Revitalisasi Fisik Bangunan Berjalan, Karya-karya Nonfisik Juga Dirawat

  • Post author:
  • Post published:September 28, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Revitalisasi Fisik Bangunan Berjalan, Karya-karya Nonfisik Juga Dirawat
MEMBERI SAMBUTAN : Gusti Moeng saat memberi sambutan pada ritual wilujengan dimulainya "Digitalisasi Naskah-nakah Sasana Pustaka", yang digelar Bebadan Kabinet 2004" di Bangsal Smarakata, Senin (28/9) siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Wilujengan Dimulainya Digitalisasi Naskah-naskah Kuno Digelar

SURAKARTA, iMNews.id – Peristiwa pemugaran, renovasi atau revitalisasi bangunan di Kraton Mataram Surakarta yang secara fisik “serentak” terakhir dilakukan 40-an tahun lalu, dijadikan pedoman publik secara luas tentang bagaimana kraton dan negara memperhatikan nasib kraton dan semua karyanya. Setelah itu, publik juga akan melihat, kini kraton mendapat kembali perhatian negara secara khusus.

Perhatian itu, dimulai dengan revitalisasi menara Panggung Sangga Buwana dengan dana konsursium dan sudah diresmikan selesainya oleh Kemenbud RI, Desember 2025. Rangkaian perbaikan bangunan fisik yang dilakukan negara di awal pemerintahan Presiden Prabowo selanjutnya, adalah tahapan revitalisasi ruang pamer Museum Art Gallery Kraton Mataram Surakarta yang terus bergulir bertahap.

Tetapi, revitalisasi situs peninggalan sejarah yang punya peran penting bagi peradaban luas di NKRI, menurut Kemenbud RI dalam sambutan dimulainya revitalisai tahap lanjutan yang serentak di 13 lokasi, Rabu (23/9) itu, tidak hanya bangunan fisik yang terlihat saja. Melainkan semua aset peninggalan peradaban masa lalu, juga harus direvitalisasi dan dikonservasi, semuanya.

Aset peninggalan berupa karya-karya sastra yang isinya menyangkut berbagai bidang kehidupan, menurut Gusti Moeng juga harus direvitalisasi, dikonservasi dan diselamatkan agar lestari sampai akhir hayat. Hal-hal mendasat itulah yang ditegaskan Gusti Moeng, saat memberi sambutan dalam “wilujengan” dimulainya Digitalisasi (Katalogisasi) Naskah-naskah pengisi perpustakaan Sasana Pustaka.

MEMBERI DHAWUH : Gusti Moeng didampingi KMT Endang Winarniningsih, memberi “dhawuh” kapada abdi-dalem ulama RT Irawan Wijaya Pujodipuro untuk memimpin doa wilujengan yang digelar di Bangsal Smarakata, Senin (28/9) siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Jadi, kalau revitalisasi bangunan fisiknya secara serentak sudah dicanangkan pak Menteri (Kebudayaan RI) Fadli Zon (Rabu, 23/9), yang akan terus berlanjut pekerjaan proyeknya, maka, sekarang juga dimulai pemeliharaan karya-karya leluhur yang berujud naskah. Jadi, selain bangunan fisik, semua aset yang tak terlihat (intangible) juga dipelihara. Termasuk manusianya,” ujar Gusti Moeng.

Sambutan singkat Gusti Moeng diberikan, sekaligus menjadi penutup ritual wilujengan dimulainya “Digitalisasi Naskah-naskah Sasana Pustaka”. Sebelumnya, secara bergiliran Munawar Kholil (Penasihat Masyarakat Pernaskahan Nasional-Manasa) memberikan sambutan. Dia mengungkapkan, program digitalisasi ini dibiayai oleh British Library (Nggris) dan melibatkan Perpustakaan Nasional.

“Kami menyampaikan terima kasih dan penghargaan tinggi kepada Kraton (Mataram) Surakarta khususnya Gusti Moeng. Karena, kraton membuka kesempatan bagi publik yang akan mengakses informasi seluas-luasnya tentang banyak hal yang berkait dengan sejarah, budaya dan negara (RI). Peran Gusti Moeng sangat patut diapresiasi, karena sangat terbuka untuk program ini maupun fungsi setelahnya”.

Setelah Munawar Kholil, sambutan dilanjutkanKetua Komisariat Manasa Surakarta, Dr Asep Wirayudajaya. Giliran berikut, adalah penampilan KRAT Supardjo Dwija Hadinagoro salah seorang pengasuh Sasana Pustaka, yang siang itu mendapat tugas untuk menyampaikan doa dalam Budaya Jawa, berupa tembang “Singgah-singgah Kala Singgah. Sedangkan doa wilujengan dipimpin abdi-dalem ulama RT Irawan Wijaya.

MEMBERI PENJELASAN : Gusti Moeng dan para pimpinan perpustakaan nasional dan daerah, saat memberi penjelasan kepada para wartawan dalam wawancara yang berlangsung seusai wilujengan di Bangsal Smarakata, Senin (28/9) siang tadi.(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Wilujengan dimulainya program “Ditilasisasi Naskah-naskah Sasana Pustaka”, Senin siang (28/9) tadi, digelar di Bangsal Smarakata mulai pukul 11.00. Sejumlah sentana-dalem dan sentana-garap hadir ikut mendukung doa, termasuk rombongan dari kalangan pustakawan, praktisi digitalisasi dan katalogisasi naskah yang tidak kurang 100-an orang. Mereka menutup dengan foto bersama.

Di antara para pustakawan dan praktisi perpustakaan yang hadir saat itu, ada Dr Alan Feinstin asal AS yang sudah akrab dengan Budaya Jawa dan tokoh-tokoh tertentu di Surakarta khususnya. Ia pernah datang di Surakarta tahun 1980-an meneliti tentang “Lakon Carangan” seni pedalangan wayang kulit, lalu dibukukan sebagai “Babon Lakon”. Prof Fumiko Tamura dari Fukuoka, Jepang juga hadir.

Setelah mengajak foto bersama dengan semua yang hadir, Gusti Moeng mengajak para pustakawan dari Manasa Pusat Jakarta bersama jajarannya dan Perpustakaan Nasional untuk melayani wawancara dengan para wartawan. Dalam wawancara disebutkan Manasa Pusat, naskah aset Sasana Pustaka yang akan didigitalisasi tinggal 40 persen, dari lebih 200 judul naskah berisi 12 ribu halaman.

Karena, 60 persen aset naskah sebelumnya sudah didigitalisasi pada tahun 2000 dan didokumentasi dalam mikro film oleh Nancy K Florida pada tahun 1980-an. Mikro film dokumentasi waktu itu dibiayai Ford Foundation, yang menurut KRAT Supardjo perlu didigitalisasi juga. Selain semua naskah diharapkan bisa berupa digital, wujud fisik naskahnya juga perlu direparasi dan direstorasi.

SERAT TJENTHINI : KRAT Supardjo memberi penjelasan kepada para wartawan di ruang khusus di Sasana Pustaka yang menyimpan Serat Tjenthini karya zaman Sinuhun PB V yang fenomenal itu, Senin (28/9) siang tadi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam wawancara dengan para wartawan, Manasa Pusat juga menyebut, setelah semua naskah bisa didigitalkan, akan disimpan di tiga lembaga penting yaitu Sasana Pustaka, Perpustakaan Nasional dan British Library di London (Inggris). Banyak naskah aset kraton yang oleh Gusti Moeng disebut “Babon” (induk) menuskrip yang  jadi rujukan, berisi berbagai bidang pengetahuan yang bisa diakses dunia.

Dalam wawancara terakhir di ruang Sasana Pustaka, KRAT Supardjo menyebutkan, dirinya sering mendapat permintaan dari publik tentang pengetahuan tertentu di naskah yang tersimpan di Sasana Pustaka. Padahal, ia belum sempat mempelajari semua katalog naskah yang ada, karena jumlahnya banyak sekali. Satu katalog naskah, bisa berisi beberapa judul dan bidang pengetahuannya banyak sekali.

“Mulai dari masalah jamu (obat herbal) bidang kesehatan, konstruksi bangunan, seni budaya, politik pemerintahan, ekonomi keuangan, industri dan sebagainya. Serat Tjenthini saja, setelah ditulis-ulang Karkono Kamajaya (Javanologi), ada 12 judul. Tiap judul ada 300 halaman. Isinya hampir semua bidang kehidupan. Itu ditulis tim lalu dipersembahkan kepada Sinuhun PB V sebagai karya beliau”.

“Jadi, Serat Tjenthini itu bisa disebut karya Sinuhun PB V (1820-1823), yang ditulis tim enam orang (berkelas pujangga-Red). Bukan hanya berbagai bidang pengetahuan, misalnya pengetahuan sexologi, tetapi sampai sub-bidang. Buku itu juga menulis lebih dari 200 resep menu kuliner khas Jawa, Surakarta,” ujar KRAT Supardjo, pengasuh Sasana Pustaka bersama KMT Endang Winarniningsih.

FOTO BERSAMA : Para pustakawan, praktisi kepustakaan dan mahasiswa UNS yang sedang PKL di Sasana Pustaka, berfoto bersama Gusti Moeng dan para pejabat jajaran Bebadan Kabinet 2004 di Bangsal Smarakata, Senin (28/9) siang tadi.
(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam wawancara dengan wartawan, Gusti Moeng sempat menjelaskan soal naskah-naskah yang berisi tentang aset kereta dan berbagai karya seni terutama tari, pedalangan, karawitan dan seni paes tata-busana yang telah melembaga menjadi Sanggar Pawiyatan di kraton. Naskah itu juga menyebut, busana adat “basahan” pengantin wanita yang berkembang di luar, asalnya dari tari Bedhaya Ketawang.

Ketika menyinggung masalah seni pedalangan, Gusti Moeng menyebut, Pawiyatan Dalang Kraton Mataram Surakarta juga akan diaktifkan lagi, tetapi kini dimulai dari pembenahan Bale Agung, pusat sanggar itu. Berkait dengan itu, pada malam “Anggara Kasih ageng” (Selasa Kliwon) bulan depan, Bebadan Kabinet 2004 akan menggelar wayang kulit dan Sinuhun PB XIV Hangabehi akan “mucuki Bedhol Kayon”. (won-i1)