Dalam Pentas Pakeliran Estafet Dua Dalang, Mengambil Lakon “Dewa Ruci”
SURAKARTA, iMNews.id – Sinuhun PB XIV Hangabehi akan melanjutkan upaya simbolik penanda kebangkitan cabang-cabang seni-budaya khas kraton di awal eranya, pada momentum datangnya “weton” Anggara Kasih Ageng (Selasa Kliwon besar), Senin malam (19/11/2026). Momentum hari sakral yang sudah berganti Selasa Kliwon pada Senin Wage malam sesuai kalender Jawa itu, berupa ritual “ngisis ringgit”.
Sekotak wayang pusaka Kanjeng Kiai (KK) Jimat yang sebagian dibawa Sinuhun PB II (1727-1749) saat pindah dari Ibu Kota Kartasura, dan dilengkapi pada zaman Sinuhun PB IV (1788-1820) di Ibu Kota Surakarta Hadiningrat, akan dikeluarkan dalam ritual “ngisis ringgit”. Tetapi, ritual itu tidak di Sasana Handrawina atau Pendapa Magangan seperti biasanya, tetapi di pringgitan Bangsal Parasedya.

“Ngisisnya tidak seperti yang biasa di Sasana Handrawina atau Pendapa Magangan, tetapi di pringgitan Bangsal Parasedya itu. Kiai Jimat akan mios untuk pentas ringgit wacucal. Yang akan bedhol kayon dan mucuki Sinuhun. Kanjeng Lintang (KPH Raditya Lintang Sasangka) yang akan meneruskan. Jadi, dikeluarkan untuk pentas tiap Anggara Kasih, itu sama saja diisis,” ujar Ki KRAT Rawang Gumilar.
Ki KRAT Rawang Gumilar adalah abdi-dalem Reh Lembisana Kantor Keparak Mandra Budaya lulusan jurusan seni pedalangan ISI Surakarta. Dia banyak membantu tugas adat di berbagai bidang (Bebadan), tetapi lebih sering mendapat tugas membantu kelancaran ritual “Ngisis Ringgit” baik tiap Anggara Kasih maupun Kamis. Ketika Sinuhun PB XIV jumeneng-nata, ia mendapat tugas baru “nongsong” (memayungi).

Berkait dengan rencana “Ngisis Ringgit” dalam bentuk pergelaran pentas seni pedalangan malem Anggara Kasih Ageng, Ki KRAT Rawang Gumilar Lebdodipuro juga menjadi bagian penting. Karena, pentas wayang kulit di malam Selasa Kliwon, Senin (19/10) lusa, Sinuhun PB XIV akan tampil mendalang. Ia akan mengawali pentas dengan “Bedhol Kayon”, lalu “mucuki jejeran” pertama pentas wayang itu.
Ki KRAT Rawang menyebutkan, pentas ayang kulit yang diagendakan “sedalu-natas” (semalam-suntuk), setelah diawali Sinuhun PB XIV untuk menampilkan “jejeran” Kraton Amarta pada “pathet enem”, akan dilanjutkan Ki Dr KPH Raditya Lintang Sasangka. Tampilnya dua dalang secara estafet pada pentas itu, untuk menyajikan lakon “Dewa Ruci”, sebuah lakon ciptaan Pujangga Kraton Mataram Surakarta.

“Tempat yang akan digunakan adalah pringgitan Bangsal Parasedya. Kotak wayang yang akan ‘dimioskan’ adalah Kiai Jimat. Maka, ya sudah semestinya Sinuhun sendiri yang harus ngasta, walau hanya bedhol kayon dan mucuki. Wayangan di tempat itu, wayangnya Kiai Jimat, siapa dalangnya yang boleh ngasta kalau bukan Sinuhun. Aturan adat yang saya dengar seperti itu,” tutur Ki KRAT Rawang.
Pentas wayang kulit di Bangsal Parasedya kompleks Pendapa Sasana Sewaka, sangat langka dan terakhir hanya dilakukan pada zaman Sinuhun PB XII, sebelum tahun 2004. Setelah itu tidak pernah ada hingga diagendakan pada malam Anggara Kasih Ageng tahun 2026 ini. Karena lokasi pentas di wilayah inti sakral kedhaton, informasi yang didapat iMNews.id menyebut, ada protokol adat sangat terbatas.

Beberapa kali latihan dilakukan bersama antara dua dalang penyaji, para abdi-dalem seniman karawitan pengiringnya dan dua instruktur ahlinya. Di situ bahkan tampak BRA Lung Ayu, BRAy Arum Kusumopradopo dan KRMH Rizki Baruna (tindhih abdi-dalem Lembisana), termasuk Ki KRAT Rawang. Sinuhun sudah tampak menguasai dan luwes saat berlatih, seminggu lalu, begitu pula Ki Dr KPH Raditya Lintang S.
Latihan masih berlangsung dalam seminggu ini, termasuk “Ki” Sinuhun PB XIV dan Ki KPH Dr Raditya Lintang Sasangka sebagai dalang utama. Dalam latihan Ki Dr KPH Raditya Lintang menyebut, gamelan yang akan dikeluarkan untuk mengiringi pentas adalah seperangkat gamelan Kiai Jimat yang hanya “slendro”. Sajian lakon “Dewa Ruci” ini akan menjadi simbol keteladanan dan kebangkitan kraton. (won-i1).
