Kraton Menggelar Wilujengan “Mapag Ruwah”, Sebagai Syarat Makam-makam Dibuka untuk “Nyadran”

  • Post author:
  • Post published:February 12, 2024
  • Post category:Budaya
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:8 mins read
You are currently viewing Kraton Menggelar Wilujengan “Mapag Ruwah”, Sebagai Syarat Makam-makam Dibuka untuk “Nyadran”
DOA WILUJENGAN : Doa wilujengan dan tahlil tradisi "Mapag Ruwah" yang dipimpin abdi-dalem jurusuranata RNg Hamidi Pujodiprojo , digelar "Bebadan Kabinet 2004" di Bangsal Smarakata, Senin (12/2) siang tadi. Ritual yang dihadiri seluruh pejabat "Bebadan" itu, sebagai tanda dimulainya tradisi "Nyadran" atau "Ruwahan". (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Makam Kyai Ageng Henis dan Para Tokoh di Pengging, Target Pertama Safari “Nyadran”

SURAKARTA, iMNews.id – Jajaran “Bebadan Kabinet 2004” yang dipimpin Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa Lembaga Dewan Adat Kraton Mataram Surakarta, menggelar kenduri wilujengan yang berisi doa, tahlil dan shalawat Sultanagungan serta syahadat Quresh di Bangsal Smarakata, Senin siang (12/2) mulai pukul 12.00 WIB tadi.

Ritual menyambut bulan “Ruwah” (Sya’ban) Tahun Jimawal 1957/Hijriyah 1445 yang dipimpin langsung GKR Wandansari Koes Moertiyah itu, menyampaikan “ujub” dan meminta abdi-dalem jurusuranata RNg Hamidi Projodipuro untuk memimpin doa, tahlil, syahadat Quresh dan shalawat Sultanagungan yang diikuti sekitar 50-an pejabat jajaran “Bebadan Kabinet 2004” itu.

Selain Gusti Moeng, tampak hadir dalam ritual tradisi di kraton menyambut “Nyadran” yang sejak lama dilakukan turun-temurun itu, adalah GKR Ayu Koes Indriyah, GKR Timoer Rumbai, KPH Edy Wirabhumi, KPH Adipati Sangkoyo Mangunkusumo, KPH Bimo Djoyo Adilaga (Bupati Juru Kunci), KRMH Suryo Manikmoyo dan para toko pejabat “bebadan”, sentana-garap dan abdi-dalem garap.

HANYA WILUJENGAN : Ritual tradisi “Mapag Ruwah” yang digelar “Bebadan Kabinet 2004”, Senin (12/2) siang tadi, sama seperti yang dilakukan menyambut “Ruwah” di tahun 2023, tanpa pentas wayang “Ruwatan” seperti yang digelar saat menyambut bulan “Ruwah” di ndalem Kayonan, Baluwarti, tahun 2022. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Wilujengan mapag Ruwah atau menyambut bulan Ruwah, sebenarnya sejak dulu selalu dilakukan kraton secara rutin, pada setiap mengawali bulan Nyadran. Jadi, sebelum ada wilujengan seperti ini, sebenarnya makam-makam di lingkungan Mataram Surakarta belum dibuka untuk diziarahi dalam rangka Nyadran. Tetapi, ya banyak yang nekat mendahului,” ujar Gusti Moeng.

GKR Wandansari Koes Moertiyah menjelaskan secara singkat hal itu dalam sambutannya sebagai penutup doa wilujengan “Mapag Ruwah”, Senin (12/2) siang tadi. Ritual yang berlangsung sekitar sejam itu, berakhir pukul 13.00 WIB. Sama seperti ritual serupa menjelang bulan “Ruwah” tahun 2023 lalu, digelar tanpa “wayangan” seperti di tahun 2022.

Meski tidak baku, di kraton sering menggelar ritual wilujengan “Mapag Ruwah” yang didahului dengan pentas wayang kulit “Ruwatan” yang secara khusus untuk menandai menyambut bulan “Ruwah”. Pantas wayang yang lakonnya “Murwakala” ini, pernah digelar wanita dalang Nyi MT Anjangmas di ndalem Kayonan, Baluwarti, sebelum ada “insiden Gusti Moeng Kondur Ngedhaton”.

TAMPAK DIBONGKAR : Puncak konstruksi bangunan Pendapa Sasana Mulya, tampak terbuka karena gentingnya dibongkar. Pekerjaan renovasi ringan akibat konstruksi “Tumpangsari” puncap pendapa yang anjlok akibat lisus, beberapa waktu lalu, hingga kini masih berlangsung dan dibiayai secara swadaya alias mandiri. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam sambutan, Gusti Moeng menyebut makam-makam di bawah otoritas Mataram Surakarta, yang dimaksudkan harus mengikuti agenda resmi tradisi “nyadran” sesuai aturan adat kraton, yaitu setelah digelar kenduri wilujengan “Mapag Ruwah” di kraton. Makam-makam tersebut di antaranya, kompleks Astana Pajimatan Laweyan, Kota Surakarta, yaitu makam Kyai Ageng Henis.

Mulai Selasa (13/2) atau tanggal 2 Ruwah/Sya’ban, Tahun Jimawal 1957/Hijriyah 1445) besok, makam Kyai Ageng Henis akan menjadi target pertama sasaran Nyadran rombongan dari kraton yang akan dipimpin langsung Gusti Moeng. Selasai dari Kelurahan Laweyan, Kecamatan Laweyan, rombongan akan menuju Astana Pajimatan Kelurahan Dukuh, Kecamatan Banyudono, Boyolali.

Jarak dari Laweyan menuju Astana Pajimatan Pengging itu, hanya sekitar 10 KM atau 20 menit waktu tempuhnya. Dalam sehari itu, Nyadran di wilayah Kabupaten Boyolali, akan dilakukan di empat titik lokasi makam yang akan diawali dari makam Ki Ageng Sri Makurung Handayaningrat yang juga kakek tokoh Jaka Tingkir yang menjadi raja Kraton Pajang, bergelar Sultan Hadiwijaya.

DARI BAWAH : Pemandangan di dalam bangunan utama Pendapa Sasana Mulya bila dilihat dari bawah, tampak sedang dikerjakan proses renovasinya oleh beberapa pekerja sampai Senin (12/2) siang tadi. Butuh ketelitian dan kesabaran, untuk mengerjakan secara manual bangunan bersejarah yang dilindungi UU Cagar Budaya itu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Selain kompleks makam Ki Ageng Adipati Sri Makurung Handayaningrat yang menjadi Bupati Pengging pada zaman Kraton Demak (abad 15), juga ada kompleks makam Pujangga RNg Jasadipura (Yosodipuro-Red), petilasan Ki Ageng Kebo Kenongo atau ayah Jaka Tingkir di Desa Malangan, Kecamatan Banyudono. Makam kedua tokoh ini, ada di Desa Gadingan, Kecamatan Plupuh, Kabupaten Sragen.

Selain itu, juga kompleks makam leluhur Gusti Moeng dari garis ibu yang ada di sebuah desa tak jauh dari kompleks makam Pujangga RNG Jasadipuro. Makam ini dekat juga dengan kompleks makam KPA Winarno Kusumo, tokoh juru penerang budaya di Kraton Mataram Surakarta yang juga pernah menjabat Wakil Pengageng Sasana Wilapa hingga akhir hayat, di tahun 2018.

Agenda pertama safari “Nyadran” atau “Ruwahan” yang dilakukan kraton mulai Selasa (13/2) besok, harus meniadakan dua ritual penting yaitu “ngisis wayang” dan gladen tari Bedaya Ketawang, “weton Anggara Kasih” (tiap 35 hari sekali) atau tepat Selasa Kliwon, besok. Dua ritual itu ditiadakan karena semua berbagi tugas untuk “Nyadran” di banyak tempat secara bersamaan.

JADI PRIORITAS : Negara yang membiayai proyek revitalisasi senilai Rp 30-an milyar itu, rupanya lebih mementingkan renovasi Alun-alun Kidul dan Alun-alun Lor yang masih utuh dan tidak rusak, dibanding sejumlah bangunan di dalam kraton yang rusak parah, hampir roboh dan lebih urgen untuk diatasi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sementara itu, kegiatan revitalisasi kraton yang sudah berjalan di Alun-alun Kidul (Alkid) dan Alun-alun Lor (Alor) sekitar setengah sebulan ini, sampai siang tadi juga masih berjalan. Pekerjaan proyek bantuan Kemen PUPR di dua alun-alun itu, rata-rata berupa penggalian tanah untuk sistem drainase, pedestrian dan taman.

Bersamaan dengan itu, pekerjaan fisik renovasi juga berlangsung di Pendapa Sasana Mulya yang lokasinya tepat di depan kompleks kediaman Sinuhun Suryo Partono, Sasana Putra. Pekerjaan renovasipuncak bangunan utama pendapa yang berlangsung sejak sebulan lalu, dilakukan dengan manual dan dengan biaya swadaya atau mandiri.

Bangunan yang sejak Sinuhun PB XI difungsikan untuk upacara adat pernikahan keluarga besar kraton selain putra/putra-dalem yang jumeneng nata itu, mengalami kerusakan saat ada angin lisus beberapa waktu lalu. Konstruksi “Tumpangsari” anjlok, karena penyangganya keropos. Namun, justru tidak masuk dalam prioritas revitalisasi proyek bantuan Kemen PUPR itu. (won-i1).

Leave a Reply