Pemimpin Dinasti Harus Punya Karakter “Memuliakan” Pusaka Leluhurnya
IMNEWS.ID – MINGGU Pon malam (18/10) ini, Sinuhun PB XIV Hangabehi menjalani “gladen” (latihan) terakhir mendalang bersama Ki Dr KPH Raditya Lintang Sasangka dan seluruh pendukungnya. Latihan pentas seni pedalangan menyajikan lakon “Dewa Ruci” lengkap dengan semua pendukungnya, akan dilakukan di Bangsal Smarakata, sebagai persiapan pentas di malam Anggara Kasih Ageng, besok malam.
Kabar mengenai latihan terakhir atau “gladi resik” pentas “ringgit wacucal sedalu-natas”, disebutkan secara singkat KRAT Rawang Gumilar Lebdodipuro yang dimintai konfirmasi iMNews.id, Minggu (18/10) siang tadi. Seni pertunjukan wayang kulit “gagrag” (gaya) Surakarta khas Kraton Mataram Surakarta itu, akan digelar di “pringgitan” Bangsal Parasedya Pendapa Sasana Sewaka, Senin malam (19/10).

Sejak pergantian generasi pimpinan Dinasti Mataram Surakarta mulai 2004 dengan tampilnya Sinuhun PB XIII, iMNews.id mencatat belum pernah sekalipun digelar pentas wayang kulit di dalam kawasan inti sakral kedhaton, dalam format sebagai patron kiblat keladanan. Aktivitas yang bisa memancarkan berbagai makna dan keteladanan itu tak pernah terjadi, karena situasi dan kondisi tidak mendukung.
Situasi dan kondisi yang tidak mendukung itu, antara lain kelembagaan Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpin Gusti Moeng energinya terkuras oleh “ontran-ontran” pergantian tahta karena munculnya Sinuhun PB XIII “tandingan” di luar kraton. Setelah 2004, “ontran-ontran” itu tidak tampak di permukaan tetapi menjadi potensi yang sangat melemahkan dan melumpuhkan tenaga dan perhatian Bebadan.

Dalam perjalanan waktu setelah 2004, tak hanya “Bebadan” yang dilemahkan dan dikacau perhatiannya sampai banyak kerja adat terganggu, tetapi juga figur tokoh pimpinannya (Sinuhun PB XIII) yang tak bisa berfungsi seperti yang diharapkan. Bahkan situasi dan kondisi yang dilahikran, mirip pernyataan GKR Galuh Kencana (almh) yang sempat diwawancarai Suara Merdeka (kini iMNews.id-Red).
Adik kandung Sinuhun PB XIII yang juga kakak kandung GKR Wandansari Koes Moertiyah itu, kepada Suara Merdeka menyebut bahwa dirinya lega dan bersyukur paugeran adat bisa ditegakkan, Sinuhun PB XIII Hangabehi bisa jumeneng-nata. Tetapi ada kegelisahan dalam hati yang akhirnya terucap kepada penulis, bahwa pimpinan yang hadir ibarat “luput saka kekudangan, mrucut saka gendhongan”.

Hal yang secara sekilas disinggung di atas, untuk melukiskan bahwa tampilnya pemimpin Sinuhun PB XIII saat itu, walau merupakan hasil dari penegakan paugeran adat, tetapi fakta perjalanan kepemimpinannya kemudian sangat jauh dari harapan ideal. Dari salah satu sisi idealistik yang bisa jadi contoh, tokoh pemimpin ini sangat jauh dari “habitat seni-budaya” Jawa khas kraton.
Berjarak “sangat jauh” bisa multi tafsir. Bisa karena tidak pernah mengenal dan bersentuhan dengan “habitat seni-budaya” miliknya sendiri di lingkungan kraton, juga bisa tidak mau dan tidak berbakat atau tak punya ketertarikan atau bisa karena memang tidak suka berkesenian. Karena fakta seperti ini, maka tak pernah ada cerita selama 2004-2025, di dalam kraton pernah menjadi ajang “wayangan”.

Terlebih, ada pentas wayang dan Sinuhun PB XIII hadir “mucuki” atau ada proses panjang yang berkait dengan semua aktivitas seni-budaya dan Sinuhun hadir di situ. Ini untuk mempermudah melukiskan, bahwa tokoh pemimpin itu sama sekali tidak dekat mengenal seni-budaya, juga para abdi-dalem yang memelihara dan menjaganya. Tetapi, pentas di luar kraton sering, dan Sinuhun selalu hadir.
Memang, karakter pemimpin tidak bisa disamakan antara yang sudah mendahului dengan yang sedang tampil, misalnya Sinuhun PB XIV Hangabehi ini. Tetapi, pemimpin Dinasti Mataram Surakarta harus punya karakter “memuliakan” apa saja peninggalan leluhurnya yang sudah menjadi pusaka. Karena ada ruang terbuka dan waktu yang cukup untuk belajar mengenal, memahami dan mencintai “habitatnya”.
(Won Poerwono-bersambung/i1)
