Jadi Momentum Peningkatan Kualitas dan Makna Pasuwitan Abdi-dalem
IMNEWS.ID – SETELAH kebangkitan cabang-cabang seni Budaya Jawa khas dan yang bersumber dari Kraton Mataram Surakarta sudah mulai tampak, di awal era baru Sinuhun PB XIV Hangabehi masih terbuka peluang untuk memanfaatkan momentum “emas” ini. Kebangkitan Reh Lembisana atau cabang seni pedalangan yang berada di bawah Kadipaten Mandra Budaya, termasuk aktivasi Bale Agung sedang bergerak.
Tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi yang akan “mucuki” pentas ringgit wacucal lakon “Dewa Ruci” sebagai tanda kebangkitan, eksekusinya tinggal menunggu datangnya “Anggara Kasih ageng”. Proses “menyuntik” semangat para abdi-dalem seniman muda, sudah berjalan beberapa waktu dalam rangkaian gladen di Bangsal Smarakata. Di situ, ada para tokoh penting yang terlibat mendukung langsung.

Seni pedalangan khas yang dikelola Sanggar Pawiyatan Dalang dan Reh Lembisana di bawah Kadipaten Keparak Mandra Budaya dan Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan kraton, sekarang ini memang tepat momentumnya untuk dibangkitkan atau diaktivasi. Karena, seni pedalangan/pakeliran “gagrag” Surakarta khas Kraton Mataram Surakarta, memang sudah lumayan lama kehilangan “kukus” atau asapnya.
Padahal, selain fungsi edukasi, tuntunan dan hiburan, seni pertunjukan wayang kulit bersama pengetahuan latar-belakang sejarahnya di kraton, bisa menjadi simbol representasi sekaligus diplomasi yang strategis. Karena, kesenian ini punya potensi yang bisa “digarap” unsur atraktif, sensasi dan daya-tarik sesuai kedudukannya sebagai karya seni tangible, intangible sekaligus pusaka kraton.

Cabang-cabang seni berikutnya yang sudah mapan tetapi perlu dibenahi fungsi, eksistensi dan maknanya adalah adalah yang sudah melembaga menjadi organisasi sebagai elemen daya dukung legitimasi baik lembaga kraton maupun Budaya Jawa. Elemen Pakasa cabang merupakan organisasi yang punya potensi kekuatan daya dukung cepat berkembang, memiliki jumlah anggota banyak dan di wilayah yang luas.
Elemen Pakasa cabang yang kini tersebar di 40-an cabang (kota/kabupaten), menempati urutan pertama sebagai prioritas untuk dibenahi. Berikut, elemen Pasipamarta, Putri Narpa Wandawa dan elemen-elemen sanggar pasinaon/pawiyatan. Dari sisi prioritas, elemen Pakasa cabang menjad urutan utama untuk dibenahi karena kecepatan perkembangannya luar biasa, tetapi banyak kelemahan dimiliki.

Elemen Pakasa yang mewadahi potensi daya dukung legitimasi, memiliki beberapa unsur seni-budaya yang melekat sebagai cirikhas, tugas dan tanggungjawab dalam melestatikannya. Simbol-simbol seni budaya tata-busana, seni sastra tatabahasa, seni estetika, seni etika (pengetahuan tata-nilai) dan sebagainya, bisa direpresentasikan oleh insan Pakasa, di internal kraton maupun di masyarakat.
Kalau elemen Pasipamarta kini masih berupa komunitas perkumpulan dari 40-an “babaran” yang dihasilkan Sanggar Pasinaon Pambiwara, secara mendasar sudah memahami tugas, kewajiban, makna dan tujuan pengabdiannya, karena bekal yang didapat dari kursus Budaya Jawa dan sejarah selama 6 bulan. Demikian pula, elemen-elemen kecil yang berada di lingkaran ring 1 dan 2 Bebadan pusat di kraton.

“Saya mendengar langsung penjelasan Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA), akan segera membenahi semua Bebadan yang ada. Bahkan disebut mendesak untuk dilakukan. Pakasa dan semua perkumpulan (komunitas), harus segera dibenahi. Mumpung ada momentum yang baik dan tepat, yaitu semangat di awal era Sinuhun PB XIV ini. Saya sangat mendukung langkah-langkah itu,” ujar KP Budayaningrat.
Dwija (guru) di Sanggar Pasinaon Pambiwara ini menyebut, pembenahan di luar kelembagaan organisasi dan perkumpulan, justru sudah lebih dulu dimulai. Yaitu pembenahan protokol jalannya setiap upacara adat, termasuk penghormatan saat raja hadir di berbagai acara di lingkungan kraton. Protokol khusus untuk ini nyaris tak dikenal kalangan elemen baru, karena 2004-2025, posisi raja “jauh”. (Won Poerwono-bersambung/i1)
