KPH Edy Wirabhumi :”Baliho PeLestarian Budaya Harus Dilihat Sebagai Momentum…”

  • Post author:
  • Post published:June 7, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing KPH Edy Wirabhumi :”Baliho PeLestarian Budaya Harus Dilihat Sebagai Momentum…”
BALIHO KEPEDULIAN : Baliho ketiga yang dipasang kraton di sisi lain dekat gapura Gladag, menjadi baliho kepedulian yang melukiskan simbol-simbol sinergitas dan kepedulian untuk melestarikan kraton sebagai sumber ketahanan budaya nasional. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Gusti Moeng Berharap Silaturahmi Lintas Agama Bisa Berlanjut

SURAKARTA, iMNews.id – Baliho ketiga yang sejak kemarin sudah disiapkan kerangka baja untuk memancang baliho sosialisi beberapa keperluan Kraton Mataram Surakarta, akhirnya muncul tadi malam. Baliho berukuran 6×8 meter itu bergambar rimbol sinergitas antara dua elemen penting kerabat kraton dan simbol negara. Baliho terpasang di sisi barat gapura Gladag, pintu masuk kawasan kraton.

Dengan terpasangnya baliho ketiga bergambar Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan (kiri), Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon (tengah) dan GKR Wandansari Koes Moertiyah (Ketua LDA/Pengageng Sasana Wilapa) di paling kanan, kini lengkaplah sudah berbagai simbol, makna dan keperluan terakomodasi semua. Baliho ketiga, berisi penegasan negara “Kraton adalah Cagar Budaya yang Wajib Dilestarikan”.

PIDATO SAMBUTAN : Pidato sambutan Gusti Moeng (Ketua LDA/Pengageng Sasana Wilapa) masih ditunggu semua yang hadir pada acara Pesta Rakyat dan Doa Bersama Lintas Agama, walau terlambat datang di acara yang digelar di Pendapa Pagelaran, sore tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Jadi, Baliho Pelestarian Karaton harus dilihat/dimaknai sebagai momentum menguatkan hubungan karaton dan negara. Perjuangan untuk menyambungkan kembali antara kraton dengan negara, sudah berlangsung sejak tahun 1946. Kalau dihitung dari saat itu, sudah berusia 80 tahun pada 2026 ini. Kini, gubungan itu kembali tersambung harmonis melalui bidang budaya yang menampilkan beberapa tokoh”.

“Yaitu Menteri Kebudayaan Dr H Fadli Zon SS dan sebagai simbol negara dan menjadi leading sector di bidang kebudayaan. Karena kraton adalah penjaga ketahanan budaya nasional. Kemudian Maha Menteri KGPH PA Tedjowulan dan GKR Koes Moertiyah Wandansari. Penguatan peran kraton sebagai pusat pusat budaya nasional, sebagai tujuan yang hendak dicapai dari pemasangan baliho itu,” tandas KPH Edy.

Menurut KPH Edy Wirabhumi, keberadaan baliho depan gapura pintu masuk kawasan kraton di Gladag, perlu dipahami dalam konteks yang lebih luas. Yaitu sebagai bagian dari upaya memperkuat kembali hubungan antara Kraton Mataram Surakarta dengan NKRI melalui Kementerian Kebudayaan. Ditegaskan, hubungan kraton dengan negara, memiliki arti strategis dalam menjaga ketahanan budaya bangsa.  

“Budaya merupakan salah satu unsur penting dalam sistem pertahanan nasional, yang tak boleh diabaikan. Ini menyambungkan hubungan krato dengan negara/pemerintah. Memang dimulai dari Kementerian Kebudayaan, tetapi jangan lupa bahwa di antara elemen-elemen penting pertahanan megara, adalah pertahanan budaya justru menempati posisi sangat penting,” tandas Pangarsa Pakasa Punjer itu.

IKRAR BERSAMA : Ikrar untuk menjaga kerukunan, kebersamaan dan keselamatan bangsa dan negara serta warga Surakarta termasuk kraton, semua perwakilan tampil di panggung untuk membaca sejumlah janji untuk menciptakan suasana damai dan aman. (foto : iMNews.id/Dok)

Bangsa Indonesia yang berdiri di atas prinsip Bhineka Tunggal Ika, memperoleh kekuatan dari keberagaman budaya yang dimiliki. Maka, pusat -pusat kebudayaan seperti Kraton Mataram Surakarta, harus terus dirawat dan dijaga serta mendapat perhatian negara. Baliho di Gladag, menampilkan pesan pelestarian Kraton Surakarta sebagai Cagar Budaya Nasional dan tiga tokoh yang berkecimpung di bidang itu.

Sinergitas antara ketiganya dan lembaga-lembaga yang diwakilinya, mencerminkan simbol terjalinnya kembali komunikasi dan hubungan antara kraton dengan pemerintah, yang telah menghasilkan langkah nyata berupa revitalisasi kawasan kraton. Revitalisasi bahkan tidak hanya penanganan kondisi fisiknya, tetapi juga nonfisik atau nilai-nilai budaya tak benda (intangible) yang banyak sekali.

“Setelah komunikasi dan hubungan tersambung harmonis, revitalisasi fisik lancar berlanjut dan kini bahkan sudah memasuki revitalisasi nonfisik. Persoalan-persoalan kecil tidak boleh menjebak dan berpotensi mengganggu proses yang lebih besar. Jangan sampai hubungan antara kraton dan negara menghambat, karena kraton harus terus dilestarikan dan diperkuat untuk kepentingan bangsa,” harap KPH Edy.

Sementara itu, walau sedikit terlambat datang, Gusti Masih mendapat kesempatan untuk memberi sambutan dalam acara Doa Bersama Lintas Agama yang digelar di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, Minggu (7/6) mulai pukul 15.00 WIB sore tadi.  Acara yang digelar bersama Yayasan Satu Harapan dan Kraton Mataram Surakarta itu, merupakan upaya bersama untuk menjaga situasi dan kondisi bangsa dan negara.

DI RUMAH MAKAN : Baliho sosialisasi Sinuhun PB XIV Hangabehi juga sudah tampil sebuah rumah makan di wilayah Kabupaten Kudus, seperti yang tampak terpasang di sudut kanan para pengunjung yang sedang menikmati menu masakan setempat. (foto : iMNews.id/Dok)

Yaitu, menjaga kerukunan dan keutuhan serta keselataman bangsa dan negara, khususnya masyarakat Surakarta dan Kraton Mataram Surakarta beserta isinya. Sebelumnya, ada doa bersama yang melibatkan perwakilan umat Kristen Protestan, Khatolik dan Kraton Mataram yang mewakili umat Islam. Tetapi, doa secara khusus juga disajikan dan dipimpin abdi-dalem juru-suranata RT Irawan Wijaya Pujoripuro.

Selain doa bersama, juga disajikan acara musik yang membawakan lagu-lagu kebangsaan dan beberapa repertoar tari modern sajian Yayasan Satu Harapan. Dari perwakilan yayasan, saat mendapat kesempatan sambutan berharap agar kerjasama seperti itu dilanjutkan rutin digelar secara periodik. Menurut mereka, Nusantara punya pusat kekuatan di Surakarta, dan yang menjadi pusat kekuatan kraton.

SEPERTI KAMPANYE : Dua di antara 4 santri yang berboncengan motor dalam perjalanan masih di wilayah Kabupaten Kudus hendak hadir di acara Doa Bersama Lintas Agama yang digelar kraton, sore tadi, tampak seperti sedang berkampanye. (foto : iMNews.id/Dok)

Dari berbagai elemen yang hadir, tampak MNg Rusmanto Hadiprasetyo di antara empat warga utusan Pakasa Cabang Kudus. Sambil melakukan perjalanan panjang dari Kudus, mereka membawa banner gambar Sinuhun PB XIV Hangabehi. Banner berukuran 70×100 cm itu ada 40-an, yang dibagi-bagikan saat singgah di warung-warung sepanjang perjalanan untuk dipasang di tempat yang disinggahi.

“Mereka tadi membawa 40-an lembar. Ada yang dijadikan seperti mantol, seperti berkampanye di Pilkada atau Pileg. Saya mengutus empat anggota Pakasa yang juga santri kami, karena saya tidak bisa hadir. Mengenai 150 lembar lebih baliho yang terpasang, hanya dua yang hilang, yaitu di alun-alun dan dekat Menara Kudus,” KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Kudus) menjawab iMNews.id. (won-i1)