Pentas Sinuhun PB XIV Hangabehi, Cara Memuliakan Pusaka Leluhur (seri 10-habis)

  • Post author:
  • Post published:
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Pentas Sinuhun PB XIV Hangabehi, Cara Memuliakan Pusaka Leluhur (seri 10-habis)
EMPATI DAN PEDULI : Sungguh berungung kraton memiliki Sinuhun PB XIV Hangabehi sebagai tokoh penerus generasi pemimpin Dinasti Mataram. Dalam situasi dan kondisi krisis keteladanan, dia punya empati dan peduli dalam tindakan nyata. (Foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sinuhun PB V Dikenal Sebagai “Pengendhang”, “Pembonang” dan “Juru Beksa”

IMNEWS.ID – KALAU belum lama ini Sinuhun PB XIV Hangabehi memperlihatkan kepedulian dan kesungguhannya belajar “ndalang” dan mencoba tampil “mucuki” lakon “Dewa Ruci” pada pentas “malem Anggara Kasih ageng” (19/10), itu adalah pesan (message) keteladanan. Seorang pemimpin apalagi di lingkungan Dinasti Mataram Surakarta yang menjadi sumbernya Budaya Jawa, sudah sewajarnya begitu.

Jadi, kalau ada pemimpin dinasti yang tidak memiliki kepedulian dan tanda-tanda cinta terhadap tradisi, adat, seni dan budayanya, justru menjadi tanda tanya besar. Dan faktanya, Sinuhun PB XIV Hangabehi tak hanya tertarik “belajar” mendalang. Ia juga memiliki pengalaman berkesenian, misalnya saat memerankan  Prabu Kresna dalam sendratari Begawan Ciptaning di RRI Jakarta, sekitar 2024.

PENGALAMAN BERKESENIAN : Pentas sendratari “Begawan Ciptoning” yang diinisiasi Gusti Moeng beberpa tahun lalu, adalah satu di antara beberapa pengalaman berkesenian Sinuhun PB XIV Hangabehi. Empati dan peduli yang patut diteladani. (Foto : iMNews.id/Dok)

Jika melihat situasi dan kondisi secara umum dalam satu dekade terakhir, atau di saat-saat pergantian tahta harus terjadi di Kraton Mataram Surakarta (2025), kalau ada tokoh pemimpin yang “peduli” apalagi bisa berempati, itu sudah luar biasa. Karena, tokoh pemimpin yang punya kualifikasi seperti itu sudah sangat jarang ditemukan, termasuk di lingkungan sumbernya Budaya Jawa, di kraton.

Karena, ciri-ciri pemimpin seperti itu sangat dibutuhkan publik secara luas, apalagi masyarakat adat di lingkungan kraton yang sudah mengalami krisis keteladanan. Oleh sebab itu, hadirnya Sinuhun PB XIV yang memiliki ciri-ciri kualifikasi sesuai kebutuhan di atas, sungguh merupakan tanda-tanda jaminan pelestarian simbol-simbol peradaban Jawa dan Mataram Surakarta akan terwujud.

TINDAKAN NYATA : Berlatih bersama para penari yang mempersiapkan pergelaran tari, beberapa tahun lalu, adalah pengalaman dan tindakan nyata calon pemimpin Dinasti Mataram yang kini jumeneng sebagai Sinuhun PB XIV Hangabehi. (Foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Kualifikasi beberapa kapasitas kemampuan yang dimiliki Sinuhun PB XIV Hangabehi saat ini, mengingatkan pada ketokohan dua figur “Raja” sekaligus, yaitu Sinuhun PB IV dan putra mahkotanya yang kelak menjadi Sinuhun PB V. Pemilihan sosok tokoh Sinuhun PB IV, juga sang putra mahkota RMG Sugandi sebagai teladan, tepat sekali. Ini harus menjadi inspirasi kalangan generasi muda di lingkungan luas.

Karena ternyata, Sinuhun PB IV yang dijadikan teladan, memiliki riwayat luar biasa soal kesadaran, kepedulian, kecintaan dan keteladanan seorang pemimpin dalam menjaga aktivitas kehidupan adat, tradisi, seni dan budaya serta contoh-contoh cara melestarikannya. Jika KP Budayaningrat (dwija) mendapatkan data, bahwa karya Sinuhun PB IV adalah “karya keluarga”, inilah yang “luar biasa”.

BANYAK EDUKASI : Banyak edukasi yang bisa dicermati dari pilihan Sinuhun PB XIV Hangabehi terhadap keteladan Sinuhun PB IV dan PB V. Tari Srimpi Ludira Madu karya PB V untuk mendokumentasi simbol darah Madura. (Foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dari Serat Sri Radya Laksana ditemukan data, berbagai “karya” yang dihasilkan Sinuhun PB IV selama 32 tahun bertahta, disebut sebagai karya seluruh keluarga, yaitu dirinya, istri dan anaknya. Ini sangat menarik untuk diteliti dari sisi proses kekaryaan dalam sebuah keluarga “Raja”. Karena, semua produk karya yang dihasilkan saat tahtanya, “dikerjakan”, “dikelola” dan “dibiayai” keluarga.

“Jadi, selain Serat Tjenthini (dikerjakan tim enam orang), semua produk karya zaman Sinuhun PB IV dan PB V, ya disebut karya keluarga. Di sana ada karya tari dan gendhing. Bahkan, Sinuhun PB V saat masih Pangeran Adipati Anom, menjadi pengendhang, pembonang dan juru-beksa. Fragmen Klana-Sekartaji, Bancak-dhoyok, Sembung Langu, Srimpi Ludira Madu, adalah karya keluarga,” sebut KP Budayaningrat.  

BEDHAYA DURADASIH : Tari Bedhaya Duradasih karya Sinuhun PB IV saat dipentaskan di Pendapa ISI Kentingan, Surakarta, menjadi salah satu karya yang menyimpan peristiwa hubungan darah antara Kraton Mataram Surakarta dengan Madura. (Foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Totalitas dalam berkarya seperti dicontohkan Sinuhun PB IV dan PB V kini sulit diwujudkan siapapun, apalagi oleh pihak yang “buta” dalam berkesenian. Tetapi bukan soal sisi materi yang menjadi bagian penting dari totalitas kekaryaan yang perlu diteladani. Melainkan semangat kesadaran, kepedulian, keteladanan, kecintaan dan empati yang harus selalu ditebar di lingkungan kecil dan besar.

Riwayat karya tari Srimpi Ludira Madu, tari Bedhaya Dura-Dasih dan produk karya kapal (perahu) “Rajamala”, adalah rangkaian karya selama 32 tahun tahta Sinuhun PB IV yang dibantu RMG Sugandi saat masih putra mahkota hingga jumeneng-nata sebagai Sinuhun PB V (1820-1823). Maka, ketiga karya itu adalah “dokumentasi” hubungan darah antara Kraton Mataram Surakarta dan Madura (Kadipaten Pamekasan). (Won Poerwono-habis/i1)