Padahal Naskah Manuskripnya Banyak Menulis Sisi Edukasi Idealistik
IMNEWS.ID – PERISTIWA digitalisasi naskah-naskah manuskrip koleksi Sasana Pustaka Kraton Mataram Surakarta, yang sedang digarap sebuah tim dan dibiayai British Library, selain menunjukkan nilai manfaat (iMNews.d, 28/9) juga memberi fakta lain. Yaitu fakta-fakta tentang ragam peristiwa, kisah dan pengetahuan tentang berbagai bidang kehidupan yang hampir semuanya positif idealistik.
Memang ada lebih dari 1.300 naskah yang selama ini hanya beberapa saja dikenal publik secara luas. Itu berarti, masih banyak yang belum diketahui isinya apakah termasuk kategori positif idealiastik, atau sebaliknya, berlawanan dari hal-hal yang ideal dan positif. Tetapi, kalau selama ini kraton dan Budaya Jawa diasumsikan sumbernya “pitutur luhur”, maka itulah cerminan isi Sasana Pustaka.
Ketika semua nilai-nilai dan kearigan budaya yang tercakup dalam “pitutur luhur” menjadi gambaran umum isi semua naskah manuskrip Sasana Pustaka, maka kemudian muncul pertanyaan besar. Mengapa selama ini puiblik secara luas, dunia pendidikan sampai kalangan kampus dan intelektualnya, lebih banyak bertutur, membuat stigma, konsep dan hal-hal lain di luar yang positif dan ideal itu?.
Bahkan, banyak kalangan ahli sejarah dan para praktisinya di berbagai forum dan media informasi/komunikasi, bahkan sampai berlarut-larut hanya membahas dan mempersoalkan hal-hal yang jauh dari sisi positif dan ideal sesuai isi naskah-naskah manuskrip di Sasana Pustaka itu?. Ketika iMNews.id berusaha memotret fakta dan berusaha memahami “petanya”, memang tampak agak jelas gambarannya.

Tetapi peta atau konstelasi antara karya-karya sastra koleksi Sasana Pustaka dan di tempat lain seperti Museum Radya Pustaka, dengan karya-karya penulisan sejarah yang rata-rata dihasilkan dari luar likungan kraton bahkan dari luar negeri, tampak tidak seimbang. Dari analisis iMNews.id, belum bisa disandingkan “apel to apel” antara karya manuskrip (internal) dengan karya penulis eksternal.
Kondisi tak sebanding “apel to apel” antara karya-karya para tokoh leluhur Dinasti Mataram, Pujangga, Empu, Carik-dalem dan sejenisnya dengan karya-karya para penulis eksternal, karena ada beberapa perbedaan. Alasan dan tujuan, adalah salah satu yang bisa dimaknai menjadi dasar karya penulisan tokoh para leluhur Dinasti Mataram, Pujangga, Empu, Carik-dalem dan sejenisnya.

Alasan karya-karya penulisan dibuat, contohnya untuk menunjukkan asal-usul secara adat yang disebut “silsilah”. Karena basis komunal masyarakat adat yang bisa dihimpun dengan tata-nilai adat untuk keperluan menjaga stabilitas dan kelangsungan dinasti, maka penulisan karya silsilah menjadi penting. Bahkan, dalam banyak versi, silsilah juga dilengkapi penjelasan kronologis dan aspek lain.
Alasan berikut dari penulisan para tokoh internal yang rata-rata berupa manuskrip, adalah agar dimengerti kalangan keturunan dan masyarakat adatnya secara turun-temurun. Kemudian agar dipahami dan tujuannya agar dipatuhi dan dijadikan bila menyangkut paugeran adat dan larangan, atau dikembangkan jika menyangkut pengetahuan terutama teknologi contohnya karya tosan-aji (keris).

Jika karya penulisan menyangkut pengetahuan di bidang kehidupan dan spiritual religi seperti Serat Wulangreh dan Kur’an Jawa (Sinuhun PB IV), kemudian Serat Tjenthini (Sinuhun PB V) misalnya, alasan dan tujuannya sudah jelas yaitu demi kehidupan (lahir-batin) yang lebih baik pada peradaban zaman saat itu, kini bahkan jauh ke depan. Serat Tjenthini bahkan menjadi daftar “penciptaan” menu.
Isi Serat Tjenthini yang khsusus menyebut dan mengurai karya penciptaan resep menu kuliner masakan khas Jawa Surakarta, faktanya berkembang luas menjadi aneka resep yang lebih banyak lagi di wilayah luas di luar Surakarta. Bahkan, setelah ratusan tahun kemudian, ada yang “diklaim” menjadi menu khas daerah lain. Tetapi publik tak menyadari proses itu, termasuk adanya menu yang hilang.

Dari berbagai judul naskah manuskrip yang akan didigitalkan, ada yang membahas tentang asal-usul gamelan di satu sisi, proses karya kriya logam di sisi lain, dan penggunaan gamelan untuk upacara adat dan berbagai cabang kesenian lain dalam Budaya Jawa yang tercipta dan dikembangkan di kraton. Bagaimana publik bisa memahami ini sebagai rangkaian proses kekaryaan secara utuh. dengan segala aspeknya?.
Pertanyaan itu, menuntun pemahaman pada semua jenis karya manuskrip dan segala aspek bidang kehidupan yang menjadi isi lebih 1.300 judul naskah di Sasana Pustaka. Bahwa sangat rasional semua naskah yang ditulis para tokoh leluhur Dinasti Mataram, Pujangga, Empu, Carik-dalem dan sejenisnya, “hanya” (lebih fokus) pada alasan dan tujuan demi kelangsungan dinasti, dulu, kini dan kelak.

Karena untuk “alasan dan tujuan” positif dan ideal karena sasaran utamanya adalah internal keturunan dinasti dan masyarakat adat, maka hampir semua naskah yang dijaga keamanan dan kelestariannya di Sasana Pustaka, tak banyak yang “mempersoalkan” fenomena dan peristiwa konflik (keluarga), bahkan hingga berlarut-larut. Di sinilah, letak beda mendasar dengan karya eksternal tampak jelas.
Dengan melihat alasan dan tujuan itu, menjadi semakin terbuka mencari gal-hal yang menambah beda karya-karya penulisan eksternal bahkan asing (luarnegeri). Karena buku-buku, karya penelitian ilmiah, karya jurnalistik dan berbagai jenis lainnya rata-rata untuk konsumsi edukasi, curah pengetahuan, penguatan teori pengetahuan tertentu, sekadar informatif dan sejenisnya, maka capaiannya berbeda.

Salah satu capaiannya adalah keuntungan bisnis penerbitan bisa menjadi aspek menonjol dalam penelitian satu kasus atau peristiwa sejarah masa lampau, yang kemudian diproduksi dalam penerbitan buku. Aspek ini biasanya melekat dengan unsur tema berkait peristiwa menonjol, misalnya “Perjanjian Giyanti”, kisah dan biografi Sinuhun Amangkurat Agung, Perang Sultan Agung dan sebagainya.
Maka bisa dipahami, jika tema-tema dan peristiwa yang ditulis itu pasti penuh “sensasi” dan rata-rata lebih fokus pada konflik antara para tokohnya, antara lembaga keraton dan pihak lain (penjajah), unsur yang dimaknai sebagai skandal percintaannya, unsur-unsur fisik senjata atau di luar makna filosofinya, intrik politik, perselisihan, pertarungan perang, adu strategi dan sebagainya.

Beberapa motif yang menonjol dalam karya-karya penulisan tentang fenomena dan peristiwa sejarah panjang di Jawa sejak (sebelum) Kediri hingga Mataram dan Mataram Surakarta, begitu heboh, penuh sensasi kemanusiaan dan sikap sinis, menjadi fokus tema para penulis luar negeri. Para ilmuwan kampus di Tanah Air, mendapat “proyek berdebat sengit” membahas buku itu di berbagai forum seminar.
Dan perlu dipahami publik, karya buku, hasil penelitian dan jurnalnya, karya investigasi (indepht report) jurnalistik dan sejenisnya, tentu mudah (diakses-dibeli), karena sebagai produk bisnis sudah pasti dilengkapi sistem promo dan pemasarannya. Alasan, tujuan dan proses penyebarannya jauh berbeda, dibanding koleksi Sasana Pustaka, karena demi kemaslahatan dan jauh dari unsur pragmatis. (Won Poerwono-bersambung/i1)


