Tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi, Bangkitnya Cabang-cabang Seni di Kraton (seri 8-bersambung)

  • Post author:
  • Post published:October 13, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi, Bangkitnya Cabang-cabang Seni di Kraton (seri 8-bersambung)
MENGENAL 1 SURA : Masyarakat adat elemen Pakasa cabang sedang mengikuti pisowanan di Pendapa Sasana Sewaka menjelang kirab menyambut Tahun Baru Jawa, di malam 1 Sura. Para "penumpang" itu, sedang "mengenali" ruang moda armadanya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Perlu Pedoman Standar Kebutuhan Internal, Eksternal, Umum dan Khusus

IMNEWS.ID – MELIHAT arah kecenderungannya, proses perubahan sosial di internal masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta terutama di lingkaran inti utama, diperkirakan akan serupa yang tercadi pasca-pergantian tahta 2004. Satu persatu atau secara berkelompok, potensi daya dukung rival akan menghilang secara berurutan atau bersamaan, sebagai konsekuensi atas pilihan sikapnya sendiri.

Jadi, gambaran berkurangnya potensi daya dukung legitimitas (aturan main) dan legitimasi (etika moral) yang terjadi pada peristiwa tampilnya Sinuhun PB XIII tahun 2004, karena potensi pendukung dari kalangan putra/putri-dalem dan keluarga serta pengikutnya, “hilang”. Tetapi, peran dan fungsi mereka secara “terbatas” bisa tergantikan oleh warga Pakasa yang jumlahnya berlipat-lipat.

MENGENAL KHOL : Banyak elemen masyarakat adat di berbagai daerah cabang yang sudah akrab dengan ritual “haul”, tetapi sebagai warga Pakasa dan mengenal ruang moda armada khol di Sasana Handrawina, mungkin baru-baru saja dilakukan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Fenomena peristiwa itu terjadi pada tahun 2004, yang tentu sudah jauh berubah dan berkembang dalam kurun waktu 21 tahun kemudian, yaitu saat pergantian tahta 2025 yang kinisudah berada di awal era pemimpin baru itu. Rupanya, proses alami “hilangnya” potensi dukungan di peristiwa pergantian tahta 2025 lalu, kurang-lebih terulang lagi yang alasannya juga mirip, yaitu akibat pilihannya sendiri.

Mereka merasa tidak cocok lalu memilih tidak mendukung, yang mirip fenomena suksesi 2004. Meskipun, dalam perjalanan waktu kemudian, posisi itu berubah yang juga bisa merubah komposisi di antara yang berada di “dua seberang”. Dengan contoh kronologi peristiwa seperti itu, tampaknya fenomena suksesi yang masih berjalan sejak 13 November 2025 lalu, kira-kira bisa berproses serupa itu.

MODA ANGKUTAN BESAR : Kraton ibarat moda angkutan yang besar, dan peristiwa pisowanan menjelang kirab menyambut Tahun Baru Jawa malam 1 Sura adalah persiapan menjalani rute ke tujuan yang sedang dikenal dan dipelajari. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Jika republik ini ibarat “terminal besar” di darat, udara (bandara) atau pelabuhan (laut) ke segala jurusan, maka jenis modanya “bus/KA”, kapal atau pesawat. Di terminal angkutan darat di salah satu modanya ada “armada baru”, yang mengangkut masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta. Bahkan, juru-mudinya pun “baru”. Moda itu bersiap bergerak membawa penumpang yang “mendukungnya”.

Penumpang yang diangkut “juru-mudi baru” dengan “moda angkutan baru” adalah berbagai elemen masyarakat adat yang memilih “mendukung” juru-mudi baru, yang memenuhi semua persyaratan adat, spiritual religi/kebatinan dan secara hukum nasional. Moda angkutan itu tidak memaksa “penumpangnya”, tetapi mereka memilih  moda dan juru-mudi yang “memenuhi persyaratan” dan menjamin sampai di tujuan.

TUJUAN KHOL : Kalangan warga elemen Pakasa cabang yang punya waktu longgar dan hadir pada pisowanan khol Sinuhun PB XII, di Pendapa Sitinggil Lor belum lama ini, ibarat penumpang bus/gerbong KA yang sedang menuju rute “khol PB XII”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dengan fenomena suksesi 2025 itu, Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpin Gusti Moeng dan semua elemen masyarakat adatnya, memilih naik “armada baru” dengan “juru-mudi” baru Sinuhun PB XIV yang akan mengantar ke tujuan. Sementara, yang memilih ikut “moda/armada angkutan” lain, biarlah menikmati angkutan dan juru-mudi pilihannya, atau tinggal di terminal atau pulang ke rumah masing-masing.

Beberapa pilihan lain itu, bisa menggambarkan fenomena suksesi yang terjadi tahun 2004 dan pilihan masing-masing penumpangnya juga mirip suksesi 2025 ini. Dalam konteks tempat berkumpul para penumpang/calon penumpang, terminal besar itu mirip kraton sebagai tempat berkumpulnya masyarakat adat. Sedang konteks posisinya, terminal milik negara dan rakyat, dan kraton milik seluruh dinasti.

GREBEG MULUD : Kagungan-dalem Masjid Ageng ibarat bus/gerbong KA yang sedang ditumpangi masyarakat adat elemen Pakasa berbagai cabang dan elemen lain yang sedang menuju rute “Sekaten Garebeg Mulud”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kini, moda angkutan baru yang dibawa Sinuhun PB XIV dengan semua “crew” dan berbagai elemen masyarakat adat yang diangkut, sedang bersiap dan berbenah. Salah satu persiapannya, memeriksa semua komponen dan unsur elemen teknis, yang bisa menjamin armadanya laik jalan dan mencapai tujuan. Salah satu bagian yang perlu dibenahi, adalah organisasi Pakasa cabang sebagai onderdil dan warganya.

Warga organisasi Pakasa cabang adalah penumpang yang mendominasi tempat duduk penumpang moda angkutan itu. Kini, sebagai bagian dari armada angkutan itu, organisasi Pakasa cabang yang kini eksis adalah “part” dan “spare part” baru. Kalangan warganya yang mendominasi sebagai penumpang, juga sedang belajar mengenal “part” (fasiltas) “ruang armada”, teknis cara-kerja dan sebagainya. (Won Poerwono-bersambung/i1)