Kamis, 2 Desember 2021
Budaya Regenerasi Harus Berjalan, Walau Zaman Tak Bikin Nyaman (1-bersambung)

Regenerasi Harus Berjalan, Walau Zaman Tak Bikin Nyaman (1-bersambung)

Baca Juga

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

Wakil Wali Kota : “Kalau Tidak Mau Dihormati, ya………..”

Sumbang Rp 5 Juta untuk Pekan Seni 90 Tahun Pakasa SOLO, iMNews.id – Pembukaan Pekan Seni dan Ekraf (Ekonomi Kreatif)...

Istana Maimun Medan Akan Dikembalikan Menjadi Ikon Kota

Dikunjungi Ketua DPD RI dan Disaksikan Ketua MAKN MEDAN, iMNews.id – Ketua DPD RI AA LaNyala Mahmud Mattalitti yang belakangan...
~Pariwara~

Gigih Menegakkan Adat, Tak Ingin Jadi Pengkhianat Dinasti

iMNews.id – JAUH-JAUH sebelum Raja Keraton Yogyakarta Sultan HB X ”punya gagasan” yang dinilai warga Dinasti Mataram berpotensi melanggar paugeran adat atau konstitusi dinasti, Gusti Moeng yang perannya sangat dominan mulai proses suksesi 2004, sudah menyadari kondisi jatidirinya yang terlahir sebagai wanita, anak ke-25 dari 35 putra/putri Sinuhun PB XII.

Kesadaran itu juga berarti, tak akan ikut-ikutan merusak paugeran adat atau konstitusi Dinasti Mataram yang sudah sangat dipahami, khususnya dalam kerangka proses regenerasi di lingkungan Keraton Mataram Surakarta. Bahkan sebaliknya, melalui momentum proses suksesi 2004 itu, pemilik penghargaan The Fukuoka Culture Prize Award dari Jepang 2012 itu tampak begitu gigihnya, mengajak semua warga dinasti untuk konsisten menegakkan paugeran adat.

Pakasa

Tak hanya itu, begitu kepemimpinan Sinuhun PB XIII goyah oleh berbagai pengaruh dari luar dan intrik di dalam, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) itu justru tampil memimpin gerakan untuk menjaga marwah paugeran adat tetap tegak. Meskipun, ada risiko besar yang harus dibayar, yaitu dirinya bersama para pengikutnya disingkirkan dari dalam, oleh kolaborasi kekuatan dari dalam dan luar keraton pada insiden April 2017 itu.

Dengan ketegasan sikap dan kelengkapan kapasitasnya, kini telah membuktikan bahwa dari antara 35 putra/putri Sinuhun PB XII, Gusti Moeng-lah satu-satunya yang tampak peduli. Namun, dia tidak sendirian. Ketika masih lengkap enam putri pendekar penegak paugeran, Gusti Moeng seakan mendapat kekuatan dukungan penuh untuk berjuang.

Karena, enam pendekar putri penegak paugeran adat itu, begitu gigih menegakkan wibawa, harkat dan martabat Keraton Mataram Surakarta beserta seluruh masyarakat ada yang melegitimasi, yang terwadahi dalam LDA. Sayang, di antara mereka rontok satu demisatu dipanggil Sang Khalik untuk mendahului menghadap, yaitu GKR Galuh Kencana dan GKR Sekar Kencana.

PROSES REGENERASI : Kekompakkan enam pendekar putri penegak paugeran adat di berbagai kesempatan saat GKR Galuh Kencana dan GKR Sekar Kencana masih hidup, secara tidak langsung menjadi bagian proses regenerasi kepada sang keponakan, GKR Timoer Rumbai Kusumodewayani yang merupakan anak tertua Sinuhun PB XIII. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Bikin Prihatin yang Berjuang

Kini, pendekar putri penegak paugeran itu tinggal empat orang, yaitu Gusti Moeng yang pernah mendapat julukan ”Putri Mbalela” karena menentang pembangunan rencana hotel di kompleks Tursinapuri. Tiga pendekar lainnya adalah, Gusti Is (GKR Retno Dumilah/kakak), Gusti In (GKR Ayu Koes Indriyah/adik) dan GKR Timoer Rumbai Kusumodewayani (anak tertua Sinuhun PB XIII).

Meski tak menggoyahkan semangat berjuang, berturut-turut meninggalnya KPA Winarno Kusumo (Wakil Pengageng Sasana Wilapa), sesepuh penegak paugeran KPH Broto Adiningrat dan juga GPH Nur Cahyaningrat (adik lain ibu), tentu membuat semua yang sedang berjuang merasa prihatin. Selain beberapa tokoh itu, masih ada beberapa pengikut setia yang mendahului menghadap Sang Khalik, yaitu tiga abdidalem jurusuranata KRT Pujodipuro, KRT Pujo Setiyonodipuro dan KRT Pujo Hartoyodipuro.

Karena posisi dan kapasitas Gusti Moeng itu, kekuatan pribadinya sudah tidak perlu diragukan lagi, ketika dikaitkan dengan gejala ”ontran-ontran” yang mulai tampak di Keraton Jogja sejak beberapa tahun terakhir hingga kini. Gejala itu, menempatkan sosok Sri Sultan HB X dipersepsikan menjadi subjek penyebabnya, dan putri tertuanya yang kemudian dinobatkan menjadi GKR Mangkubumi, adalah objek yang mulai dimunculkan ke ruang publik.

Bagi Gusti Moeng, peristiwa anomali dari sejarah konstitusi Dinasti Mataram itu tidak membuatnya tergoda untuk mengikuti pola sebuah proses regenerasi kepemimpinan ala Keraton Jogja di satu sisi, dan ala Pemprov DIY di sisi lain. Meskipun, dalam satu sisi, ada kesempatan terbuka luas bagi dirinya.

Tetapi, terbersit sedikitpun dalam pikirannya ingin meniru jejak ”GKR Mangkubumi” di Kesultananan Jogja, tidak pernah ada. Karena baginya, pola proses regenerasi model itu jelas-jelas telah melanggar kesepakatan tidak tertulis yang ada pada konstitusi Dinasti Mataram.

MEMBERI TELADAN NYATA : Sebagai Ketua LDA dan juga Pengageng Sasana Wilapa, Gusti Moeng selalu memperlihatkan kemampuannya memberi contoh dan teladan nyata sebagai seorang pemimpin, seperti ketika berbaur dalam gerakan kerjabhakti bersih-bersih lingkungan keraton yang dipimpinnya sejak 22 Maret lalu.(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Mengakomodasi Hukum Islam

Karena, konstitusi dinasti sudah jelas menegaskan bahwa siapapun yang jumeneng nata sebagai raja Mataram Islam bergelar Sinuhun Paku Buwono (PB) adalah anak lelaki dari garwa prameswari (istri permaisuri). Bila Sang Raja tidak memiliki permaisuri, aturannya kemudian adalah anak lelaki tertua dari istri (garwa ampil-Red) yang ada, yang berhak menggantikan tahta raja sebelumnya.

Jadi fakta sejarah Mataram yang menjalankan konstitusi dinasti yang mengakomodasi hukum Islam, jelas tidak ada pemimpin atau raja perempuan, karena posisi raja sama dengan imam, sedangkan imam harus lelaki. Konstitusi tidak tertulis yang mengatur soal persyaratan calon pemimpin ini, sudah disepakati dan dijalankan warga dinasti selama lebih 400 tahun hingga sekarang.

”Jadi, kalau saya sampai tergoda ke arah itu, berarti saya menjadi calon pengkhianat paugeran Dinasti Mataram. Karena, saya justru igin berjuang untuk menegakkan konstitusi dinasti yang sekarang ini sudah rusak. Biar saya perempuan, itu bukan alasan. Saya tidak peduli dengan kodrat saya ini, karena tidak ada lagi yang berani menegakkan adat. Saya lebih takut pada pesan eyang-eyang leluhur, jangan sampai melanggar adat”.

”Inilah bagian penting dari upaya menegakkan eksistensi keraton. Karena, ketika adat paugeran sudah rusak, keraton dan masyarakat adat tidak ada harganya sama sekali,” tandas Gusti Moeng dalam beberapa kali perjumpaan dan berdiskusi dengan iMNews.id, sampai kemarin. (Won Poerwono-bersambung)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini

Golkar “Memberanikan Diri” Membuka Sejarah Para Pahlawan Lewat Sarasehan

Jadi Ajang ‘’Menagih Janji’’ Wali Kota Gibran Rakabuming SOLO, iMNews.id – Dalam sepanjang sejarah NKRI lahir (1945) hingga kini, baru...

More Articles Like This