Juga Menaikkan Trend Minat Berwisata ke Pulau Nusakambangan
IMNEWS.ID – Trend pasar bebas komoditas bunga Wijayakusuma yang menunjukkan kenaikan dalam tiga minggu terakhir (iMNews.id, 13/5), makin banyak memunculkan jumlah para pedagang/penjualnya. Karena, kegiatan transaksi yang dilakukan melalui medsos oleh para peminat atau calon pembelinya, dilakukan secara pribadi atau melalui medsos pribadi, sehingga sulit terlihat (terdeteksi) oleh publik.
Meski begitu, di antara para pedagang/penjual yang aktif menawarkan melalui medsos fb, IG dan tiktok dalam sekitar sebulan terakhir, karena didukung pihak yang menjadi pemasok. Salah satu pemasok yang diperkirakan mampu menyiapkan stok dagangan karena mampu mengembang-biakkan species bunga Wijayakusuma “versi” pusaka kraton, adalah kantor Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kemenhut.

“Saya juga sempat bertemu di medsos dengan orang-orang yang pernah membeli bibit pohon Wijayakusuma dari BKSDA Cilacap. Kalau yang mengembang-biakkan BKSDA, memang tepat sekali, karena ahlinya. Kantor di bawah Kemenhut itu memang lembaga yang berwenang mengurus konservasi berbagai jenis tanaman langka di Tanah Air. Untuk bunga Wijayakusuma di Nusakambangan, memang harus dijaga kelestariannya.
“Lembaga pemerintah itu memang harus mengkonservasi pohon bunga Wijayakusuma jenis yang disebut menjadi pusaka kraton. Walau yang tumbuh di Pulau Nusakambangan, Pulau Majeti dan mungkin pulau-pulau harus dijaga tetap lestari alami, memang perlu dilestarikan melalui cara lain agar tidak punah,” ujar KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Kudus), menjawab iMNews.id.

Menurutnya, jika kemudian ada pihak yang membutuhkan untuk keperluan ritual spiritual kebatinan mencari gampangnya dengan mendapatkan dari luar Pulau Majeti yang dianggap lebih gampang, itu persoalan lain. Karena, hal-hal yang menyangkut keyakinan dalam perjalanan spiritual, sudah meyakini bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang ideal secara kebatinan, harus melalui “perjalanan penuh prihatin”.
Penjelasan trah darah-dalem Sunan Kudus sekaligus trah grade 4 dari Sinuhun PB X itu, menunjukkan bahwa walau faktanya pohon bunga Wijayakusuma bisa ditangkar di mana-mana, upacara adat “methik sekar” untuk Kraton Mataram Surakarta punya esensi pada proses tatacara ritual dan keyakinan/sikap batin terhadap lokasi keberadaannya. Zaman sudah berubah luar biasa, tetapi proses ritual tetap ada.

Karena faktanya zaman sudah berubah dan teknologi informasi digital juga makin maju, maka segala kemungkinan di luar esensi yang harus digenapi dan dijalankan penuh itu sudah tepat dan benar. Soal kerahasiaan tak perlu diyakini menjadi jaminan dan menentukan konsekuensi secara spiritual, karena lebih penting aksi nyata laku batinnya sesuai tahapan tatacara upacara adatnya untuk dijalankan.
Karena, nyaris tak ada yang bisa dirahasiakan di era keterbukaan publik saat ini, terlebih jika sudah berkait dengan teknologi informasi digital. Faktanya, sejak awal prosesi kirab ratusan orang dari Pendapa Kabupaten Cilacap menuju Teluk Penyu, lalu keberangkatan rombongan berperahu menuju Pulau Majeti dan goa Sela Masigit, nyaris tak lepas dari pantauan “drone” milik wartawan dan para “hobies”.

Berbagai cerita tentang peristiwa ritual “methik sekar” Wijayakusuma memang berkembang luas. Selain melahirkan spekulasi trend pasar bebas bibit pohon bunganya, juga banyak mendorong minat masyarakat untuk berwisata. Yaitu wisata ziarah ke goa Sela Masigit Nusakambangan, atau sekadar melihat Pulau Bandung Majeti dari atas perahu, karena dalam keseharian pulau itu dilarang disinggahi.
Salah satu minat untuk berziarah, datang dari keluarga besar KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro. Kini, keluarga besarnya sedang berembug untuk bisa berziarah ke petilasan leluhurnya, Sinuhun PB X di goa Sela Masigit. “Waktunya kapan, belum ada kesepakatan. Tetapi, banyak di antara keluarga kami ingin berziarah ke sana. Mungkin dalam waktu dekat, hanya sekitar 7 orang,” ujarnya. (Won Poerwono-habis/i1)
