Sinuhun PB V Dikenal Sebagai “Pengendhang”, “Pembonang” dan “Juru Beksa”
IMNEWS.ID – KALAU belum lama ini Sinuhun PB XIV Hangabehi memperlihatkan kepedulian dan kesungguhannya belajar “ndalang” dan mencoba tampil “mucuki” lakon “Dewa Ruci” pada pentas “malem Anggara Kasih ageng” (19/10), itu adalah pesan (message) keteladanan. Seorang pemimpin apalagi di lingkungan Dinasti Mataram Surakarta yang menjadi sumbernya Budaya Jawa, sudah sewajarnya begitu.
Jadi, kalau ada pemimpin dinasti yang tidak memiliki kepedulian dan tanda-tanda cinta terhadap tradisi, adat, seni dan budayanya, justru menjadi tanda tanya besar. Dan faktanya, Sinuhun PB XIV Hangabehi tak hanya tertarik “belajar” mendalang. Ia juga memiliki pengalaman berkesenian, misalnya saat memerankan Prabu Kresna dalam sendratari Begawan Ciptaning di RRI Jakarta, sekitar 2024.

Jika melihat situasi dan kondisi secara umum dalam satu dekade terakhir, atau di saat-saat pergantian tahta harus terjadi di Kraton Mataram Surakarta (2025), kalau ada tokoh pemimpin yang “peduli” apalagi bisa berempati, itu sudah luar biasa. Karena, tokoh pemimpin yang punya kualifikasi seperti itu sudah sangat jarang ditemukan, termasuk di lingkungan sumbernya Budaya Jawa, di kraton.
Karena, ciri-ciri pemimpin seperti itu sangat dibutuhkan publik secara luas, apalagi masyarakat adat di lingkungan kraton yang sudah mengalami krisis keteladanan. Oleh sebab itu, hadirnya Sinuhun PB XIV yang memiliki ciri-ciri kualifikasi sesuai kebutuhan di atas, sungguh merupakan tanda-tanda jaminan pelestarian simbol-simbol peradaban Jawa dan Mataram Surakarta akan terwujud.

Kualifikasi beberapa kapasitas kemampuan yang dimiliki Sinuhun PB XIV Hangabehi saat ini, mengingatkan pada ketokohan dua figur “Raja” sekaligus, yaitu Sinuhun PB IV dan putra mahkotanya yang kelak menjadi Sinuhun PB V. Pemilihan sosok tokoh Sinuhun PB IV, juga sang putra mahkota RMG Sugandi sebagai teladan, tepat sekali. Ini harus menjadi inspirasi kalangan generasi muda di lingkungan luas.
Karena ternyata, Sinuhun PB IV yang dijadikan teladan, memiliki riwayat luar biasa soal kesadaran, kepedulian, kecintaan dan keteladanan seorang pemimpin dalam menjaga aktivitas kehidupan adat, tradisi, seni dan budaya serta contoh-contoh cara melestarikannya. Jika KP Budayaningrat (dwija) mendapatkan data, bahwa karya Sinuhun PB IV adalah “karya keluarga”, inilah yang “luar biasa”.

Dari Serat Sri Radya Laksana ditemukan data, berbagai “karya” yang dihasilkan Sinuhun PB IV selama 32 tahun bertahta, disebut sebagai karya seluruh keluarga, yaitu dirinya, istri dan anaknya. Ini sangat menarik untuk diteliti dari sisi proses kekaryaan dalam sebuah keluarga “Raja”. Karena, semua produk karya yang dihasilkan saat tahtanya, “dikerjakan”, “dikelola” dan “dibiayai” keluarga.
“Jadi, selain Serat Tjenthini (dikerjakan tim enam orang), semua produk karya zaman Sinuhun PB IV dan PB V, ya disebut karya keluarga. Di sana ada karya tari dan gendhing. Bahkan, Sinuhun PB V saat masih Pangeran Adipati Anom, menjadi pengendhang, pembonang dan juru-beksa. Fragmen Klana-Sekartaji, Bancak-dhoyok, Sembung Langu, Srimpi Ludira Madu, adalah karya keluarga,” sebut KP Budayaningrat.

Totalitas dalam berkarya seperti dicontohkan Sinuhun PB IV dan PB V kini sulit diwujudkan siapapun, apalagi oleh pihak yang “buta” dalam berkesenian. Tetapi bukan soal sisi materi yang menjadi bagian penting dari totalitas kekaryaan yang perlu diteladani. Melainkan semangat kesadaran, kepedulian, keteladanan, kecintaan dan empati yang harus selalu ditebar di lingkungan kecil dan besar.
Riwayat karya tari Srimpi Ludira Madu, tari Bedhaya Dura-Dasih dan produk karya kapal (perahu) “Rajamala”, adalah rangkaian karya selama 32 tahun tahta Sinuhun PB IV yang dibantu RMG Sugandi saat masih putra mahkota hingga jumeneng-nata sebagai Sinuhun PB V (1820-1823). Maka, ketiga karya itu adalah “dokumentasi” hubungan darah antara Kraton Mataram Surakarta dan Madura (Kadipaten Pamekasan). (Won Poerwono-habis/i1)
