Ritual Methik Sekar “Wijayakusuma”, Stampel Spiritual di Zaman Modern (seri 6 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:April 19, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Ritual Methik Sekar “Wijayakusuma”, Stampel Spiritual di Zaman Modern (seri 6 – bersambung)
TUTWURI HANDAYANI : Pernyataan Gusti Moeng dan KPH Edy Wirabhumi yang kini sudah memasuki fase "tutwuri handayani" bersamaan proses "methik sekar" Wijayakusuma untuk Sinuhun PB XIV Hangabehi, sangat mengesankan dan membanggakan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Prasasti Sinuhun PB XIV Hangabehi, Akan Menghiasi Goa Sela Masigit

IMNEWS.ID – AGENDA rencana ritual “methik sekar” Wijayakusuma ke goa Sela Masigit, Donan, Nusakambangan, Kabupaten Cilacap, 2-3 Mei, rupanya sedang dalam proses penyempurnaan dan pematangan. Baik di kalangan panitia yang ada di Kraton Mataram Surakarta (tim I), tim II di Pakasa Cabang Magelang dan Pakasa Cilacap.

Gambaran seperti itu, setidaknya diberikan KRAT Bagiyono Rumeksodiningrat (Ketua Pakasa Cabang Magelang) selaku Ketua Tim I yang bertugas “methik sekar” bersama semua unsur yang diperlukan. Saat dihubungi iMNews.id kemarin disebutkan, pihaknya terus melakukan tahapan-tahapan tugas yang diemban, serta berkoordinasi.

Koordinasi dilakukan dengan panitia (tim 1) di kraton, anggota tim lain dari beberapa Pakasa cabang dan “tuan rumah” pengurus Pakasa Cabang Cilacap. Tidak dijelaskan progres pekerjaan persiapan dan tantangan yang dihadapi, tetapi KRAT Bagiyono menyatakan akan memberi penjelasan jika semua persiapannya selesai.

AKAN DIDAMPINGI : Jika diasumsikan baru ada prasasti Sinuhun PB X di goa Sela Masigit, Donan, Nusakambangan, dengan semangat gotong-royong masyarakat adat, akan segera ada prasasti pendamping dari Sinuhun PB XIV Hangabehi. (foto : iMNews.id/Dok)

Seperti sudah diuraikan pada rapat koordinasi panitia yang digelar Bebadan Kabinet 2004 di Bangsal Smarakata (iMNews.id, 11/4), bahwa ada banyak hal yang harus diorganisasi dan disiapkan matang untuk pelaksanaannya, 2-3 Mei 2026 nanti. Baik mengenai tatacara adatnya, tahapan pekerjaan dan jumlah/siapa yang terlibat.

Seperti dibeberkan KRAT Rudhianto (Ketua Pakasa Cilacap) dalam rapat, perlu segera disusun rencana siapa yang bertugas, bidang tugas dan peralatannya. Karena, beberapa hal itu menyangkut pengadaan alat angkutan (bus/mobil/perahu), ruang transit (akomodasi) dan tentu saja konsumsi serta pembiayaannya.

Tak hanya itu, sulitnya proses memasuki mulut goa Sela Masigit yang langsung menghadap air laut, perlu perhitungan dan persiapan matang. Selain perhitungan waktu air pasang naik atau surut, juga berkait dengan perhitungn jumlah bambu yang perlu disiapkan. Untuk masuk mulut goa, harus ada tangga/jembatan bambu.

GAMBARAN RIIL: Di tengah suasana menghadapi tugas mewujudkan “methik sekar” Wijasakusuma yang rata-rata masih awam bagi kalangan warga Pakasa, KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro punya sesuatu yang bisa memberi gambaran riil. (foto : iMNews.id/Dok)

KRAT Rudhi sehabis melakukan surve ke goa Sela Masigit juga mendapat referensi, bahwa di dalam goa suasananya lembab, gelap-gulita dan ada bau kotoran kelelawar. Untuk itu, perlu penerangan yang cukup, pembersihan kotosan dan alas duduk yang cukup, karena akan ada donga-wilujengan, tahlil dan dzikir sebelum memetik.

Pembicaraan soal teknis dan non-teknis, juga perlengkapan yang dibutuhkan dan  yang harus dipersiapkan, mutlak perlu dan penting. Karena tidak ada satupun di antara yang terlibat, berpengalaman secara langsung maupun tidak, dalam ritual “methik sekar” ini. Tetapi, hanya dipandu referensi naskah peninggalan sejarah.

Setidaknya, ada satu atau dua generasi masyarakat adat yang telah “putus” dari kesinambungan peristiwa ritual “methik sekar” Wijayakusuma. Meski tidak berarti sama atau berbanding lurus, tetapi “hanya” prasasti Sinuhun PB X yang ditemukan di mulut goa Sela Masigit, tentu memberi multi tafsir atau memberi banyak makna.

BISA MEMUDAHKAN : Beberapa hal yang dijelaskan KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro berdasar pengalamannya memelihara beberapa jenis sekar Wijayakusuma, bisa memudahkan publik secara luas untuk mengindentifikasi bunga yang tepat. (foto : iMNews.id/Dok)

Terlepas “hanya” ada satu yaitu prasasti Sinuhun PB X yang ditemukan di goa Sela Masigit, memang bukan berarti para pemimpin Dinasti Mataram lainnya sejak Panembahan Senapati tidak memiliki tradisi itu. Tetapi oleh berbagai sebab atau alasan lain, sangat mungkin tidak atau belum tercipta bentuk penanda macam itu.

Kalau ada data manuskrip menyebut kisah Patih Sindureja memimpin ritual “methik sekar” untuk jumenengan nata Sinuhun PB II (1727-1749), logika tentu mengarah ke goa Sela Masigit, Donan, Nusakambangan. Saat Kraton Mataram masih ber-Ibu Kota di Kartasura, sangat mungkin belum ada tradisi memasang prasasti sebagai penanda.

Begitu pula ketika Raja-raja Mataram sebelumnya, atau sesudahnya selain Sinuhun PB X. Bahkan, Sinuhun “ingkang wicaksana lan ingkang minulya” PB X malah menjadi perkecualian, karena dialah raja Mataram yang kaya-raya, begitu banyak aset-asetnya. Maka tidak aneh, banyak prasasti penanda zamannya ada di mana-mana.

MUNGKIN BUKAN : Bunga yang disebut Wijayakusuma berkelopak kecil, menggerombol dan dalam jumlah banyak seperti banyak diunduh publik dari google, sangat mungkin bukan jenis yang menjadi pusaka kraton. Juga bukan yang bisa mekar di luar goa. (foto : iMNews.id/Dok)

Kalau setelah Sinuhun PB X tak ditemukan penanda tahta para penerusnya, itu juga belum tentu tidak ada atau ditiadakan ritual “methik sekar” Wijayakusuma. Zaman saat Sinuhun PB XI dan XII jumeneng-nata, juga bisa menjadi perkecualian. Karena situasi dunia termasuk Nusantara, sedang bergolak hebat, “bertransformasi”.

Mungkin agak sedikit berbeda ketika eranya Sinuhun PB XIII (2024-2025), situasi dan kondisi stabilitas nasional (NKRI) relatif terjaga. Tetapi, “ontran-ontran” pergantian tahta saat itu sangat mungkin telah “mengacaukan” berbagai persiapan. Karena KRT Darpo Arwanto tak merasa menyiapkan panduan ritual “methik sekar”.

Pengakuan KRT Darpo Arwantodipuro (staf Kantor Sasana Wilapa) itu bisa ditafsir berbeda, ada keraguan soal kebenarannya. Tetapi sebaiknya dilewatkan saja, karena PB XIII memang sudah “dikecualikan”. Yang jelas, ada rencana prasasti Sinuhun PB XIV Hangabehi yang akan dipasang di goa Sela Masigit, harus bisa terwujud. (Won Poerwono – bersambung/i1)