Ritual Methik Sekar “Wijayakusuma”, Stampel Spiritual di Zaman Modern (seri 3 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:April 17, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Ritual Methik Sekar “Wijayakusuma”, Stampel Spiritual di Zaman Modern (seri 3 – bersambung)
MUNGKIN BEDA : Jenis sekar Wijayakusuma milik KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro yang tengah malam beberapa hari lalu mekar sekitar 90 menit itu, mungkin beda dengan yang hanya hidup di dalam goa Sela Masigit Nusakambangan. (foto : iMNews.id/Dok)

Ada Lebih 10 Species Wijayakusuma, Tetapi yang dari Goa Sela Masigit “Spesial”

IMNEWS.ID – PENGALAMAN kakek dari KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro yang dituturkan kepada anaknya, Hj Nyi MT Tarmini Budayaningtyas (87), ternyata ada manfaatnya. Apalagi, sang kakek juga pernah bercerita secara langsung saat mengajaknya sowan ke kraton, selain penuturan sang ibu dalam “seminggu ini”.

“Heboh” soal sekar Wijayakusuma di berbagai media berita mainstream dan medsos pribadi, dalam satu-dua minggu ini memang menunjukkan peningkatan intensitasnya. Karena, “tiba-tiba” lahir gagasan “methik sekar” dan terjadilah rapat koordinasi warga Pakasa sejumlah cabang, pembentukan tim pemetik dan menyusun rencana kerja.

Dalam dinamika dan suasana seperti itu, publik secara luas tiba-tiba “diajak” berkonsentrasi membahas soal bunga langka itu. Bahkan, bunga itu konon menjadi pusaka para Raja terutama di lingkungan Dinasti Mataram sejak ratusan tahun lalu. Disebut langka, karena bunga itu hanya ada di goa Sela Masigit, Nusakambangan.

MASIH KUNCUP : Bunga Wijayakusuma yang diperlihatkan KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro di kediamannya ini, tampak masih kuncup, sebelum akhirnya mekar di tengah malam setelah dipindah tempatnya yang lebih lembab, beberapa hari lalu. (foto : iMNews.id/Dok)

Perbincangan KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro di lingkungan keluarga kecilnya, terutama di hadapan ibunda, Hj Nyi MT Tarmini Budayaningtyas (87), tentu hangat, penuh cerita, imajinasi dan melahirkan arah positif. Karena, Ketua Pakasa Cabang Kudus itu ikut terlibat rapat penjelasan, soal tugas untuk dirinya.

Maka tidak aneh kalau pada seri tulisan sebelumnya, KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro menuturkan agenda persiapan dirinya. Yaitu agenda mempersiapkan diri untuk menjalankan tugas sebagai “Kanca-Kaji”, sekaligus ikut menjaga “keamanan dan kelancaran” secara spiritual jalannya “methik sekar” Wijayakusuma.

Dengan penuturan kisah dari sang ibu dan almarhum kakek yang terlibat dalam tugas prosesi “Methik Sekar” Wijayakusuma (PB X-Red), semua agenda dan rencana menjadi makin mudah dipetakan ulang. Sedikit petuah dari du “pepundhen”, terutama yang menyangkut persiapan diri, akan menlengkapi seluruh agenda dan rencananya.

DISAKSIKAN UTUSAN : Tatacara “methik sekar” Wijayakusuma saat untuk jumenengan nata Sinuhun PB X (1893-1939), sesampai di kraton dan saat diserahkan kepada pimpinan (bebadan/pemerintahan), disaksikan utusan pejabat Belanda. (foto : iMNews.id/Dok)

Di satu sisi kelengkapan persiapan fisik dan non-fisik, teknis dan non-teknis dilakukan, di sisi lain KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro juga punya referensi soal sekar Wijayakusuma. Sejak tahun 1984, dirinya punya tiga jenis (species) bunga yang jenisnya belasan itu, hingga mulai memahami ciri-cirinya.

“Dari lima jenis (species) yang pernah saya pelihara, sekarang tinggal yang jenis Epiphyllum oxypetalum, cirinya ukurannya besar. Epiphyllum Anguliger, punya ciri aromanya unik, spesifik. Dan Hylocereus mirip bunga buah naga (Selenicereus Grandiflorus). Menika sering disebut Queen of The Night,” ujar KRRA Panembahan.

Wawancara dan diskusi dengan iMNews.id yang berlangsung beberapa kali sampai kemarin, KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro memberi beberapa referensi soal sekar Wijayakusuma. Mengenai objek bunga itu akhirnya ada kesimpulan sementara, bahwa bunga yang selama ini menjadi pusaka Raja-raja Dinasti Mataram, “spesial”.

DALAM JOLI : Tatacara ritual “methik sekar” Wijayakusuma untuk jumenengan-nata Sinuhun PB X (1893-1939), dengan tatacara adat, uba-rampe dan peralatan lengkap. Bunga dimasukkan “cupu”, diwadahi joli/kremun dan dipikul para abdi-dalem. (foto : iMNews.id/Dok)

Sifat khusus dan spesialnya, karena jenis bunga yang menjadi syarat spiritual kebatinan seorang Raja Sinuhun Paku Buwana, bahkan jauh sebelum Dinasti Mataram, adalah jenis bunga yang dipetik dari goa Sela Masigit. Goa itu berada di Pulau Bandhung atau Nusakambangan, yang harus dijangkau menyeberangi laut dari Jawa.

Karena selama ini informasi tentang ritual “methik sekar” Wijayakusuma hanya menjadi cerita di belakang layar (berkait dengan pertahanan-Red), juga pandangan negatif (klenik), maka publik tidak benar-benar paham apa jenisnya. Unduhan dari google yang beredar belakangan ini, sangat diyakini bukan jenis yang dimaksud.

“Saya memperkirakan, tiga jenis Wijayakusuma dari lima jenis yang pernah saya rawat, bukan jenis yang biasa dipetik untuk pusaka kraton. Karena, Wijayakusuma yang itu hanya bisa hidup di dalam goa, minim sinar matahari. Maka, jenis itu sangat mungkin tidak bisa hidup di luar goa,” ujar KRRA Panembahan Gilingwesi.

BAGIAN PROSESI : Iring-iringan prosesi para abdi-dalem yang memikul joli/kremun berisi sekar Wijayakusuma dan disongsong (dipayungi) yang tampak pada gambar, adalah bagian dari prosesi tatacara adat “methik sekar” ketika tiba di kraton. (foto : iMNews.id/Dok)

Referensi yang diperoleh KRRA Panembahan Gilingwesi Songonegoro itu punya kesesuaian dengan sejumlah sumber informasi lain. Yaitu lebih dari tiga naskah Babad yang ditemukan Ki Dr Purwadi, KP Budayaningrat (Lembaga Kapujanggan) dan informasi tutur dari masyarakat adat di sekitar goa Sela Masigit, Donan, Cilacap.

Data manuskrip Ki Dr Purwadi tentang jasa-jasa Patih Sindureja yang berhasil “methik sekar” Wijayakusuma, juga patut dipahami. Referensinya menjadi banyak, adan ada yang lebih tua, yaitu yang digunakan untuk jumenengan nata Sinuhun PB II (1727-1749) di Kraton Mataram saat masih ber-Ibu Kota di Kartasura.

“Saya yakin, referensi yang lebih tua lagi pasti ada. Karena, sekar Wijayakusuma menjadi wahyu kamulyan dan wahyu keprabon serta simbol kehidupan, sudah ada sejak zaman Hindu-Budha Kraton Majapahit. Namanya diabadikan di mana-mana, termasuk dua lembaga universitas, lembaga satuan militer dan sebagainya,” ujar Ki Dr Purwadi. (Won Poerwono – bersambung/i1)