Garebeg Mulud Perdana “Karya” Sinuhun PB XIV Hangabehi di Tahun 2026 (seri 2- bersambung)

  • Post author:
  • Post published:July 26, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Garebeg Mulud Perdana “Karya” Sinuhun PB XIV Hangabehi di Tahun 2026 (seri 2- bersambung)
"PUSAT PEMERINTAHAN" : Kori Kamandungan dan Panggung Sangga Buwana, adalah dua ikon dari "pusat pemerintahan" Kraton Mataram Surakarta, yang menjadi satu kawasan dengan kagungan-dalem Masjid Agung, dua alun-alun, pasar dan pemukiman. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Genius, Membangun Alun-alun, Masjid, Pasar dan Pemukiman dalam Satu Kawasan  

IMNEWS.ID – HANYA tinggal menunggu waktu, upacara adat hajad-dalem Sekaten Garebeg Mulud untuk memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW akan segera digelar Bebadan Kabinet 2004 Kraton Mataram Surakarta. Bahkan, Sabtu (1/8) kegiatan pasar-malam pendukung Sekaten 2026 yang bernama “Maleman Sekaten”, dibuka resmi. Seperti beberapa tahun sebelumnya, Alun-alun Lor akan menjadi ajang utamanya.

Upacara adat Sekaten Garebeg Mulud 2026 ini tentu agak berbeda suasananya dengan ritual serupa beberapa tahun lalu, terutama sebelum Sinuhun PB XIII wafat (2025). Karena, bisa dipastikan terpengaruh oleh “dinamika politik internal” yang sedang terjadi, akibat adanya “gangguan teknis dan “nonteknis” dari “pihak sabrang”. Gangguan dalam perjalanan Sinuhun PB XIV Hangabehi untuk “menuntaskan” tahtanya.  

Walau ada gangguan “teknis dan nonteknis” pada proses perjalanan Sinuhun PB XIV Hangabehi, tetapi ada nilai simbolik yang menandai momentum peristiwa Sekaten Garebeg Mulud 2006. Di satu sisi kegiatan upacara adatnya itu sendiri yang punya makna sebagai Sekaten Grebeg mulud “perdana” di era kepemimpinan tokoh baru ini. Di sisi lain, event itu menjadi penanda simbolik karya Sinuhun PB XIV Hangabehi.

Selain dinamika suasana yang melatarbelakangi, kegiatan event Sekaten Garebeg Mulud dan “Maleman Sekaten”nya di tahun 2026 yang akan dibuka Sabtu (1/8) nanti, tentu esensi dan isinya tidak jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kalau dipetakan acaranya, selain berbagai tatacata upacara adat yang digelar di dalam kraton dan di Masjid Agung, ada unsur pemeriahnya, kegiatan “Maleman Sekaten”.

SALING TERKONEKSI : Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa yang menghadap Alun-alun Lor dan berada di sayap kanan kagungan-dalem Masjid Agung, menjadi lokasi yang sangat strategis untuk berbagai keperluan sesuai fungsi masing-masing. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Rangkaian tatacara upacara adatnya, banyak sekali dan ada tahapannya dari awal hingga akhir. Yaitu dimulai dengan “jamasan” gamelan dua “pangkon” atau sepasang, yaitu Kiai Guntur Madu dan Kiai Guntur Sari. Selain gamelan yang tersimpan di Bangsal Bale Bang dan Bangsal Langen Katong, juga “jamasan” peralatan pengangkut, yaitu “rancakan”, “gayor” (gawang) dan “pikulan” (galah) untuk memikul.

Di luar itu, ada rangkaian teknis yang dikerjakan jauh lebih dini, yaitu proses merangkai “gunungan” atau “pareden”. Untuk Garebeg Mulud, sedikitnya dua pasang atau 4 buah, dua “pareden kakung” dan dua “pareden pawestri”. Sebelum menginjak jamasan yang biasanya dilakukan pagi hari, pasti didahului dengan wilujengan yang dilakukan malam sebelumnya. Itu belum termasuk kadwal jamasan meriam Nyai Setomi.

MENJADI PASAR : Alun-alun Lor yang dibangun dalam satu kawasan dengan Pendapa Pagelaran, kagungan-dalem Masjid Agung, kawasan sakral kraton dan beberapa pasar di dekatnya (Hardjanagara), adalah karya jenius para pemimpin Dinasti Mataram. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Rangkaian berikut, adalah pembukaan “Maleman Sekaten” yang biasanya jatuh paling awal sebelum 12 Mulud (Tahun Be 1960) atau 12 Rabiul’awal (1448 H) di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa. Tempat itu biasanya menjadi ajang ekspo aneka produk dan jasa, serta usaha jasa hiburan. Bila sama tahun-tahun lalu, pasti ada pula pentas tari di Pendapa Sitinggil, yang melibatkan sanggar-sanggar dari luar kraton.

Isi “Maleman Sekaten” dalam beberapa tahun terakhir berbeda lagi tampilannya, dibanding belasan tahun lalu, mungkin termasuk tahun 2006 ini. Karena waktu itu ruang Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa dimanfaatkan untuk display benda-benda budaya koleksi museum, selain stand aneka produk. Karena, ada kebijakan untuk mendapatkan pemasukan dari menjual tiket masuk khusus di Pendapa Pagelaran.

RUTE SEARAH : Dari Kagungan-dalem Masjid Agung menuju Alun-alun Lor, adalah rute “jalan” searah baik dari kraton atau sebaliknya, ketika Sinuhun Paku Buwana “tedhak” ke masjid pada puncak haja-dalem Sekaten Garebeg Mulud pada masa lalu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Namun, pada tahun-tahun berikut hadirnya benda-benda koleksi museum dan simbol-simbol keislaman Kraton Mataram Surakarta, sudah lama ditiadakan (tak berbayar). Mungkinkah bersamaan adanya rencana museum tutup 4 bulan untuk direvitalisasi lalu ditempuh kebijakan itu lagi?, hingga kini iMNews.id belum mendapat informasi lebih lanjut. Yang jelas, Senin (3/8) ini pekerjaan proyek revitalisasi dimulai.

Berbicara mengenai penyelenggaraan setiap upacara adat oleh kraton, rata-rata punya titik singgung atau keterkaitan antara beberapa titik lokasi dalam satu kawasan. Yaitu antara kagungan-dalem Masjid Agung, Alun-alun Lor, Pendapa Pagelaran Sasanasumewa dan beberapa lokasi lain dalam satu kawasan cagar budaya Kraton Mataram Surakarta. Ada aspek ekonomis yang lahir dari keterkaitan itu.

MEMANFAATKAN SUASANA : Pasar Klewer resmi dibangun dan beroperasi di tahun 1970-an sebagai pusat dagang sandang. Posisinya tepat di kanan kagungan Masjid Agung. Perubahan suasana dari kerumunan “bakul wade” dan hilangnya Pasar Slompretan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Keterkaitan dan titik singgung yang memberi aspek ekonomis ini, bukan yang tiba-tiba muncul belakangan. Kalau baru diketahui dan dipahami publik belakangan mungkin benar. Tetapi patut dipahami dan dibanggakan, buah pemikiran genius para pemimpin Dinasti Mataram Islam hingga Mataram Surakarta yang menjadi kearifan lokal budaya masyarakat kini. Karena, beberapa fasilitas itu sengaja dikreasi.

Para pemimpin Dinasti Mataram telah jauh mendahului teori dan konsep yang menggabungkan antara kehidupan sosial, ekonomi dan spiritual kegamaan menjadi satu kesatuan semangat yang saling mendukung dan mewarnai. Karena, hampir semua pemimpin Mataram Surakarta punya karya alun-alun (pemerintahan), masjid (religi), pasar (ekonomi) dan pemukiman (sosial) dalam satu kawasan yang terkoneksi. (Won Poerwono-bersambung/i1)