KRRA Panembahan Kudus :”Ukuran kualitas bukan berdasar pangkat dan gelar…”
IMNEWS.ID – MOMENTUM era baru kepemimpinan Sinuhun PB XIV Hangabehi yang ditandai dengan berbagai pembenahan di berbagai bidang tugas, kewajiban dan tanggungjawab kelembagaan di kraton, ternyata mendapat dukungan luas. Proses pembenahan yang sudah dimulai dan sedang dilakukan Gusti Moeng selaku pimpinan Bebadan Kabinet 2004 bersama semua elemen masyarakat adatnya, mendapat simpati.
Simpati dan dukungan, sudah ditunjukkan KP Budayaningrat selaku salah satu elemen lembaga kapujanggan yang dalam kesibukan tugasnya banyak mengurusi hal-hal yang berkait dengan “pasuwitan” (pengabdian). Selain menjadi dwija di lembaga sanggar atau ruang edukasi formal yang disediakan kraton, ia juga banyak ditugaskan di luar ruang edukasi formal, yaitu saat ada upacara adat.

Tetapi, peningkatan kualitas pasuwitan tak hanya sampai di situ atau tak boleh berhenti pada batas-batas itu. Karena, pembenahan kualitas yang dimaksud Guti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua LDA) dan dalam kapasitas pimpinan yayasan sanggar pawiyatan, jauh lebih luas cakupannya, tetapi dilakukan tahap demi tahap. Dan di awal era baru ini, menjadi momentum emas untuk pembenahan itu.
Salah satu simpati dan dukungan, datang dari Pakasa Cabang Kudus yang dipimpin KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro yang juga dikenal dengan nama KRRA “Panembahan Kudus”. Trah darah-dalem Sunan Kudus yang juga trah darah-dalem Sinuhun PB X ini, memiliki pandangan sendiri yang menjadi dasar dukungan dan simpati pada inisiasi Gusti Moeng yang ingin membenahi kualitas pengabdian.

“Miturut pamanggih kula, wiwitan era anyar Sinuhun PB XIV menika saget dados wekdal ingkang sae kangge ngrembag pembenahan kualitas abdi-dalem. Mliginipun unsur Pakasa, kanthi ancas ngiyataken kraton lan nglestantunaken Kabudayan Jawi lan ningkataken kapitadosan masyarakat. Nanging pembenahan menika prayoginipun mboten dipun-wiwiti saking pemanggih,” harap KRRA “Panembahan Kudus”, kemarin.
Ketua Pakasa Cabang Kudus yang dihubungi iMNews.id, Jumat (9/10) kemarin, disampaikan dalam Bahasa Jawa krama inggil/madya. Lebih lanjut dijelaskan, pembenahan itu sebaiknya tidak berangkat dari anggapan bahwa abdi-dalem yang sebelumnya ada dianggap kurang baik. Tetapi menurutnya, lebih tepat didasari kebutuhan penyempurnaan tata-kelola, peningkatan pengetahuan dan “penguatan”.

Yaitu “penguatan” tanggung-jawab pengabdian, menyempurnakan tata-kelola organisasi Pakasa dan tugas pelestarian Budaya Jawa dengan program nyata. Lebih lanjut diharapkan, peningkatan kualitas dimaksud juga termasuk menyatukan semangat pengabdian sesuai paugeran dan tanggung-jawabnya. Menyiapkan generasi penerus di kalangan warga, juga harus menjadi prioritas pengurus Pakasa cabang.
“Saya memandang, ukuran kualitas abdi-dalem tak hanya berdasar tingginya gelar dan pangkat yang disandang. Tetapi pengetahuan yang dimiliki, tata-krama dan kesetiaan yang dilakukan serta manfaat pengabdiannya. Saya berharap, sebaiknya di awal era pemimpin baru ini, diprioritaskan untuk penguatan sistem. Kalau sistemnya jelas, adil dan dijalankan konsisten akan memperkuat legitimasi”.

“Iya. Daya dukung legitimasinya akan makin kuat. Para abdi-dalem yang sudah lama suwita, akan semakin kuat. Bagi generasi baru, juga pasti juga akan lebih yakin karena ada pedoman yang jelas proses pengabdiannya,” ujar tandas KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro itu dalam Bahasa Jawa krama inggil campur madya. Ia juga memberi ilustrasi contoh nyata yang dialaminya hingga kini.
Contoh nyata itu, adalah fakta di lapangan saat bergaul dengan para pimpinan dan warga Pakasa cabang daerah lain. Dari pergaulannya itu, didapat gambaran yang menunjukkan ketimpangan antara gelar dan pangkat yang tak sesuai dengan perilaku dan pengetahuan yang dimilikinya. Ia yakin, sebagai pimpinan Pakasa yang bertanggung-jawab, harus selalu berusaha meningkatkan kualitas bersama. (Won Poerwono-bersambung/i1)
