Pakasa Cabang, “Rumah” Kebangkitan dan Pelestarian Seni-Budaya Jawa
IMNEWS.ID – MENCERMATI penjelasan KP Budayaningrat yang menyebut Gusti Moeng selaku pimpinan Bebadan Kabinet 2004 akan segera melakukan pembenahan semua Bebadan dan kinerjanya (iMNews.id, 9-10/9/2026), menjadi harapan semua pihak di awal era Sinuhun PB XIV. Penanda positif dan ideal era baru perjalanan Kraton Mataram Surakarta ini, didukung penuh oleh tokoh “lembaga kapujanggan” itu.
Bahkan dari jajaran elemen masyarakat adat yang punya daya dukung legitimasi dan legitimitas, pimpinan Pakasa Cabang Kudus juga memberi isyarat dukungannya. Bahkan pembenahan mendesak segera dilakukan, agar ada peningkatan kualitas di elemen Pakasa, juga tata-kelola dari level Punjer. Dari kebangkitan semangat yang muncul, ada kesamaan “frekuensi” antara Punjer dan cabang untuk “maju”.

Khusus yang menyangkut tata-kelola elemen Pakasa dari Punjer hingga cabang, KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Cabang Kudus) punya pandangan dan harapan seperti diungkapkan di seri artikel sebelumnya. Tetapi jika semua rencana, pandangan dan harapan itu dicermati, dari sana ada gambaran yang jelas bahwa Pakasa adalah satu di antara elemen yang diandalkan.
Elemen Pakasa yang tersebar di berbagai daerah di wilayah luas lintas provinsi, menjadi satu-satunya daya dukung legitimitas dan legitimasi yang terstruktur dalam organisasi dari Punjer hingga cabang. Tetapi perlu diingat, Pakasa cabang yang mulai muncul sejak momentum pergantian tahta di tahun 2004 sampai 2 dekade terakhir, jelas bukan Pakasa yang “dilahirkan” Sinuhun PB X 29 November 1931.

Dari sejumlah elemen yang punya daya dukung legitimasi dan legitimitas untuk kraton dan Budaya Jawanya, memang elemen Pakasa yang sudah terstruktur dari Punjer sampai cabang, bahkan anak cabang. Tetapi, Pakasa yang dibangkitkan atau dilahirkan kembali (reborn) yang pelan-pelan untuk menggantikan peran kerabat sentana (garap) dan abdi-dalem (garap), sudah berbeda dari wajah “aslinya”.
Kalau dulu Pakasa dilahirkan karena kebutuhan wadah “berserikat” untuk berjuang ikut merintis “Kemerdekaan RI” yang diinisiasi Sinuhun PB X, tetapi Pakasa “baru” (reborn), punya orientasi dan tujuan lain. Yaitu menjadi menjadi “rumah” kebangkitan dan pelestarian kraton dan Budaya Jawa, sekaligus daya-dukungnya. Tetapi, dia bukan organisasi sosial-politik yang punya target/tujuan politik.

Tepatnya, kini Pakasa menjadi “rumah” kebangkitan dan pelestarian Budaya Jawa, yang identik dengan organisasi sosial kemasyarakatan (ormas) di bidang seni budaya, sesuai aturan hukum organisasi yang kini berlaku. Organisasi yang tampak lebih sederhana dibanding aslinya yang lahir 95 tahun lalu, ternyata demikian karena ada tuntutan untuk memaknai, mengelola dan menjalankannya.
Di dalam Pakasa “reborn” yang menjadi “rumah” itu, kini bernaung dan singgah warga yang rata-rata sedang mengenal organisasi dan belajar berorganisasi. Maka tidak aneh, Pakasa cabang yang terbentuk dan aktif dari tahun 2016 hingga yang baru lahir (termuda), sampai di titik Sinuhun PB XIV Hangabehi jumeneng-nata, pengurusnya rata-rata baru bisa belajar mengenal organisasi dan berorganisasi.

Tak hanya Pakasa cabang, di tingkat Punjerpun “pengurusnya” juga sedang belajar “berorganisasi”, kecuali “Pangarsa Punjer”. Maka ketika dianalisis, di pusat lembaga kraton, sesungguhnya sedang mengalami perubahan besar dan mendasar, setelah periode bergabung ke NKRI di tahun 1945. Kini, perubahan mendasar itu berlanjut, saat potensi daya dukung legitimasi bergeser “sentana” ke Pakasa.
Perkembangan di level “kawula” (Pakasa) yang sangat pesat, ditandai lahirnya pengurus cabang di banyak kabupaten/kota di berbagai provinsi, untuk menjawab kebutuhan potensi daya dukung. Tetapi, perkembangan “rumah” di tingkat cabang yang makin luas, belum disertai “mekanisme seleksi” yang baik bagi para calon “penghuni” (warga) dan “pimpinannya”, yang kini makin tampak butuh pembenahan. (Won Poerwono-bersambung/i1)
