Ada Pakasa yang Bisa Melewati Capaian itu, Walau Baru Menjalani Periode Pertama
IMNEWS.ID – MUMPUNG momentumnya masih ada/terasa di awal era pemimpin baru Sinuhun PB XIV Hangebehi, para perancang dan penyusun “nomenklatur” (baru) Bebadan Kabinet 2004, sepertinya perlu juga melakukan “refreshing”. Selain menyegarkan standar kebutuan internal, eksternal, bersifat umum dan khusus, juga perlu menegaskan pedoman standar agar tak melahirkan peluang “diskresi”.
“Diskresi” (kebijakan) sering dilakukan jika ada “kekosongan” aturan karena memang belum pernah ada atau pernah ada tetapi dihapus, atau tidak termasuk (luput) dari aturan yang sudah ada. Pembenahan yang akan dilakukan Gusti Moeng selaku pimpinan Bebadan Kabinet 2004 sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat, tentu berdasar evaluasi dan fakta di lapangan yang belum sesuai aturan yang ada.

Pembenahan terhadap semua hal yang menyangkut jalannya roda organisasi lembaga Kraton Mataram Surakarta dan semua organ-organ unsur dan elemennya, sangat diyakini ada yang “disesuaikan” dengan perkembangan zaman. Terhadap hal-hal seperti inilah, mirip dengan rasionalisasi yang pernah disebut KPH Dr Raditya Lintang Sasangka, tokoh lembaga kapujanggan yang memimpin Sanggar Pambiwara.
Salah satu hal yang “disesuaikan” dengan perkembangan zaman dan sedang berjalan yaitu, bergantinya fungsi dan peran kerabat sentana (darah-dalem) dan keluarga inti/utama sebagai daya dukung kelembagaan, tata-nilai adat, kegiatan upacara adat dan pelestarian budayanya. Pelan-pelan, fungsi dan peran itu berganti ke elemen Pakasa cabang yang ditandai fenomena abdi-dalem yang dijadikan sentana.

Tak hanya sampai di situ, karena elemen abdi-dalem atau “kawula” yang semula berada pada posisi daya dukung untuk “ngalab berkah”, pelan-pelan juga akan digantikan oleh warga Pakasa. Fenomena perubahan ini bisa dilihat, saat digelar upacara adat. Di situ hadir para abdi-dalem yang “masuk” tidak melalui Pakasa cabang atau Punjer, berbaur dengan yang direkrut organisasi Pakasa cabang.
Fakta di lapangan menunjukkan, abdi-dalem pada posisi “kawula” yang karena “berlipat-lipat” menjadi elemen yang sangat mendominasi itu, terdiri dari yang “suwita” melalui beberapa “pintu masuk”. Ada yang melalui pintu Komunitas Pasipamarta, Pakasa cabang dan “pintu-pintu” kecil di luar itu semua. Di antara pintu masuk itu, yang melalui Pakasa terutama di cabang-cabang sangat besar.

Dengan fakta menakisme seperti itu, seharusnya abdi-dalem yang “suwita” melalui pintu masuk organisasi Pakasa di berbagai cabang sesuai daerah asal atau tempat-tinggal, lebih terkelola dengan baik. Termasuk, segala bekal kebutuhan yang diperlukan untuk “suwita”, agar memenuhi standar minimal internal maupun eksternalnya. Begitu pula, pedoman standar untuk pribadi (khusus) atau umum.
Tetapi, karena organisasi Pakasa yang dikembangkan dari Punjer hingga cabang sekarang ini adalah Pakasa “reborn” atau “rumah baru” (new Pakasa), maka semua “penghuninya” (pengurus dan warga) kini sedang “belajar mengenal”. “Rumah” atau organisai Pakasa cabang itu punya anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART) sebagai landasan berorganisasi, yang kini sedang “dipelajari bersama”.

Dalam satu deka terakhir, termasuk cabang yang paling awal lahir (2016), semua Pakasa cabang dalam tahap sedang “belajar” mengenal satu-sama lain di kalangan anggota dan pengurus, juga belajar mengenal organisasinya. Sesuai tugasnya, mereka kini dalam tahap mengenal seni-budaya baku (Budaya Jawa) berasal dari kraton dan yang berkembang menjadi khas di daerah masing-masing daerah.
Satu dekade atau 2 periode kepengurusan organisasi cabang, umumnya cukup untuk belajar beberapa hal, terutama “berorganisasi” dan “mengenal ragam tugas”. Tetapi, ada Pakasa cabang yang bisa melewati capaian itu, walau periode pertama kepengurusannya belum berakhir. Bahkan tampak menjadi pengurus paling cepat memahami cara dan tugas berorganisasi dan jenis tugas yang harus dijalankan. (Won Poerwono-bersambung/i1)
