Ritual Methik Sekar “Wijayakusuma”, Stampel Spiritual di Zaman Modern (seri 5 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:April 18, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Ritual Methik Sekar “Wijayakusuma”, Stampel Spiritual di Zaman Modern (seri 5 – bersambung)
TIBA DI KRATON : Prosesi arak-arakan utusan-dalem yang bertugas "methik sekar" Wijayakusuma untuk jumenengan-nata Sinuhun PB X (1893) sudah melewati Kori Brajanala Lor dan tiba di halaman Kamandungan Kraton Mataram Surakarta. (foto : iMNews.id/Dok)

Wijayakusuma Pusaka Kraton, dari Goa Sela Masigit yang Lembab dan Gelap-gulita

IMNEWS.ID – PERBINCANGAN tentang sekar Wijayakusuma sampai sekitar sebulan ini rupanya belum surut banyak. Karena, bunga fenomenal itu mulai dibahas dalam rapat Pakasa di (Pakasa Cabang) Kabupaten Magelang, atau sekitar setahun sejak KGPH Hangabehi menanam bibit pohon bunga itu di dekat makam Sinuhun Amangkurat Agung.

Kini, kalau menurut hitungan agenda rencana gelar tata-cara ritual “Methik Sekar” yang dijadwalkan 2-3 Mei 2026 ini, tinggal menghitung hari, sekitar 2 minggu lagi. Tetapi ada dinamika yang terjadi di internal anggota dua tim yang sudah dibentuk sebagai panitia besar, yang sebagian menghendaki berjalan “silent”.

Keinginan untuk memproteksi kegiatannya agar tetap “silent”, mungkin karena beberapa pertimbangan. Salah satu yang sudah terungkap ke permukaan, adalah takut “dibajak” pihak lain untuk berbagai kepentingan. Selebihnya, bisa juga karena masih ada anggapan bahwa perjalanan “perburuan” bunga ini adalah “laku batin”.

BEDA SPESIES : KGPH Hangabehi “memperkenalkan” tanaman bunga Wijayakusuma species yang langsung ditanam di tanah dan bebas kena sinar matahari. Bibit bunga itu ditanam di dekat “Cungkup” makam Sinuhun Amangkurat Agung, dua tahun lalu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Hal yang masuk kategori “laku batin”, bagi sebagian masyarakat adat perlu dijaga agar perjalanannya tak terganggu, sehingga objek barang yang dipetik berjalan lancar dan sukses. Anggapan ini mirip sikap sebagian masyarakat adat lain yang ingin “silent”, karena “nggayuh wahyu” bunga itu adalah “rahasia pertahanan”.  

“Rahasia pertahanan” memang bagian dari strategi dan sistem yang dimiliki para pengelola “negara”, apalagi pemimpinnya sejak membangun Dinasti Mataram, atau bahkan sejak zaman-zaman jauh ke belakang lagi. Tetapi, ada pula upaya proteksi itu karena ada kekhawatiran soal potensi ancaman perburuan liar dan “pemalsuan”.

Potensi ancaman perburuan liar, berkait dengan nilai jual bunga atau pohonnya yang bisa menjadi trend di pasar bebas seperti saat “boom” tanaman “Gelombang Cinta”, sekitar 2 dekade lalu. Perburuan liar bisa mengarah pada tindak kejahatan penipuan, apalagi melalui aplikasi, juga kejahatan perusakan lingkungan alam.

MEMBERI GAMBARAN : KRAT Rudhianto (Ketua Pakasa Cilacap) saat berbicara di forum rakor Pakasa di Bangsal Smarakata, belum lama ini. Laporan dan penjelasannya, sangat mengedukasi dan memandu rencana ritual “methik sekar” itu, 2-3 Mei nanti. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Selebihnya, kalau belum lama juga ada postingan berupa foto pohon Wijayakusuma yang tampak masih muda di medsos pribadi, yang menyebut untuk keperluan syaratnya sebagai “raja” di “Kraton Sabrang”, ini juga menjadi alasan proteksi itu dilakukan. Ada lagi, proteksi dilakukan untuk menjaga “posisi tawar” penjaganya.

Semua alasan dan pertimbangan atas proteksi yang perlu dilakukan itu, memang masuk akal. Karena, sangat mungkin di tengah situasi ekonomi yang sulit seperti ini, lahir “kreativitas” berspekulasi. Yaitu menjadikan barang tertentu “trend” dan berharga tinggi, seperti trend Gelombang Cinta, Love Bird dan sebagainya.

Namun, pernyataan KRAT Rudhianto (Ketua Pakasa Cabang Cilacap) dan KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Cabang Kudus), menjadi edukasi yang baik dan tambahan referensi penting. Karena, dijelaskan kisi-kisi dan “klue” tentang sekar Wijayakusuma yang dibutuhkan kraton dan tata-cara adat memetiknya.

RUANG TERBUKA : KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro memperkenalkan species lain sekar Wijayakusuma yang bisa hidup di bawah sinar matahari. Tanaman bunga yang dipeliharanya sejak 1984 itu, beda dengan yang menjadi pusaka di kraton. (foto : iMNews.id/Dok)

Penjelasan sekilas KRAT Rudhianto di forum rapat koordinasi (rakor) Pakasa yang dipimpin Pangarsa Pakasa Punjer (KPH Edy Wirabhumi) dan dihadiri Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa LDA) saat itu (iMNews.id, 11/4), mengedukasi tim panitia yang akan ke goa Sela Masigit, Donan, Nusakambangan, 2-3 Mei nanti.

Setidaknya, Ketua Pakasa Cilacap itu bisa memberi gambaran bahwa perjalanan proses memetik bunganya untuk sampai di dalam goa Sela Masigit, dibutuhkan “perjuangan” yang tidak ringan. Sangat diperlukan persiapan fisik dan peralatan pendukung yang memadai serta sikap doa tulus-ikhlas untuk menjalankan prosesinya.

Selain rute yang dilalui sangat sulit, ada potensi bahaya dan membutuhkan waktu yang cukup, penjelasan KRAT Rudhianto menggambarkan bahwa sekar Wijayakusuma yang “selalu” menjadi “pusaka” dan “wahyu” bagi Sinuhun PB dna kraton, adalah jenis bunga yang tumbuh di dalam goa lembab, gelap atau nyaris tanpa sinar matahari.

SEKITAR 5 CM : Jika sedang kuncup, ukurannya bisa diperkirakan. Begitu pula saat sedang mekar di tengah malam, species sekar Wijayakusuma yang dipelihara KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro ukuran garis tengahnya hanya sekitar 5 cm. (foto : iMNews.id/Dok)

Dari penjelasan itu menjadi mudah dipahami, bahwa jenis sekar Wijayakusuma yang berada di dalam goa Sela Masigit dan sudah diberi penanda prasasti Sinuhun PB X itu, sangat sulit tumbuh di tempat lain apalagi di udara bebas yang mudah kena sinar matahari. KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro, menegaskan soal ini.

Dalam beberapa kali wawancara dilakukan iMNews.id, Ketua Pakasa Kudus itu memberi edukasi tentang beberapa jenis tanaman Wijayakusuma yang dimiliki dan dirawat sejak tahun 1984. Tetapi trah darah-dalem Sinuhun PB X yang juga trah darah Sunan Kudus itu yakin, bunga yang dimilikinya tidak bukan yang tumbuh di dalam goa itu.

“Entah pohonnya tumbuh langsung di tanah atau merambat di karang atau di dinding goa, saya belum mendapat kepastian tentang itu. Tetapi saya yakin, tiga jenis itu tumbuh di dalam goa yang gelap dan lembab. Maka, ketiganya tidak mungkin tumbuh di luar ruang seperti seperti milik saya,” ujar KRRA Panembahan. (Won Poerwono – bersambung/i1)