekaten Garebeg Mulud 2026 menunjukkan semakin terbukanya celah-celah kelemahan dan kurangnya harmonis hubungan kraton dengan pemerintah di berbagai lini akibat berbagai peristiwa di masa lampau. Pergantian tahta di tahun 2004 yang “menurun” ke tokoh “siluman penerusnya”, diakui atau tidak, telah membuat hubungan pemerintah di berbagai lini khususnya “Pemkot” tidak baik-baik saja.
Melalui Sekaten Garebeg Mulud 2026 ini, bisa dimaknai sebagai momentum bagi kraton dan di berbagai lini pemerintah yang menjalankan negara, untuk menata-ulang hubungan yang sudah diteladankan oleh Kemenbud RI. Hubungan ini bahkan bisa dijadikan standar baku untuk para pemimpin (presiden) ke depan, karena kemitraan dan simbiosis yang dicapai mulai mewujudkan rasa keadilan yang selama ini dicari.

Ketujuh, Sekaten Garebeg Mulud 2026 juga bisa dimaknai akan “kembalinya” suasana kondusif, tenang, nyaman dan menenteramkan seperti saat suara “jenggleng” gamelan Kiai Guntur Madu kali pertama terdengar di Sekaten sebelum 2017 dan pada dekade-dekade sebelumnya. Publik secara luas akan memaknai, Sekaten kali ini sudah tidak perlu lagi diawali insiden “berebut” memberi “dhawuh” untuk “menabuh” gamelan.
Banyak pihak tentu setuju untuk memaknai Sekaten Garebeg Mulud 2026 tanpa atraksi insiden itu. Karena, KPP Haryo Sinawung Waluyoputro Hadinagoro, juga sudah merasa jenuh. Karena sentana-dalem ini merasa “terpaksa” melakukan tugas memberi “dhawuh nabuh gamelan”, dengan ekspresi yang melawan standar etika publik, langsung atau tidak langsung. Padahal, dirinya adalah bagian dari masyarakat adat berbudaya.

Masih banyak makna yang bisa muncul dari momentum upacara adat untuk memperingati tanggal lahir Nabi Muhammad SAW “gaya” (versi) Kraton Mataram Islam Surakarta itu. Karena, gejolak yang terjadi dalam proses pergantian tahta, memberi banyak pengaruh terhadap komposisi para petugas dalam tata-laksananya. Misalnya, nuansa persaingan yang menghiasi petugas “abdi-dalem tindhih” karawitan Sekaten.
Walau suasana itu muncul tak terkait langsung atau tak berkorelasi dengan gejolak di antara yang berebut “kekuasaan”, tetapi persaingan di saat krusial pergantian tahta itu, bisa ditafsirkan sebagai bagian dari suasana itu. Jika ada makna yang muncul di awal era Sinuhun PB XIV Gangabehi ini, biarlah menjadi keniscayaan eranya, karena hal positif ideal yang sudah dan akan muncul jauh lebih banyak. (Won Poerwono-bersambung/i1)
