Misi “Membantu Meringankan Beban” yang Mencapai Beberapa Misi Lain
IMNEWS.ID – KETIKA kali pertama terdengar ada kabar warga Pakasa beberapa cabang mendapat tugas menjalankan misi “methik sekar” Wijayakusuma ke Nusamkambangan, memang baru kalangan terbatas saja yang mulai memperhatikan. Semakin mendekati hari “H”-nya (2-3 Mei 2026), perhatian publik terhadap berita tentang peristiwa itu makin meluas, terutama di kalangan masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta.
Sampai akhirnya kabar itu benar-benar menjadi peristiwa nyata yang berlangsung Sabtu-Minggu (2-3/5), mungkin saja peristiwa itu ditangkap publik sebagai sebuah upacara adat yang digelar di Kabupaten Cilacap. Secara spesifik lagi, peristiwa tatacara ritual yang disebut “methik sekar” Wijayakusuma itu, mungkin yang terjadi di goa Sela Masigit dan di daratan Pulau Majeti dekat Nusakambangan.

Dan mungkin saja, publik juga menangkap informasi dari berbagai media platform, media mainstream dan media sosial pribadi warga tertentu. Yaitu informasi tentang peristiwa adat sebagai rangkaiannya yang digelar di beberapa tempat selama dua hari, 2-3 Mei 2026. Baik di Kraton Mataram Surakarta, makam Sunan Giri (Banjarnegara), di Pendapa Kabupaten Cilacap dan di “pantai kotor” dekat dermaga.
Berikut, peristiwa ritual adat juga terjadi di goa Sela Masigit (Nusakambangan) dan di Pulau Majeti. Bagi masyarakat adat khususnya warga Desa Ujung Alang, Kecamatan Kampung Laut yang tinggal di lingkungan goa Sela Masigit, peristiwa “methik sekar” Wijayakusuma mungkin bukan hal baru atau berita aneh. Mereka itu rata-rata keturunan juru-kunci, pemelihara situs cagar budaya itu turun-temurun.

“Mereka malah bisa bercerita, bahwa selama Sinuhun PB XIII jumeneng-nata, tidak pernah datang atau utusan ke Sela Masigit dan methik sekar di Pulau Majeti. Padahal, Sinuhun PB X malah memasang prasasti. Sinuhun PB XI dan XII mengirim utusan ke sana. Saya malah banyak ditanya para juru-kunci dan warga di sana, karena dikira yang bertanggung-jawab methik sekar,” ujar KRRA Panembahan.
KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Cabang Kudus), banyak mengisahkan pengalaman selama mendapat tugas sebagai “pawang hujan” dalam tim dan kepanitiaan ritual “methik sekar” Wijayakusuma, 2-3 Mei 2026. Menjawab pertanyaan iMNews.id sejak masih menjalnkan tugas hingga kembali ke kraton, Senin (4/5) dini-hari, ia menuturkan perjalanan yang dilakukannya.
“Karena tugas saya sebagai pawang hujan, maka yang bisa saya ceritakan ya kurang lebih soal itu. Tetapi karena juga mencakup unsur air lainnya, maka saya juga diminta untuk menjaga agar tidak turun hujan dan selama perjalanan menyeberang air laut tetap aman dan lancar. Untuk itu, saya harus berpuasa dan menahan buang air sejak shalat hajad setelah Subuh, sampai keseluruhan upacaranya selesai”.

“Puasanya bisa menahan, tetapi buang air kecilnya yang sulit ditahan. Karena, setelah selesai di goa Sela Masigit saya belum boleh ke belakang. Baru setelah semua menyeberang kembali ke daratan, boleh buang air. Nah, inilah yang membuat saya dicari-cari dan dipanggil melalui pengeras suara masjid. Saya sibuk di kamar mandi, karena saya ngompol dan membasahi stelan busana adat,” ujarnya geli.
Karena ngompol akibat sudah tidak kuat menahan buang air kecil, stelan busana adatnya basah semua, hingga dibantu sang istri mencucinya saat itu. Akibat dari busana adatnya sudah basah, KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro tak jadi mendapat tugas akhir untuk mendoakan kembalinya rombongan yang pemetik sekar. Meski begitu ada abdi-dalem yang di awal sudah bertugas, kembali memimpin doa.
Bagi KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro, tugas yang diberikan kepadanya sudah dijalankan secara keseluruhan sukses, dari awal hingga selesai. Misi menjalankan tugas selesai, misi mengikuti tugas mendukung ritual “methik sekar” rampung, dan masih ada misi yang bisa ikut terbantu. Yaitu misi diri dan Pakasa Kudus membantu “meringankan beban” panitia, yang faktanya memang “tidak baik-baik saja”.

Misi “meringankan beban” itu, termasuk hanya memasukkan 4 nama dalam daftar peserta keseluruhan yang menjalankan misi sekitar 200-an orang itu. Jumlah yang didaftarkan dikurangi 10 orang, agar tidak membebani (akomodasi dan konsumsi) “panitia”, yang “bergotong-royong” urunan untuk membiayai misi itu. Karena sangat menyadari, perjalanan itu menjalankan tugas ritual penting, bukan pesiar/plesir.
Dan dari tugas menjalankan misi utama yang sukses itu, justru tak sengaja bisa mendapat bonus misi yang menyenangkan. Dia bersama istrinya bisa berziarah di pertapaan tokoh leluhurnya, Sinuhun PB X di goa Sela Masigit. Mengingat, Raja terakhir yang memasang prasasti di situ, adalah leluhur trah darah-dalemnya (grade 4), dan juga istrinya, KMT Emmy Susilowati trah darah-dalem grade 9. (Won Poerwono-bersambung)
