Tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi, Bangkitnya Cabang-cabang Seni di Kraton (seri 4-bersambung)

  • Post author:
  • Post published:October 8, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi, Bangkitnya Cabang-cabang Seni di Kraton (seri 4-bersambung)
MEMBACA JANTURAN : Semangat belajar dan menguasai dasar-dasar seni pakeliran, tampak sekali dilakukan Sinuhun PB XIV Hangabehi. Keteladanan seperti ini, sangat diperlukan generasi muda di zaman krisis identitas saat ini. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Keluarnya 13 Gamelan dan Sinuhun Berlatih Mendalang, Simbol Nyata Era Baru

IMNEWS.ID – SEMALAM, Rabu (7/10) adalah malam kedua Sinuhun PB XIV hadir di Bangsal Smarakata, berlatih “mucuki bedhol kayon” untuk pertunjukan wayang kulit yang diagendakan akan digelar pada Anggara Kasih gedhe, mendatang. Walau baru dua kali setelah yang pertama, Selasa (6/10), semalam pembawaan Sinuhun berlatih di tahap itu, termasuk sangat baik, terkesan sudah sering berlatih.

Semalam, Sinuhun bahkan tidak sekadar “bedhol kayon” atau mencabut gunungan sebagai tanda dimulainya pentas wayang kulit pada umumnya. Tetapi, sudah memasuki kerangka sajian lakon, bahkan lebih dari sekadar “mucuki” (menyajikan ujung). Karena, Sinuhun sudah piawai “ndhodhog” kotak sebagai tanda/aba-aba gamelan iringan “talu” ditabuh, sampai pada tahap “janturan” prolog/pengantar.

KETRAMPILAN SABET : Menghadirkan anak wayang dalam sebuah pentas pakeliran, termasuk ketrampilan “sabet”. Tahap ini sudah dikuasai Sinuhun PB XIV Hangabehi dalam berlatih “mucuki” lakon “Dewa Ruci” di Bangsal Samarakata, Rabu semalam. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Lazimnya berlatih, kebanyakan siswa seni pedalangan memang membutuhkan catatan atau buku pedoman tentang struktur lakon utuh, termasuk petunjuk gendhing iringan yang dibutuhkan. Seperti itulah yang juga dilakukan Sinuhun sebelum memulai dan melanjutkan tahapan demi tahapan dalam struktur awal, “talu”, “jejer” dan “janturan”. Sambil membaca, Sinuhun menampilkan “jejer pisowanan”.

Di adegan tahap “Pathet Enem” itu, Sinuhun menampilkan “jejer pisowanan” di Negeri Amarta, Raja Puntadewa dan seluruh tokoh Pandawa yang disertai Prabu Kresna sebagai tamu negara. Dalam adegan “pisowanan” di “pendhapi” Kraton Amarta ini, Sinuhun melafalkan “janturan”. Isi “janturan”, selain “nyandra” (melukiskan) suasana kraton, juga menyebut nama-nama yang hadir di “pisowanan”.

KARAWITAN LENGKAP : Karena waktu berlatih sangat panjang, Sinuhun PB XIV Hangabehi tetap mendapatkan kesempatan berlatih mendalang untuk lakon “Dewa Ruci”, dengan iringan karawitan lengkap, Rabu (7/9) semalam. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Jejer” pertama Kraton Amarta itulah yang menjadi “tugas” Sinuhun PB XIV Hangabehi, untuk menampilkan semangat dan kepeduliannya pada seni pedalangan atau pekliran gaya klasik konvensional “gagrag” Surakarta khas kraton. Soal “bubar pasewakan” atau “budhalan” atau jejer kedua dan seterusnya, tampaknya menjadi tanggung-jawab Ki KPH Raditya Lintang Sasangka sebagai dalang utama.

Lakon “Dewa Ruci” yang dalam versi Kraton Mataram Surakarta terdapat naskah manuskrip yang tertulis mandiri oleh Pujangga kraton, termasuk lakon berat atau “sepuh” dan panjang. Karena, dalang dituntut berkemampuan dan berwawasan “kapujanggan” untuk menyampaikan pesan bernilai estetika, etika dan spiritual kehidupan di dunia, yang di masa lampau banyak diberikan para filsuf/pujangga.

WAYANG PUSAKA : Sekotak wayang pusaka sehabis dikeluarkan dari ritual “ngisis ringgit”, dikembalikan ke ruang penyimpanannya. Kegiatan ini adalah bagian dari tugas abdi-dalem Reh Lembisana yang sedang dibangkitkan Sinuhun PB XIV. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Lakon “Dewa Ruci” inilah yang sarat nilai-nilai bekal kehidupan manusia di dunia, bahkan nilai-nilai “Ketuhanan” yang menjadi “tuntunan” bagi manusia. Oleh sebab itu, pada lakon seperti ini, sajian ringgit wacucal sedalu-natas, identik dengan sajian penuh “tuntunan”, selain unsur “tontonan” atau hiburan. Unsur hiburan bisa diwakili adegan “Limbuk-Cangik”, tetapi “guyon” yang “semu”.

Sebagai selingan, “guyon-maton” secukupnya dan tetap pada batas-batas etika dan estetika atau “semua” (bahasa bersayap), adalah porsi hiburan yang sering disebut tontonan. Tetapi, bukan unsur ini yang porsinya diperbesar mendominasi, sehingga pentas “sedalu natas” itu tak memberi pesan moral apapun seperti yang terjadi masa kini. Ini disebabkan, para dalangnya hanya sekadar bisa “mayang”.

NGISIS RINGGIT : Memuliakan wayang pusaka peninggalan leluhur Dinasti Mataram, bisa dalam bentuk “ngisis ringgit” tiap Anggara Kasih di Sasana Handrawina. Dikeluarkan untuk pentas pakeliran, juga merupakan cara ngisis dan memuliakan. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Arah edukasi dan pelurusan makna esensial seni pedalangan yang ideal seperti itulah, yang terkesan hendak dituju melalui simbol-simbol penampilan Sinuhun PB XIV Hangabehi berlatih mendalang. Bahkan, keteladanan mengesankan itu juga menjadi simbol era kebangkitan semua cabang seni di Kraton Mataram Surakarta. Dan kebangkitan itu, sudah dimulai saat ritual “njangkepi” tata-cara digelar.

Ada 13 gamelan pusaka kraton ditabuh saat ritual “njangkepi jumenengan-nata”, Sabtu (5/9) lalu. Keluarnya sejumlah gamelan iringan dan “pakurmatan” itu, disebut KRT Dr Joko Daryanto baru terjadi saat ada jumenengan Sinuhun PB XIV Hangabehi. Di semua titik lokasi gamelan terisi gamelan, bahkan memenuhi ruang di Bangsal Angun-angun dan Bangsal Pradangga yang diisi lebih dari 3 pangkon. (Won Poerwono-bersambung/i1)