Warga Pakasa Kudus Umrah dan Doakan Sinuhun PB XIV di Masjid Nabawi

  • Post author:
  • Post published:September 26, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Warga Pakasa Kudus Umrah dan Doakan Sinuhun PB XIV di Masjid Nabawi
BAWA BANNER : MNg Rusmanto bersama istri membentang banner bergambar Sinuhun PB XIV Hangabehi di kompleks Masjid Nabawi, Kota Madinah. Doa syukur dipanjatkan karena jumenengan-nata sudah terwujud dan mohon keselamatan seterusnya. (foto : iMNews.id/Dok)

Pengurus Menunggu “Perubahan”, Mencari Kepastian Nama Adipati Tirtakusuma

KUDUS, iMNews.id – Sepasang suami-istri warga Pakasa Cabang Kudus, MNg Rusmanto Hadi Prasetyo-Nyi Ng Hastamiyah Budayaningtyas, Rabu (23/9) mengabarkan kepada Ketua Pakasa Cabang Kudus bahwa keduanya sudah tiba di Masjid Nabawi. Keduanya mendoakan keselamatan Sinuhun PB XIV Hangabehi dan keluarga Ketua Pakasa Kudus seperti gambar yang terlihat di banner yang dibawa, saat salat di Kota Madinah itu.

Kabar kedatangan pasangan suami-istri di Kota Madinah, diterima KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Kudus), Kamis (24/9). Sebelum berangkat ke tanah suci, MNg Rusmanto dan istrinya bertemu dan minta doa restu kepadanya, Senin (21/9) malam. Rapat rutin pengurus Pakasa cabang tiap Senin itu, diagendakan antara lain membahas kelanjutan soal Adipati Tirtakusuma.

“Saat pamitan, saya titip pesan agar mendoakan keselataman Sinuhun PB XIV Hangabehi sekeluarga. Juga untuk menjalankan tugas-tugasnya memimpin kraton, agar diberi kemudahan dan kelancaran. Kraton beserta seluruh isinya termasuk masyarakat adatnya, tentu juga didoakan. Seperti yang sudah dilakukan warga umrah sebelumnya, MNg Rusmanto juga membawa banner gambar Sinuhun PB XIV”.

“Ya intinya sama dengan saat Sinuhun PB XIV menjelang jumenengan-nata beberapa waktu lalu. Beberapa warga Pakasa Kudus yang hendak menunaikan umrah, saat berpamitan di acara Senin malam, pasti saya titipi pesan. Untuk mendoakan siapa saja terutama warga Pakasa yang hendak berangkat umrah, dan kebetulan Sinuhun Hangabehi yang waktu itu hendak jumenengan-nata,” ujar KRRA “Panembahan Kudus”.

MENYANDING BANNER : Banner bergambar Sinuhun PB XIV Hangabehi juga dibentang di sisi sajadah saat salat. MNg MNg Rusmanto dan istri beribadah umrah atas biaya mandiri, tiba di Madinah Kamis, sambil membawa misi dari Ketua Pakasa Kudus. (foto : iMNews.id/Dok)

Kepada MNg Rusmanto dan istrinya, lanjut Ketua Pakasa Kudus yang dimintai konfirmasi iMNews.id, Jumat (25/9) semalam, disebutkan juga dititipi pesan serupa saat tiba di Kota Madinah. Bahkan, pasangan suami-istri itu dibekalu juga banner (baliho kecil) bergambar utama Sinuhun PB XIV Hangabehi dan keluarga kecil KRRA “Panembahan Kudus”, dan dikabarkan telah didoakan semuanya.

Dari percakapan lewat WA dan foto-foto yang dibuat di Kota Madinah lalu dikirim kepada Ketua Pakasa Kudus, banner berukuran 90×60 cm itu dibentang bersama dan minta tolong orang di situ untuk memotretnya. Bahkan mengajak warga Afrika yang juga umrah untuk ikut membentang dan foto bersama. Saat melakukan salat, banner bahkan digelar di dekat sajadahnya untuk mendoakan Sinuhun PB XIV Hangabehi.

“Ya, kebetulan kok waktunya ada di sekitar Sinuhun PB XIV ‘jumeneng-nata”. Yang umrah sebelumnya waktu sosialisasi baliho beliau. Dan kebetulan, saat yang kita harapkan semua itu sudah sudah terwujud sukses, aman, lancar dan penuh damai. Rasa syukur itu tentu menjadi bagian dari doa MNg Rusmanto. Dan rapat Senin kemarin itu, membahas agenda penting kemarin,” tandas KRRA “Panembahan Kudus”.

Agenda penting itu adalah persoalan makam Adipati Tirtakusuma mertua Sinuhun Amangkurat Jawi (IV) atau kakek Sinuhun PB II, yang ditemukan setahun lalu, dibersihkan dalam kerja-bhakti warga Pakasa, lalu kembali tertutup semak-belukar. Karena sudah “diyakini” sebagai makam tokoh leluhur Dinasti Mataram dari garis wanita (ibu), Pakasa Cabang Kudus berencana hendak “memuliakan”.

MEMIMPIN RAPAT : KEEA “Panembahan Kudus” saat memimpin rapat pengurus Pakasa Cabang Kudus, Senin malam (21/9). Rapat yang diagendakan membahas tindaklanjut soal makam Adipati Tirtakusuma, tetapi ditangguhkan karena ada perkembangan. (foto : iMNews.id/Dok)

Seperti disebutkan sebelumnya, walau belum ada penelitian ilmiah dan deklarasi berkekuatan hukum dari pihak berwenang tentang lokasi yang diyakini sebagai makam Adipati Tirtakusuma itu, Pakasa Cabang Kudus berencana menindaklanjuti dalam wujud ritual khol (haul). Selain sikap tanggap mewujudkan inisiasi untuk memuliakannya, ritual dimaksud bisa jadi agenda kegiatan pelestarian budaya.

Namun, ujar KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro, dalam rapat ada penjelasan yang dianggap rasional, yaitu kabar dari warga Pakasa yang menjadi tim pencari data. Karena, informasi yang didapat dari Kantor Dinas Pariwisata Kabupaten Kudus menyebutkan, kini Pemkab sedang melakukan peroses perubahan tanggal dan bulan Hari Jadi, dari yang sudah diperingati 23 September menjadi 23 Agustus.

“Perubahan ini perlu kami tunggu sampai ada pengumuman definitif soal Hari Jadi Kabupaten Kudus. Karena, mungkin ada hal-hal lain yang berkait dengan itu ikut berubah. Dalam daftar urutan Bupati Kudus yang ada Kantor Dinas Pariwisata, tertulis nomer 1 KR Adipati Arya Padmonegoro tanpa penjelasan tahun masa tugas dan baru nomer 3 KKY Adipati Arya Tjokronegoro II ada masa tugasnya”.

“Untuk pejabat bupati nomer tiga itu, tertulis tahun 1812-1837. Terus pejabat di bawahnya, ada tahun masa tugasnya semua. Tetapi, dari kajian Dr Purwadi yang pernah ditulis iMNews.id, katanya di zaman Kraton Mataram masih di Kartasura sudah Kudus sudah punya Bupati. Apalagi, penjelasan pak Pur (Dr Purwadi) terakhir, Kudus sudah punya Bupati sejak Kraton Demak (abad 16),” ujarnya.

PUNYA KHAS : Rapat pengurus dan warga Pakasa Kudus yang bersamaan dengan pengaosan, Senin (21/9) malam, memperlihatkan kekhasan simbol adat tradisi dan religi khas Kudus. (foto : iMNews.id/Dok)

Karena adanya perubahan yang mungkin berpengaruh pada pencatatan nama-nama tokoh Bupati Kudus yang lengkap dari awal (zaman Kraton Demak-Red) itu, menurut KRRA “Panembahan Kudus” akan menunggu perkembangan sampai tuntas. Meskipun bisa diterima pula, bahwa upaya “memuliakan” berupa “wilujengan khol” tetap bisa dilakukan, tanpa tergantung oleh proses penelitian dan pemastian Hari Jadinya.

Seperti diketahui, sebelumnya KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro yang juga dikenal sebagai “KRRA Panembahan Kudus”, selaku Ketua Pakasa Cabang Kudus habis menerima tamu, bernama Samsul Bahri, warga Sleman (DIY). Kedatangan tamu yang mengaku trah darah-dalem Adipati Tirtakusuma dari Eyang Mangun Premudyo itu, ingin berziarah ke makam leluhurnya itu berdasar info iMNews.id.

Beberapa petunjuk dari berita iMNews.id yang menuntunnya ke Desa Rendeng, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus dan bisa berbicara lewat telepon setelah nomer whatsapp (WA) KRRA “Panembahan Kudus” didapat sekitar seminggu lalu, akhirnya Samsul Bahri bisa berziarah di makam Adipati Tirtakusuma. Namun, yang dianggap lokasi makam di halaman belakang kantor Dinas PUPR Kudus itu tak “sesuai harapan”.

Sesampai di lokasi karena diantar MNg Afif, juru-kunci makam Kyai Glongsor, yang didapati tanah rata yang sudah ditumbuhi semak-belukar. Kesan konotasi makam sama sekali tidak tampak, karena tidak terdapat tanda-tanda fisik berupa batu nisan, “maijan” maupun gunukan tanah pusara sedikitpun. Namun setelah bertemu langsung dengan KRRA Panembahan Kudus, lokasi itu diyakini benar makamnya.

SELALU HADIR : Ibunda Ketua Pakasa Kudus, Nyi MT Hj Tarmini Budayaningtyas (85) selalu hadir hampir di setiap kegiatan Pakasa Cabang Kudus digelar, seperti Senin malam (21/9) lalu. (foto : iMNews.id/Dok)

Kehadiran Samsul Bahri, selain menggali informasi untuk menemukan lokasi makam tokoh leluhurnya, juga makin menambah kuat informasi yang didapat KRRA Panembahan Kudus bahwa lokasi itu diyakini makam Adipati Tirtakusuma. Samsul Bahri disebut punya informasi data silsilah, mirip data milik KRRA “Panembahan Kudus”, ditambah pengalaman pernah melihat makam masih utuh di masih kecilnya.

Menurutnya, proses penelitian untuk memastikan hingga deklarasi sebagai makam Adipati Tirtakusuma, diyakini akan memakan waktu lama. Sambil menunggu waktu, sedianya Pakasa Cabang Kudus akan mulai menggelar ritual khol sebagai wujud memuliakannya, selain kerja nyata pelestarian Budaya Jawa yang wajib dilakukan. Namun, karena ada perubahan Hari Jadi, Pakasa mengambil sikap menunggu sampai selesai. (won-i1)