Ritual Methik Sekar “Wijayakusuma”, Stampel Spiritual di Zaman Modern (seri 2 – bersambung)

  • Post author:
  • Post published:April 14, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Ritual Methik Sekar “Wijayakusuma”, Stampel Spiritual di Zaman Modern (seri 2 – bersambung)
SAMBIL HALAL-BIHALAL : Sekaligus berhalal-bihalal, KRAT Bagiyono Rumeksodiningrat (Ketua Pakasa Magelang) melaporkan hasil rapat panitia di kraton, juga agenda "Methik Sekar" Wijayakusuma, saat menghadap Bupati Magelang Grengseng Pamuji. (foto : iMNews.id/Dok)

 “Pertahanan Mistis Non-Teknis”, di Saat Suasana “Kritis” Sudah Lewat

IMNEWS.ID – KIRA-KIRA setahun lalu, KGPH Hangabehi yang kini sudah berproses menggenapi perjalanan spiritualnya sebagai Sinuhun PB XIV, pernah datang di Astana Pajimatan Tegalarum. Kedatangannya di kompleks makam Sinuhun Amangkurat Agung, Desa Pasarean, Kecamatan Adiwerna, Slawi/Tegal itu, ziarah Ruwahan.

Didampingi tiga adik dari keluarga paman/bibinya dan rombongan kecil Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpin KP Siswanto Adiningrat, pejabat Pengageng Kusuma Wandawa waktu itu, mengisi kunjungannya dengan membagikan “kekancingan” untuk abdi-dalem juru-kunci setempat. Tabur bunga, doa dan ziarah mereka lakukan.

Begitu semua inti agenda acara selesai, KGPH Hangabehi diajak warga Pakasa Cabang Slawi/Tegal dan unsur pamong makam ke samping (barat) cungkup makam Sinuhun Amangkurat. Di situ, sudah disiapkan bibit tanaman pohon Wijayasakusuma, secara simbolis diserahkan warga Pakasa setempat, lalu ditanam bersama KGPH Hangabehi.

SIAP DIBAGIKAN : Buku tentang “Sekar Wijayakusuma” dan maknanya bagi sebuah peristiwa di awal era Sinuhun PB XIV tahun 2026 ini, sudah disiapkan Ki Dr Purwadi. Buku dengan judul nama kembangnya itu, kini siap dibagikan. (foto : iMNews.id/Dok)

Waktu itu, yang ditanam baru satu, tetapi kira-kira setahun kemudian bibit pohon Wijayakusuma sudah ada “temannya”, warga Pakasa setempat menambah 2 atau tiga batang lagi. Ketika KRAT Heriyanto Wironagoro dihubungi iMNews.id di awal tahun lalu, mengirimkan foto sedang menengok tanaman Wijayakusuma di samping “cungkup”.

“Sesepuh” dalam susunan pengurus Pakasa Cabang Tegal/Slawi (2025-2030) yang diketuai KMT drg Fitri Arini Nursapti Pusponegoro itu, mengirim foto-foto pohon bunga itu. Ia menyebut, sejak ditanam hingga kini, tiga batang pohon itu belum pernah sekalipun berbunga, sehingga belum bisa dilukiskan wujud dan aromanya.

Waktu itu, sejarawan Ki Dr Purwadi memunculkan data-data tentang keberadaan kembang Wijayakusuma dan makna pentingnya bagi Sinuhun Paku Buwana (PB) dan bagi lembaga Kraton Mataram Surakarta. Kemudian, disertakan juga data-data tentang tata-cara memetik kembangnya, serti disebut tokoh yang berjasa memetiknya.

SAAT BERBUNGA : Kurang-lebih seperti yang tampak pada foto ini, wajah bunga Wijayakusuma ketika sedang mekar. Lokasinya Pulau Nusakambangan sulit dijangkau, tetapi akan ada utusan dari kraton memetiknya, untuk Sinuhun PB XIV Hangabehi. (foto : iMNews.id/Dok)

Waktu terus berjalan, dan ternyata di Kraton Mataram Surakarta punya peristiwa yang dimulai dari wafatnya Sinuhun PB XIII (2/11/2025). Dari situlah waktu terus berjalan, dinamika internal terus bergulir. Proses pergantian tahta terjadi, banyak “batu rintangan”, beritanya meluas melalui media umum dan medsos pribadi.

Kini, Sinuhun PB XIV Hangabehi sudah menjelang genap segala persyaratan yang dibutuhkan, terutama “Ngelmu Ratu”. Dia tinggal menjalani proses untuk “nggayuh Wahyu Ratu”, setelah perjalanan spiritual shalat Jumat genap 14 kali di berbagai masjid peninggalan dinasti. Dan ternyata, ada mekanisme yang terus berjalan.

Gayung-bersambut, ketika tiba-tiba ada rapat sejumlah Pimpinan Pakasa Cabang bersama Pangarsa Pakasa Punjer (lewat zoom virtual), digelar Pakasa Cabang Magelang. Dari situ, bergulir makin membentuk sebuah agenda besar rencana “methik sekar” Wijayakusuma ke Pulau Nusakambangan, yang langsung disambut dukungan luas.

JENIS YANG SAMA : Bibit pohon Wijayakusuma yang diserahkan warga Pakasa Cabang Tegal/Slawi kepada KGPH Hangabehi, waktu itu. Jenis pohon seperti yang ada di Nusakambangan itu, hendak ditanam di dekat makam Sinuhun Amangkurat Agung. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Agenda yang di dalamnya ada para pelaksana, objek yang dituju dan kebutuhan sarana yang terus berproses ke arah matang dan siap itu, di sisi lain ternyata ada dasar pemandunya secara lengkap. Ki Dr Purwadi menyebut, banyak “Babad” yang mendokumentasi peristiwa “methik sekar” Wijayakusuma hingga PB XI tertulis.

“Ada Babad Magelang, Babad Tegal, Babad Surakarta dan sebagainya. Masih tersimpan di Sasana Pustaka (Perpustakaan Kraton Mataram Surakarta). Semua mengisahkan proses memetik sekar Wijayakusuma pada zamannya. Ritual ini memang tidak populer, karena mistis. Bahkan ada yang menyebut musyrik, ujar Ki Dr Purwadi.

Terlepas dari adanya potensi sikap publik yang tak menyukai hal-hal yang divonis
berbau klenik, musyrik dan syirik, itu adalah realitas perkembangan sikap, cara pandang dan anggapan sebagian masyarakat menjelang dan diawal era reformasi. Jauh sebelum itu (1945), sekar Wijayakusuma punya makna bagian dari “pertahanan diri”.

DITANAM BERSAMA : KGPH Hangabehi menanam bibit pohon Wijayakusuma di samping makam Sinuhun Amangkurat Agung, kira-kira 2 tahun lalu. Bibit ditanam sejenis yang ada di Nusakambangan itu, ditanam bersama para abdi-dalem Pakasa Tegal. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Tetapi, masa-masa dengan suasana kritis dan sensitif terhadap hal-hal berbau spiritual kebatinan atau mistis dan bersifat non-teknis itu, sepertinya “sudah lewat”. Namun, persoalan “pertahanan mistis non-teknis” bagi diri seroang pemimpin (Sinuhun PB XIV Hangabehi) dan kelembagaan kraton, “mutlak butuh itu”.

Karena simbol kehidupan sekar Wijayakusuma menjadi begian dari “pertahanan”, maka sudah tepat kalau Bebadan Kabinet 2004 menghimpun kekuatan untuk mewujudkan itu untuk Sinuhun PB XIV. Selain memiliki segala sumber daya untuk mewujudkan, ada nilai strategis idealistik dan monumental ketika ikut terlibat mewujudkannya.

Kalau terdengar kabar “pihak sabrang” sudah mendapatkan barang serupa, bila benar  berwujud pohon dalam pot, ada sekitar 10 jenis kembang Wijayakusuma bisa dibeli di pasar bebas. Tetapi Wijayakusuma dari goa Sela Masigit, Nusakambangan, harus didapat dengan “lelaku” dan tatacara adat penuh, layaknya memohon pada Tuhan YME. (Won Poerwono – bersambung/i1)