Digitalisasi Naskah Sasana Pustaka, Agar tak “Lungset Mungguhing Sampiran” (seri 2-habis)

  • Post author:
  • Post published:October 1, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Digitalisasi Naskah Sasana Pustaka, Agar tak “Lungset Mungguhing Sampiran” (seri 2-habis)
BERKELAS AHLI :Figur-figur seperti KRAT Supardjo Dwija Hadinagoro adalah tenaga ahli akademisi langka yang kini dimiliki Kraton Mataram Surakarta. Tenaga berkemampuan sepertinya sulit didapat dan belum tentu mau bekerja di kraton. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Digitalisasi Naskah Mengurangi “Jarak Panjang” Pemahaman Publik

IMNEWS.ID – DIGITALISASI naskah-naskah perpustakaan Sasana Putra yang hendak dituntaskan dengan proyek yang dibiayai British Library ini (iMNews, 29/9), di satu sisi memang akan memberi banyak manfaat bagi publik secara luas. Tetapi di sisi lain, berbagai pihak tetap perlu memperjuangkan fasilitas infrastruktur yang menjadi mata-rantainya, agar “wastra” tidak kusut di tempatnya menyimpan.

Digitalisasi naskah-naskah tahap terakhir yaitu 40 persen sisa dari 1.300-an judul naskah manuskrip aset yang dimiliki Sasana Pustaka Kraton Mataram Surakarta, menggembirakan sekaligus membanggakan. Karena, salah satu kekayaan intangibel yang terdiri dari berbagai bidang pengetahuan itu, akan menjadi data softwere yang siap diakses melalui internet dan perangkat digital, langsung.

Walau tak lama lagi atau setelah dua tahun semua naskah selesai didigitalkan, sepertinya “pekerjaan” belum habis atau selesai di situ. Karena, walau naskah-naskah kuno sudah sampai di gawai masing-masing pribadi yang mengakses jauh-jauh dari ujung dunia melalui internet, “wastra” atau “sandangan” yang menjadi ibarat naskah itu, belum langsung bisa bermakna karena belum bisa difungsikan.

Mengapa demikian?. Karena “wastra” yang berupa naskah itu harus bisa dibaca untuk bisa memahami isinya berupa pengetahuan sesuai katalog judul yang diinginkan. Naskah asli manuskrip yang isinya ribuan judul itu, bisa dipastikan rata-rata beraksara Jawa dan berbahasa Jawa bahkan Kawi, yang hanya bisa dibaca dan dipahami oleh orang yang pernah mendapatkan pengetahuan dasar untuk itu.

TENAGA BERDEDIKASI : Hanya figur-figur yang mau berkumpul dan mengabdikan diri di Sanggar Pasinaon Pambiwara, bisa disebut tenaga ahli berdedikasi dan penuh pengabdian. Lembaga ini bisa melahirkan tenaga walau sekadar bisa “membaca”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Pengetahuan dasar yang dibutuhkan untuk bisa membaca dan memahami isi naskah-naskah itu, kini sudah menjadi “barang langka” di tempat asal naskah-naskah itu sendiri, misalnya di Kota Surakarta. Kawasan lebih luas yang kehilangan “barang langka” itu, adalah wilayah etnik Jawa yang terdiri dari Jawa Tengah, Jawa Timur dan DIY. Termasuk, mereka yang sudah keluar dari wilayah etnik ini.

Bukan hanya pengetahuan dasarnya menjadi “barang langka”, semua lembaga pendidikan di segala jenjang yang pernah mengajarkan pengetahuan tentang itu, kini juga nyaris langka. Figur-figur yang dianggap masih memiliki kemampuan untuk mengajarkannyapun, kini juga menjadi “barang langka” di negeri yang pernah bangga karena punya kekayaan budaya yang rata-rata tersimpan di otaknya.

Kini, hanya di Kraton Mataram Surakarta yang memiliki lembaga Sanggar Pasion Pambiwara, Sanggar Paes Tata-busana Pengantin Jawa gagrag Surakarta dan komunitas Pasipamarta yang “menyimpan barang langka” itu. Beberapa gelintir figur yang melembaga di situ, “otaknya” masih menyimpan pengetahuan yang pernah diakses secara langsung maupun tak langsung dari naskah-naskah Sasana Pustaka.

Di luar lembaga Kraton Mataram Surakarta, masih ada lembaga pendidikan jenjang universitas yang secara khusus membuka jurusan Sastra Daerah di Fakultas Ilmu Budaya yang dimiliki beberapa gelintir kampus saja. Itupun belum bisa dijamin bahwa semua jurusan yang dibuka, selalu mendapatkan mahasiswa yang lulusannya sesuai harapan bisa menjawab kebutuhan mengisi “mata-rantai” yang hilang.

MEMBACA PRASASTI : Bisa membaca tulisan beraksara dan berbahasa Jawa, dulunya wajib dimiliki kalangan sentana dan abdi-dalem di kraton. Selain naskah kuno, mereka harus bisa membaca “pesan” yang tertulis prasasti, misalnya “gong”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dengan melihat peta rangkaian perjalanan proses pembelajaran nilai-nilai yang punya manfaat bagi publik di atas, melalui akses internet si pusat-pusat naskah kuno termasuk di Sasana Pustaka misalnya, sangat jelas terlihat ada beberapa mata rantai yang “kosong” karena “putus”. Yaitu, ketersediaan figur yang punya pengetahuan cukup untuk membaca naskah kuno, menjadi mata rantai sangat urgen.

Soal ketersediaan figur yang bisa membaca, bahkan piawai memahami makna pesan dari setiap bagian maupun keseluruhan dari tiap judul naskah, inilah yang menjadi tantangan berat pasca digitalisasi naskah-naskah Sasana Pustaka. Karena, jumlah figur yang punya kapasitas sesuai ukuran di atas, sangat tidak memadai. Bahkan, lembaga sanggar pasinaon, hanya memiliki beberapa figur saja.

Punya ketersediaan tenaga yang bisa membaca naskah dengan baik, untuk saat ini memang sudah bisa melengkapi operasional jalannya mata rantai edukasi pasca-digitalisasi. Tetapi, posisi tenaga itu ada di mana, statusnya apa dan siapa (lembaga) yang menjadi penanggung-jawabnya, adalah persoalan yang akan muncul kemudian. Dan proses itu, belum sampai persoalan melihat kecukupan jumlahnya.

Berikut, adalah ketersediaan figur-figur yang punya kualifikasi di atas sekadar bisa (piawai) membaca naskah beraksara Jawa dan berBahasa Jawa. Figur-figur inilah yang akan memaknai semua isi naskah sesuai aluranya, dari awal hingga akhir. Karena, banyak naskah yang tersimpan di Sasana Pustaka, tak sekadar dokumentasi konsep pengetahuan, tetapi sering terbungkus dalam peristiwa.

SEBELUM 2017 : Suasana pembagian gaji bagi semua abdi-dalem garap dan sentana-garap di teras Untarasana, kraton. Mereka yang menerima gaji antara Rp 50 ribu hingga Rp 300-an ribu/bulan selama beberapa tahun itu, termasuk “tenaga ahli”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Jika figur-figur berkelas “lembaga kapujanggan” yang punya kemampuan memaknai dan menginterpretasi isi berbagai judul naskah kuno ini sudah langka dan sulit didapat dalam waktu singkat, mata rantai terjemahan yang mencakup alih aksara dan alih bahasa menjadi penting. Ini akan menjadi jembatan yang mempermudah pemahaman, dan bisa memendekkan jarak antara keterbatasan publik dengan naskah.

Tetapi, melengkapi ketersediaan kebutuhan mata rantai “terjemahan” ini pasti akan mempertimbangkan status, posisi dan lembaga otoritasnya. Dan ketika ditambah kebutuhan elemen ini, berarti ada beberapa mata-rantai elemen yang saat ini masih kosong, untuk menggerakkan proses akses naskah kuno di Sasana Pustaka melalui internet. Dan yang jelas, tidak mungkin bisa diwujudkan kraton.

Dua elemen mata rantai yaitu memberi ketersediaan tenaga pembaca yang cukup jumlah dan kemampuan, tenaga ahli “pembaca” makna (interpretator) kemudian tenaga penerjemah (alih aksara dan alih bahasa), kini menjadi hal yang sulit dimiliki kraton. Karena, kraton punya agenda rutin menjalankan tugas baku yang begitu padat tiap tahunnya, dengan dukungan dana yang selama ini pas-pasan.

Sementara, ketersediaan tiga elemen di atas, merupakan kebutuhan yang menjadi problem serius bagi kraton kini, apalagi sedang memasuki awal era kepemimpinan baru Sinuhun PB XIV Hangabehi. Publik secara luas mungkin tahu, betapa heboh dan repotnya kraton dilanda “ontran-ontran” dalam proses pergantian tahta sekarang ini, yang tentu bisa menguras energi termasuk kemampuan keuangannya.

PERNAH MERASAKAN : Sinuhun PB XIV Hangabehi ketika masih berstatus “pegawai” (sentana-garap) di salah satu “Bebadan” yang dipimpin Gusti Moeng sejak 2004, pernah merasakan beratnya keuangan kraton untuk menggaji para pegawainya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Melihat fakta dan realitas seperti itu, rupanya sulit bagi kraton untuk bisa mencukupi ketersediaan tiga mata rantai elemen secara swadaya mandiri. Ketika banyak figur abdi-dalem dan sentana-dalem meninggalkan tugas-tugas spesifik karena wafat dan faktor usia, menjadi bahan perenungan berat. Karena merekrut “pegawai” lulusan SLTA atau S1 untuk menggantikan, perlu sumber dana yang jelas.

Dengan melihat trend kehidupan yang makin sulit tetapi tuntutan kebutuhan terus meningkat, kraton hanya bisa berterima kasih dan menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua sentana-dalem, sentana-garap dan abdi-dalem yang masih bertahan dalam “pasuwitan” di berbagai tugas spesifik itu. Karena, mereka digaji hanya berdasar kemampuan kraton, yang mungkin jauh dari standar UMK/UMR. (Won Poerwono-habis/i1)