Mengiring Era Baru Dinasti Mataram Surakarta dengan Penuh Harapan (seri 4-habis)

  • Post author:
  • Post published:September 27, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Mengiring Era Baru Dinasti Mataram Surakarta dengan Penuh Harapan (seri 4-habis)
"KEAKRABAN SEMU?" : Benarkah citra visual yang tampak ini hanya sebagai "keakraban semu" yang diberikan salah satunya? Karena, pesan dalam foto itu bisa dimaknai berkebalikan dari video "tarik dukungan" yang sedang viral. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ada Dua Faktor tak Seiring yang Mengantar Pemimpin Baru Memasuki Eranya

IMNEWS.ID – SETELAH memetakan potensi daya dukung legitimasi terhadap lembaga Kraton Mataram Surakarta, Sinuhun PB XIV bersama Gusti Moeng selaku tokoh pemimpinnya dan juga Budaya Jawa sebagai “produknya”, kini perlu melihat faktor potensi pengiringnya. Terutama faktor-faktor yang mengantar tampilnya pemimpin baru memasuki dan memulai era baru, termasuk juga semangat dan harapan bersama.

Kalau peta daya dukung legitimasi sudah jelas kedudukan dan arahnya, setelah diinisiasi dan dilembagakan (iMNews.id, 25/9). Tetapi, dari aktivitas gerak yang mengantar Sang Pemimpin Baru memulai menjalankan tugas, kewajiban dan tanggungjawabnya sebagai SISKS PB XIV Hangabehi, ada potensi lain yang ikut terpetakan. Yaitu potensi faktor “tak setujuan” di sisi “yang bertujuan” jelas.

Faktor “setujuan” atau sama tujuannya, adalah faktor yang dimiliki semua elemen yang mendukung Sinuhun PB XIV Hangabehi, untuk mengantarnya melewati masa transisi dan mengiring saat menapaki awal era baru kepemimpinnya, sekarang ini. “Se-tujuan”, juga berarti punya arah perjuangan yang sama, untuk mengembalikan kewibawaan, kehormatan, harkat dan martabat Kraton Mataram Surakarta.  

Proses “se-tujuan” paling akhir, adalah menuju lestarinya Kraton Mataram Surakarta sampai akhir zaman, dan tetap menjadi sumber Budaya Jawa yang juga terus diupayakan pelestariannya. Dengan pemetaan arah dan tujuan seperti ini, bisa menjadi alat ukur untuk mengidentifikasi setiap individu atau kelompok, yang ingin “suwita” di kraton dan mengiring perjalanan “Sang Pemimpin” ke depan.

ADA ISYARAT : Saat memberi sambutan pada peresmian dimulainya revitalisasi kraton, KGPH PA Tedjowulan sudah menyampaikan isyarat dalam “bahasa bersayap”, yang bisa dimaknai sebagai “tarik dukungan” mirip videonya yang sedang viral. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Pemetaan dan menempatkan ukuran sebagai alat identifikasi daya dukung berbagai elemen pendukung itu penting dan urgen, agar bisa memperkecil risiko munculnya masalah yang menghambat perjalanan “searah” dan “setujuan” itu. Karena sudah menjadi kebiasaan di lingkungan manapun, apalagi kraton, ketika muncul seorang pemimpin baru, pasti banyak individu dan kelompok yang mendekat “bergabung”.

Yang “mendekat” memang belum tentu bergabung, setidaknya hanya ingin terlihat ada di lingkarannya. Yang “bergabung” juga belum tentu mendukung, karena mungkin hanya ingin mencari tempat “berkamuflase” dan berlindung agar “selamat” dari berbagai potensi ancaman. Yang tampak “mendukung” belum tentu “setujuan” dan “searah”, karena bergabung untuk mencapai misi/agenda pribadi/kelompok.

Berdasar suasana yang terjadi pada pergantian tahta di tahun 2004, bersamaan terbentuknya Bebadan Kabinet 2004, berikut tugas kerja-kerja adat yang dilakukan hingga akhir hayat Sinuhun PB XIII, tentu memberi catatan besar bagi banyak pihak. Terutama bagi yang punya kepedulian dan merasa punya tanggung-jawab, tugas dan kewajiban menjaga eksistensi kraton dan “semua produknya”.

Yaitu kepedulian pada terjaganya “keberlanjutan” (sustain) kraton dan segala tata-nilai adatnya, juga lestarinya Budaya Jawa sebagai produk peradaban sepanjang kraton eksis berabad-abad dari Panembahan Senapati selaku pendiri Dinasti Mataram. Bahkan peduli, berkewajiban dan bertanggung-jawab memelihara berbagai bentuk “pusaka” peninggalan peradaban yang panjang sebelum Mataram.

TERKESAN BERSAMA : Kebersamaan saat menghadiri upacara peresmian dimulainya revitalisasi, Rabu (23/9), semua semua terkesan baik-baik saja. Namun, video pernyataan yang beredar viral esoknya, bisa meragukan hal yang baik-baik itu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dengan pemetaan dan alat ukur di atas, bisa digunakan untuk memperkecil potensi hambatan sekaligus risiko perjalanan kepemimpinan baru ke depan. Karena, tanpa diketahui dan “dikendalikan” sejak awal, bisa menjadi sandungan dan hambatan lebih besar di tengah perjalanan ke depan. Mengingat beberapa tokoh yang punya kepedulian dan komitmen “searah” dan “setujuan” di atas, sudah di “penghujung” usia.

Perjalanan dari pergantian tahta 2004 dan 2025, sudah jelas menampilkan peta dukungan dan “potensi ancamannya” sekaligus. Tetapi, dari peta dukungan itu masih perlu fikonfirmasi tingkat kepedulian dan komitmennya berada di “arah” dan “tujuan” yang sama. Bila hal-hal ini bisa dikelola dengan baik dan tepat, akan jauh meringankan bahkan memberi jaminan kelancaran kerja adat ke depan.

Ketika pemetaan dan alat ukurnya sudah “bekerja”, pelan-pelan sambil jalan bisa “menyaring” (menyeleksi) siapa saja yang terlibat dalam proses kerja-kerja adat itu, mengingat dinamika gerak Sinuhun PB XIV ini begitu tinggi. “Proses seleksi” itu harus terjadi, untuk mengimbangi kecepatan dinamika kepemimpinan Sinuhun PB XIV yang sedang menjalankan kerja-kerja adat dan “diplomasinya”.

Di sisi lain, dinamika kerja-kerja adat dan “diplomasi” Sinuhun PB XIV Hangabehi patut diapresiasi, karena memang seperti itulah contoh pemimpin atau representasi kraton sedang ditunggu-tunggu publik. Maka, kerja “berbagi” di lingkungan terdampak kebakaran sampah TPA Putri Cempo, penyerahan bantuan air bersih di Wonogiri dan sambang WO Sriwedari, menjadi bentuk diplomasi hebat.

SEDANG BERDIPLOMASI : Sinuhun PB XIV Hangabehi yang di luar dugaan turun dari modil dan bergabung sajian musik band di Plaza Taman Sriwedari, beberapa malam lalu, menunjukkan cara “diplomasi sosial-budaya” sedang dilakukannya. (foto : iMNews.id/Dok)

Publik pasti akan terus menunggu “action” nyata Sinuhun PB XIV Hangabehi yang telah menjadi “idola” dan gambaran nyata sosok pemimpin sekaligus representasi lembaga kraton. Apalagi, kehadirannya di berbagai tempat, juga mengajak tokoh  generasi muda kerabat dekatnya, yang juga punya dedikasi dan komitmen “searah” dan “setujuan”. GRAy Putri dan BRA Lung Ayu, menjadi ikon tokoh baru di kraton.

Di satu sisi dinamika kerja adat dan diplomasi Sinuhun PB XIV Hangabehi cukup tinggi, di sisi lain memang diakui masih ada potensi penghalang/penghambat walau sudah “terpetakan” dan “terukur”. Tetapi, potensi “pengganggu” itu bisa mengurangi makna dua dimensi sekaligus. Yaitu dimensi karya bersamaan adanya pekerjaan revitalisasi, dan dimensi legitimasi karena “dukungan” yang semu.

Dukungan yang belakangan diragukan karena “terkesan semu” atau seolah-olah itu, ditampilkan dari sebuah rekaman video yang diposting sebuah media manstream, belum lama ini. Video itu melukiskan seorang tokoh yang belakangan “dipuja” karena dianggap berjasa “ikut menentukan” tampilnya Sinuhun PB XIV Hangabehi. Tetapi isi pernyataannya seakan “menarik” dukungannya dari Sinuhun Hangabehi.

Sikap yang berubah dan berbeda sekali antara rangkaian peristiwa yang tampak dengan video pernyataannya “tidak mengakui keduanya” itu, memang belum tentu demikian keberanannya. Masih perlu dikonfirmasi lagi, apakah pernyataan itu benar sebagai sikap aslinya, atau salah memahami pertanyaan atau ada proses “editing”? Atau, tokoh dimaksud sedang menjalankan strategi berdiplomasi?.

KESEPATAN TINGGI : Aktivitas kerja adat dan diplomasi sosial-budaya dengan “high speed” yang sedang dilakukan Sinuhun PB XIV Hangabehi, adalah terobosan sekaligus aksi nyata pemimpin kraton yang sudah ditunggu publik. (foto : iMNews.id/Dok)

Jika pernyataannya memang benar sebagai ekspresi sikap aslinya, berarti anggapan positif banyak pihak yang selama ini diberikan kepadanya salah besar. Dia bisa ditempatkan di posisi yang sama dengan KGPH Puger, GPH Neno dan sejumlah putra/putri-dalem Sinuhun PB XII yang lebih dulu “tidak mendukung” PB XIV Hangabehi. Akhirnya, penempatan ini menjadi konfirmasi “ketidakhadirannya”.

Seperti diketahui, beberapa tokoh di atas pelan-pelan “menghilang” setelah peristiwa 13 November 2025, wilujengan penobatan Sinuhun PB XIV Hangabehi. KGPH PA Tedjowulan yang sebelumnya hadir menemani Sinuhun PB XIV di beberapa acara, tidak tampak saat ritual “njangkepi” jumenengan-nata, Sabtu (5/9). “Bahasa bersayap” diucapkan saat peresmian revitalisasi, sebelum video “tarik dukungan” beredar. (Won Poerwono-habis/i1)