Tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi, Bangkitnya Cabang-cabang Seni di Kraton (seri 11-habis)

  • Post author:
  • Post published:October 16, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi, Bangkitnya Cabang-cabang Seni di Kraton (seri 11-habis)
SIMBOL REGENERASI : Tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi sebagai pemimpin baru diKraton Mataram Surakarta, menjadi simbol pergantian generasi di semua lini elemen masyarakat adatnya. Elemen Pakasa patut meneladaninya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Perlu Dorongan untuk “Melahirkan” Generasi Muda Calon Penerusnya

IMNEWS.ID – SAMPAILAH di penghujung pembahasan dan sumbang pemikiran, sekaligus “melukiskan” pokok-pokok pemikiran yang bisa lahir di awal era baru Sinuhun PB XIV ini. Bahwa awal era pemimpin baru ini telah menjadi momentum kebangkitan cabang-cabang seni-budaya yang bersumber dari kraton. Pakasa cabang adalah daya dukung potensial paling mendominasi, di antara berbagai elemen masyarakat adat.

Karena menjadi dominasi daya dukung legitimasi dan legitimitas pelestarian seni-budaya Jawa dan kelangsungan kraton, maka peningkatan kualitas pengurus dan warga organisasi Pakasa cabang, mutlak perlu mumpung momentumnya tepat. Berbagai gambaran profil Pakasa cabang sudah hampir semua ditampilkan, tetapi soal regenerasi rata-rata luput dari perhatian semua elemen masyarakat adat.

GENERASI MUDA : Tampilnya KPH Bimo Djoyo Adilogo dan KRMH Rizki Baruna dalam upacara wisuda sentana beberapa waktu lalu, menjadi pertanda proses regenerasi di jajaran Bebadan Kabinet 2004 kraton sudah bergerak. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ketika membahas masalah regenerasi, ada kebutuhan jangka menengah dan panjang yang perlu segera diberi ruang bergerak yang cukup. Dan proses bergantinya para pemimpin di semua lini dalam kelembagaan di kraton, bahkan sudah dimulai dengan tampilnya Sinuhun PB XIV. Dia adalah satu di antara sederet generasi wayah-dalem Sinuhun PB XII, atau generasi kedua dari putra-putri Sinuhun PB XIII.

Bahkan, tak hanya Sinuhun PB XIV Hangabehi yang tampil, generasi wayah-dalem lain seperti KPH Bimo Djoyo Adilogo, KPH Suryo Manikmoyo, KRMH Suryo Kusumo Wibowo, GRAy Putri Purnaningrum, BRA Lung Ayu dan BRAy Arum Kusumopradopo juga mengiringi panggilan tugas itu. Nama-nama itu sudah masuk di beberapa pos struktur organisasi kelembagaan di kraton, khususnya Bebadan Kabinet 2004.

DI RUANG PUBLIK : Tampilnya GRAy Putri Purnaningrum dan BRA Lung Ayu menjadi pembicara sarasehan di ruang publik masyarakat Kabupaten Kudus, belum lama ini, menandakan proses regenerasi di internal kraton sudah bergerak. (foto : iMNews.id/)

Kalangan generasi muda itu, ada yang masuk ke pos pimpinan museum, Kusuma Wandawa, Sasana Prabu, Karti Praja dan beberapa nama di Kantor Mandra Budaya seperti GRAy Putri Purnaningrum (tindhih abdi-dalem Bedhaya Ketawang). Bahkan suaminya, KRMH Rizki Baruna, mendapat tugas, sebagai “tindhih abdi-dalem” Reh Lembisana (Mandra Budaya), yang lama kosong bersama Sanggar Pawiyatan Dalang.

Bersamaan dengan bergeraknya gerbang pergantian generasi Sinuhun PB XIV, juga muncul nama abdi-dalem Ika Puspowinahyu yang mulai momentum jumenengan-nata tahun ini, mendapat tugas sebagai “Bupati Gantung-seba”. Sejak “Bupati Gantung-seba” KMT Secapura berakhir bersamaan dengan wafatnya Sinuhun PB XII, jabatan itu kosong karena tak ada abdi-dalem yang bisa menggantikan “skill”-nya.

PROSES REGENERASI : Pengurus Pakasa Cabang Kudus sering melibatkan anak-cucunya di berbagai upacara adat di daerahnya. Ini menandakan pengurus Pakasa sudah sadar, perlu disiapkan proses regenerasi sebagai penerusnya kelak. (foto : iMNews.id/Dok)

Setelah “kosong” satu generasi, baru di upacara adat jumenengan-nata Sinuhun PB XIV Hangabehi, 5 September lalu, tampil seorang abdi-dalem yang punya “skill” bisa menggantikan di jabatan itu. Ika Puspowinahyu yang mantan penari Bedhaya Ketawang, mampu menjalankan tugas kali pertama sebagai “Bupati Gantung-seba”. Karena, tugas laporan saat upacara adat jumenengan, harus bisa “ngumbang”.

Menurut KP Budayaningrat (dwija Sanggar Pambiwara), jika “Bupati Gantung-seba” bisa memberi laporan di hadapan Sinuhun saat upacara adat “jumenengan-nata” dan jenis upacara lain dengan gaya “ngumbang”, itu kriteria yang selama ini dicari dan baru didapat. Yaitu abdi-dalem yang bisa mengucapkan kalimat laporan kepada Sinuhun di tengah upacara adat, terdengar “mbrengengeng” mirip suara kumbang.

MENGENAL ADAT : Warga Pakasa Kudus sering melibatkan kalangan ana-anaknya di berbagai kegiatan upacara adat, tak terasa telah membawa mereka mengenal adat, seni dan budaya (Jawa), karena merekalah calon penerus pelestarinya. (foto : iMNews.id/Dok)

Ketika di sejumlah pos penting sudah terisi sejumlah tokoh generasi muda yang kini mulai bergerak bersama Sinuhun PB XIV, mungkin saat inilah elemen-elemen lain di dalam masyarakat adat yang menjadi daya dukung kraton, juga mengikuti. Proses regenerasi ini sangat penting, karena kraton dan Budaya Jawa tak hanya dibutuhkan 1-2 dekade ke depan, tetapi harus eksis lestari sampai akhir zaman.

Oleh sebab itu, berbagai elemen masyarakat adat yang bersentuhan dengan upaya pelestarian Budaya Jawa dan menjaga eksistensi kraton yang didominasi warga Pakasa cabang itu, harus mulai sekarang mempersiapkan proses regenerasi. Satu periode kepemimpinan untuk tahap belajar harus diupayakan cukup “memadai” dan “mumpuni”, sisanya harus menjadi proses tampilnya generasi muda calon penerus. (Won Poerwono-habis/i1)