Menjadi Cara Sinuhun PB XII “Menakar” Kesetiaan Putra/Putri-dalem
IMNEWS.IDÂ – UPACARA adat ruwatan “gagrag” Surakarta (Kraton Mataram Surakarta) yang kini kini mulai “dibangkitkan” lagi sebagai aktivitas event spiritual kebatinan di kraton, ternyata fungsi lain bagi Sinuhun PB XII. Bahkan fungsi penting yang menyangkut sebuah niat atau upaya, untuk menjaga eksistensi sebuah lembaga pemelihara peradaban, yaitu kelangsungan lembaga masyarakat adat kraton.
Makna dan fungsi yang begitu besar, mulia dan ideal itu, ternyata yang menjadi alasan dan latar-belakang Sinuhun PB XII menggelar ruwatan khusus bagi keluarga kecilnya. Informasi secara pasti tahun penyelenggaraan upacara adat itu antara saat-saat sebelum krisis ekonomi atau sesudah 1998, sebelum tahun 2004. Karena, Sinuhun PB XII yang menghendaki ritual ruwatan digelar, wafat di bulan Juni 2004.
Untuk memimpin ritual “ruwatan sukerta” itu, Sinuhun memilih seniman dalang yang melaksanakannya, yaitu abdi-dalem dalang asal Kabupaten Nganjuk (Jatim), Ki KRT Panut Sudarmoko. Sinuhun tidak menunjuk Ki Anom Suroto atau Ki Manteb Soedarsono, atau dalang ruwat Ki Warsino Gunocarito atau adiknya (Ki Suloto Guncarito), juga Ki MNg Redi Suto yang saat itu terhitung masih segenerasi usianya.
Juga tidak menunjuk Ki Joko Laksitono, yang sebenarnya punya kemampuan menyajikan wayang ruwatan dan bisa menjelaskan ritualnya secara rasional. Karena, dalam pengamatan iMNews.id dan Suara Merdeka (sejak 1982), banyak dalang spesialis ruwatan segenerasi mereka atau bahkan di atas, sudah terkenal “ngruwat” saat itu. Termasuk Ki Tristuti Suryoputra yang “kembali muncul” menjelang tahun 2000.

Nyi Rumiyati Anjangmas yang mulai tahun 2004 dipercaya Gusti Moeng memimpin ritual ruwatan di kraton dengan sajian wayang ruwat lakon “Murwakala”, juga tidak dipilih Sinuhun PB XII. Wanita dalang itu juga segenerasi dengan nama-nama dalang terkenal di atas, apalagi yang punya spesifikasi sebagai dalang ruwat seperti Ki Manteb. Apalagi dia masih segenerasi dan keluarga besar dalang Ki Joko Laksitono.
Dalam soal kapasitas kemampuan sebagai dalang ruwat yang menjadi pertimbangan Sinuhun PB XII, waktu itu, memang tepat ketika memilih Ki Panut Darmoko. Walau Ki Joko Laksitono punya kemampuan menjelaskan ikhwal ritual ruwatan dengan wayang secara rasional, tetapi mungkin saat itu yang bersangkutan belum menjadi abdi-dalem. Sinuhun juga tidak menunjuk putranya sendiri, GPH Benowo yang juga dalang.
Sinuhun PB XII menunjuk Ki Panut Darmoko, selain memenuhi syarat berstatus abdi-dalem, juga karena jam terbang, reputasi dan kemampuan kapasitas di bidang “ngilmu kapujanggan”. Dengan beberapa pertimbangan itu, maka nama-nama dalang yang waktu itu sukses, laris dan terkenal sebagai sosialita, justru tidak masuk kategori yang diinginkan. Karena, melalui ruwatan itu Sinuhun hendak “menakar”.
Siapa yang ditakar? Menakar hal apa? dan Untuk apa menakar putra/putrinya? Ini adalah sederet pertanyaan yang menarik. Tetapi, deretan pertanyaan itu tidak secara langsung diungkapkan secara terbuka dan transparan, baik oleh Sinuhun maupun melalui Ki Panut Darmoko selaku pemandu wayang ruat. Penyampaian melalui bahasa pakeliran dalam lakon “Murwakala”-pun tak mungkin sesuai maksud Sinuhun.

“Tetapi, dalam ruwatan itu Sinuhun pada intinya (esensinya-Red) terkesan ingin menakar para putra/putrinya. Apakah semua memahami tugas dan kewajibannya sebagai penerusnya? Apakah para putra/putrinya itu peduli terhadap kelangsungan kraton? Apakah putra/putrinya juga memikirkian bagaimana nasib kraton ke depan? Apakah putra/putrinya siap menjalankan tugas melestarikan dan menjaga kelangsungannya?”.
“Jadi, kurang-lebih itu pengendikan atau sabda-dalem Sinuhun dalam kata pengantar sebelum semunya diruwat Ki Panut Dharmoko. Dan, dalang (Ki Panut Darmoko), dipilih untuk menjalankan tugas memimpin wayang ruwatan dan ritualnya, saya yakin sudah berdasar pertimbangan Sinuhun. Karena, beliau juga sering mirsani ringgitan (wayang) dan tahu siapa dalang yang layak ngruwat,” ujar Gusti Moeng, malam itu.
Gusti Moeng Kamis malam (25/6) itu, selain memberi sambutan tunggal sebelum ritual ruwatan dimulai, juga memberi pernyataan saat diwawancarai beberapa awak media. Mengenai pernyataan Sinuhun PB XII yang diungkap di malam itu, adalah pengalaman pribadinya sebagai salah satu putri-dalem yang ikut diruwat. Saat itu dia banyak difoto sejumlah wartawan di lokasi ruwatan, karena “mondhong” bebek.
Hal penting atau sabda-dalem yang disampaikan Sinuhun PB XII terkesan paralel dengan beberapa pertanyaan di atas. Yang intinya, mempertanyakan bagaimana kepedulian dan kesetiaan para putra/putrinya untuk menjaga kelangsungan kraton?. Kalau dianalisis lebih lanjut, pertanyaan ini berkait dengan komitmen para putra/putrinya, baik oleh yang (berhak) menggantikannya, maupun bagi yang lain?.

“Yang jelas, putra/putri beliau yang sudah tidak peduli dengan nasib kraton, setelah ruwatan itu pada ‘kendhang’ dari kraton, sampai sekarang. Jadi, ruwatan waktu itu benar-benar Sinuhun ingin menjajagi kepeduliaan dan kesetiaan putra-putrinya untuk memikirkan nasib kraton. Buktinya, sekarang ini mereka semua pada ‘kendhang’ (tersingkir/terlempar) dari kraton,” ujar Gusti Moeng malam itu.
Bila dicermati lebih-lanjut, salah satu fungsi upacara adat ruwatan secara esensial adalah upaya untuk membersihkan “sukerta” atau noda secara kebatinan yang bisa disandang/dialami pada pribadi-pribadi sesuai kriteria yang diruwat. Tetapi, kalau ruwatan yang diinisiasi Sinuhun PB XII terhadap diri bersama putra-putrinya, adalah jenis “ruwatan sengkala” untuk menghindari “bencana”.

“Bencana” secara spiritual kebatinan lebih merujuk pada hukum sebab-akibat ketika seseorang yang punya tugas, kewajiban dan tanggung-jawab melekat pada dirinya, tetapi diingkari atau tidak dijalankan. Secara fisik nyata, pengingkaran atau sikap abai itu tak bisa dilihat seketika, begitu juga kondisi setelah terjadi tindakan inkonsistensi. Tetapi ada sebuah kondisi yang bertolak-belakang, nyata.
Kondisi yang bertolak-belakang dan nyata itu, terbukti ada lebih dari 30 putra-putri (semuanya 35 orang) Sinuhun PB XII, setelah terjadi friksi hebat (soal suksesi) di tahun 2004, lebih dari 20 putra/putri-dalem yang “menghilang”. Kata ini bisa dimaknai dengan tersingkir, terlempar atau “kendhang” itu. Ini juga bisa dimaknai bahwa mereka sudah tidak peduli nasib kraton, tidak cinta, ingkar/abai. (Won Poerwono-bersambung/i1)






