Pendahulunya “Melahirkan” Kelompok yang Tega “Menginjak-injak Kehormatan”
IMNEWS.ID – UPACARA adat “methik sekar” Wijayakusuma ke Pulau “Bandung” Majeti dengan berziarah dan menggelar “donga wilujengan” di goa Sela Masigit, Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut, Pulau Nusakambangan, Kabupaten Cilacap ada dua tujuan sekaligus manfaat penting bagi kraton. Yaitu ziarah ke petilasan para leluhur pemimpin Dinasti Mataram, dan upaya kraton mendapatkan “wahyu kamulyan”.
Sebagai tempat bermeditasi maupun menggelar “donga wilujengan” untuk mengantar tatacara “methik sekar” Wijayakusuma, berziarah ke goa Sela Masigit adalah wajib dan penting bagi Kraton Mataram Surakarta. Petilasan para pemimpin Dinasti Mataram sejak Panembahan Senapati, bahkan jauh sebelum itu, adalah bagian penting kekuatan spiritual religi dan kebatinan kraton, meskipun sudah tak “memilikinya”.
Oleh sebab itu, dua tujuan, dua manfaat dan dua kekuatan telah didapat kraton sekaligus dalam satu kali/kesempatan kunjungan ziarah dan tatacara ritual “methik sekar” Wijayakusuma. Nilai manfaat idealistik inilah yang patut diapresiasi dan “disyukuri”, mengingat peristiwa itu insidental, tak pernah (bisa) direncanakan, berlangsung dalam suasana zaman jauh berbeda dan serba terbatas (cupet-Red).

Bagi Sinuhun PB XIV Hangabehi, “apapun wujudnya” sekar Wijayakusuma yang berhasil dipetik dalam upacara adat lengkap dengan “protokol sedikit berubah” karena situasional itu, adalah pemenuhan syarat khususnya secara spiritual kebatinan. Karena, sekar Wijayakusuma telah menjadi simbol “wahyu kamulyan” dan “wahyu kanarendran” sejak Dinasti Mataram didirikan, bahkan sejak zaman Majapahit.
“Wahyu kamulyan” dengan simbol sekar Wijayakusuma seperti yang dimiliki Bathara Wisnu atau Bathara Kresna (dalam pewayangan), adalah simbol persyaratan spiritual kebatinan. Para pemimpin Dinasti Mataram, bahkan kraton-kraton leluhur jauh sebelumnya, selalu berupaya menjaga keseimbangan simbol kekuatan kepemimpinannya. Yaitu, harus seimbang antara kekuatan spiritual religi dan kebatinannya.
Untuk kebutuhan itu, Sinuhun PB XIV Hangabehi sudah mewujudkan perjalanan spiritual religinya dengan genap, yaitu shalat Jumat tujuh kali berturut-turut di kagungan-dalem Masjid Agung Kraton Mataram Surakarta. Bahkan, bisa menggenapi sampai 14 kali Jumatan di sejumlah masjid peninggalan leluhur di luar Surakarta, termasuk di Selo (Grobogan), Sunan Kalijaga (Demak) dan Kutha Gedhe (Jogja).

Perjalanan spiritual religi yang sekaligus bisa dirasakan sisi kekuatan spiritual kebatinannya, menjadi modal internal pribadi Sinuhun PB XIV Hangabehi, sesuai gelar yang disandang sebagai pemimpin Kraton Mataram Islam. Sekar Wijayakusuma melengkapi syarat spiritual kebatinannya sebagai pemimpin (masyarakat) adat, sekaligus simbol pemimpin pelestarian Budaya Jawa, jauh ke luar Dinasti Mataram.
Kesabaran masih diuji, karena perjalanan menggenapi persyaratan simbol spiritual religi dan spiritual kebatinannya tinggal selangkah lagi. Tidak perlu “nggege mangsa”, tetapi cukup mengikuti irama “alam” menuju puncak perjalanan tahta. Hal itu, selalu diingatkan sang bibi, Gusti Moeng dalam berbagai kesempatan. Menjadi pemimpin dengan gelar SISKS Paku Buwana memang tidak gampang syarat dan jalannya.
Ketika kalimat terakhir itu diurai dan dianalisis, maka tampilnya Sinuhun PB XIII bisa dijadikan “kaca brenggala” atau contoh nyata. Bagaimana mendapatkan seorang pemimpin yang harus “tetap konsisten” memenuhi syarat, “proses dan modalnya”, yang hasil akhirnya seperti yang tampak sebagai keniscayaan selama 21 tahun lalu (2004-2025). Ada yang tak seimbang, bahkan tidak genap, antara 2 hal penting itu.

Dua hal yang tak seimbang atau “tidak genap” itu, salah satunya diungkap GBPH Yudaningrat di forum sarasehan keluarga besar Catur Sagatra, di makam bekas Kraton Kartasura, Minggu (26/4) lalu. Hasil diskusi “jagongan” adik Sultan HB X dengan Sinuhun PB XII waktu bertemu di Festival Kraton Nusantaran (FKN) tahun 1996, jelas sekali disebutkan bahwa modal figur calon Paku Buwana itu “cacat”.
Selain berbagai masalah dan huru-hara yang terus terjadi sejak 2004 sampai akhir hayatnya, ternyata pendahulunya (Sinuhun PB XIII) juga tidak menjalankan upaya spiritual. Dia juga ternyata “tidak menjalankan” shalat Jumat tujuh kali seperti diteladankan leluhurnya, Sinuhun PB X. Selain perjalanan spiritual religi, upaya perjalanan spiritual kebatinan “methik sekar” Wijayakusuma, juga tidak dilakukan.
Itulah realitas pahit yang harus diterima, sebagai konsekuensi dari sikap konsisten untuk menegakkan konstitusi paugeran adat. Itu adalah risiko yang harus dibayar dari upaya menegakkan kehormatan, kewibawaan, harkat dan martabat kraton. Itu adalah pengalaman berharga yang harus dijadikan “kaca brenggala” dan pengingat bagi seluruh masyarakat adat, bahwa aturan harus konsisten ditegakkan.

Bahwa Kraton Mataram Surakarta dihormati, dipandang kewibawaan, punya harkat dan martabat, itu karena selalu konsisten menjaga konstitusi paugeran adat. Risiko apapun harus diterima dengan tulus dan ikhlas, demi tegaknya paugeran adat. Terlalu lama kraton diremehkan dan dipandang sebelah mata, karena kehormatan, kewibawaan, harkat dan martabatnya dikorbakan, bahkan “diinjak-injak” sendiri.
Sikap dan “perjuangan” untuk menjaga tetap tegaknya paugeran adat, di satu sisi membelah keutuhan kekerabatan di antara masyarakat adat Mataram Islam Surakarta. Tetapi di sisi lain tidak bisa dihindari, memberi keniscayaan telah melahirkan orang-orang atau kelompok yang tega “menginjak-injak” kehormatan, kewibawaan, harkat dan martabat kraton, yang menjadi “rumah besar” dan “habitatnya” sendiri.
Kini, ketika proses dan modal untuk mendapatkan pemimpin baru sudah sesuai, genap dan lengkap, tinggal “keberuntungan” yang hanya bisa dijawab oleh Sang Maha Kuasa . Mudah-mudahan tidak salah, karena Sinuhun PB XIV Hangabehi sudah “The Right Man” dan berada “The Right Place”, jalannyapun lurus (“The Right Track”). Kalau KGPH PA Tedjowulan tidak punya “wahyu Ratu”, mudah-mudahan “dialah” pemiliknya.
(Won Poerwono – bersambung/i1)
