Makam Adipati Tirtakusuma Tinggal Semak-Belukar, Dicari Ahli Waris Trah (seri 6 -habis)

  • Post author:
  • Post published:September 20, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Makam Adipati Tirtakusuma Tinggal Semak-Belukar, Dicari Ahli Waris Trah (seri 6 -habis)
TEROMPET PUSAKA : KRRA "Panembahan Kudus" memimpin ritual wilujengan jamasan terompet pusaka peninggalan Kyai Glongsor. Wilujengan dilakukan di kediaman ibundanya yang dekat makam Kyai Glongsor dan makam Adipati Tirtakusuma. (foto : iMNews.id/Dok)

Pengurus Pakasa Kudus Akan Berembug, Merintis Pemuliaan Adipati Tirtakusuma

IMNEWS.IDPENGURUS Pakasa Cabang Kudus akan menggelar rapat untuk berembug membahas hal penting yang berkait dengan “temuannya”, sebidang lahan yang diyakini bagian kawasan makam Adipati Tirtakusuma Bupati Kudus pada zaman Sinuhun Amangkurat Jawi dan Sinuhun PB II. Sebidang lahan makam itu, terletak di bagian belakang pekarangan kompleks Kantor Dinas PUPR Kudus di Desa Rendeng.

Setelah ada beberapa tahapan dan proses identifikasi secara empiris, temuan sebidang lahan makam itu makin diyakini sebagai makam Adipati Tirtakusuma ayah dari Kanjeng Ratu Kentjana. Putri Bupati Kudus itu punya gelar Kanjeng Ratu Kentjana, karena menjadi “prameswari” Sinuhun Amangkurat Jawi, Raja ke-8 Kraton Mataram Islam yang berIbu Kota di Kartasura, yang melahirkan Sinuhun PB II.

Sebidang lahan makam yang diyakini sebagai makam Adipati Tirtakusuma itu, lalu dibersihkan dari tumbuhan liar yang menutupinya setelah ditemukan setahun lalu. KRRA Panembahan Kudus memimpin pengurus dan warga Pakasa cabang dalam kerja-bhakti membersihkan sebidang lahan yang diyakini berisi belasan pusara itu. Makam itu teridentifikasi, karena dekat dengan cungkup makam Kyai Glongsor.

Karena ada perkembangan baru setelah konfirmasi didapat dari Samsul Bahri, trah Adipati Tirtakusuma dari jalur Eyang Mangun Premudyo, Pakasa Cabang Kudus akan membahas langkah-langkah berikut. Di antaranya, langkah yang berkait dengan kegiatan utama Pakasa, yaitu pelestarian Budaya Jawa dalam format ritual untuk memuliakan tokoh leluhur Adipati Tirtakusuma sebagai rintisan awal riil.

KARENA SEMPIT : Karena makam dan cungkup Kyai Glongsor sempit, ziarah dan doa hanya bisa dilakukan warga Pakasa Kudus di gang menuju makam di Kampung Rendeng Wetan, Desa Rendeng. Ke makam Adipati Tirtakusuma, bahkah tak ada akses jalan. (foto : iMNews.id/Dok)

“Senin malam besok, kami semua warga Pakasa Kudus akan berkumpul. Selain pengaosan, mesti berembug membahas program kerja dan kegiatan terdekat. Adanya fenomena makam Adipati Tirtakusuma ini, jelas menjadi pemikiran kami. Itu yang paling menonjol akan kami bahas bersama pengurus. Kami mempertimbangkan adanya usulan merintis kegiatan semacam khol, untuk memaknai temuan makam itu”.

“Belum tahu nanti ada masukan apa dan keputusannya apa?, tetapi usulan kegiatan yang bersifat memuliakan semacam wilujengan atau khol, sepertinya memang tepat. Dan kami juga yakin, jika rintisan dalam bentuk ritual itu bisa mendorong pihak berwenang memastikan kebenaran makam tersebut. Apalagi, ada aktivitas positif yang bisa bermanfaat bagi masyarakat luas,” ujar KRRA Panembahan Kudus.

Bila rapat pengurus Pakasa Cabang Kudus yang dipimpin ketuanya, KRRA Panembahan Alap-alap Gilingwesi Singonegoro besok malam memutuskan akan ada kegiatan semacam ritual khol atau wilujengan untuk Adipati Tirtakusuma, berarti Pakasa cabang ini punya tiga empat agenda kegiatan. Sebelumnya, Pakasa punya khol Kyai Glongsor dan jamasan terompetnya, “Mapag Wulan Siyam” dan haul Pangeran Puger.

Dari ketiga ritual yang digelar di masing-masing lokasi berbeda, dua kegiatan  tak berbasis makam tokoh leluhur Dinasti Mataram terutama Mataram Surakarta. Hanya satu yang berbasis makam Pangeran Puger di Desa Demaan, Kecamatan Kota, tetapi posisi Pakasa hanya sebagai “tamu”. Bahkan pada kirab budaya haul tahun 2025, Pakasa Cabang Kudus tak dilibatkan, padahal punya “legitimasi” kuat.

CARA MEMULIAKAN : Warga Pakasa Cabang Kudus masih menemukan cara untuk memuliakan tokoh leluhurnya, Kyai Glongsor, yaitu kirab berkeliling di jalan besar, meskipun lokasi makam terlalu semput untuk berkumpul dan start. (foto : iMNews.id/Dok)

Mungkin atas beberapa pertimbangan itu, Pakasa Kudus akan membahas “peluang” mendapatkan basis event sebagai aktivitas andalan sesuai tugas Pakasa. Meskipun, perjuangan untuk mengembalikan wujud makam Adipati Tirtakusuma yang akan menjadi basis kegiatannya, memerlukan waktu panjang dan mekanisme proses yang tidak mudah. Karena, pihak yang akan dilalui/dilibatkan sangat banyak.

Bila mencermati fenomena peristiwanya, persoalan makam Adipati Tirtakusuma kakek Sinuhun Paku Buwana II ini memang berat. Keberadaannya sudah terlanjur agak kabur dari sisi ciri-ciri fisik dan makna konotasi makam dalam konteks kini. Tetapi, dari keyakinan KRRA Panembahan Kudus yang didukung pengalaman empirisnya dan data-data pihak lain (Samsul Bahri), lokasi makam sangat kuat.

Di sisi lain, Pakasa Kudus belum memiliki basis kegiatan yang menjadi modal kuat untuk pelestarian Budaya Jawa sebagai event andalan. Padahal, potensi SDM, SDK dan semangatnya luar biasa sebagai daya dukung legitimasi Kraton Mataram Surakarta sebagai sumber Budaya Jawa. Oleh sebab itu, temuan makam Adipati Tirtakusuma ayah Kanjeng Ratu Kentjana ini, bisa menjadi modal kuat prospektif.

Walau proses mekanisme untuk mewujudkan citra (restoratif) makam akan sangat panjang, tetapi tidak berarti kegiatan “memuliakan” semacam wilujengan atau khol wafatnya ditiadakan. Karena justru seharusnya bentuk-bentuk pemuliaan seperti itu, tetap bisa diadakan di manapun sesuai yang diyakini. Karena Gusti Moeng bersama Bebadan Kabinet 2004 yang dipimpinnya sudah sering memberi contoh.

PENYALURAN POTENSI : Haul Pangeran Puger bisa menjadi “penyaluran potensi” SDM, SDK dan semangat luar biasa yang dimiliki warga Pakasa Kudus, saat diundang untuk mendukung kirab budaya ritual haul, beberapa tahun lalu. (foto : iMNews.id/Dok)

Salah satu contoh Gusti Moeng yang mengundang berbagai elemen masyarakat adatnya, adalah memimpin upacara adat khol peringatan wafat Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma. Ritual wilujengannya digelar di lingkungan kraton, baik di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, Sasana Handrawina dan di kagungan-dalem Masjid Agung. Setelah atau sebelum wilujengan, Gusti Moeng pasti ziarah ke Imogiri.

Upacara adat khol yang sering digelar Fusti Koeng bersama Bebadan Kabinet 2004 yang ia pimpin, sudah dilakukan untuk banyak tokoh pemimpin Dinasti Mataram selain Sultan Agung. Hampir semua tokoh dinasti diperingati khol wafatnya di lingkungan kraton, disertai “nyekar” (ziarah) ke Astana Pajimatan Imogiri, sebelum atau sesudahnya. Ritual khol seperti itu juga digelar untuk tokoh lain.

Kalau dicermati cara dan bentuk penghormatan memuliakan kepada para tokoh leluhur (Dinasti Mataram/Sunan Kudus) yang sudah terjadi, ada dua jenis. Bisa di lokasi makam sekaligus, atau menjadi dua kegiatan terpisah waktu atau lokasi. Sama halnya ketika memuliakan tokoh Adipati Tirtakusuma, ziarah bisa langsung di lokasi (yang diyakini) makam, dan wilujengan bisa di tempat lain.

Berdasar fakta dan pengalaman seperti ini, banyak kegiatan memuliakan berupa ritual khol bisa diselenggarakan di berbagai tempat walau terpisah antara wilujengan, kirab dan ziarahnya, serta bisa berlangsung rutin. Seperti halnya yang bisa dilakukan Pakasa Cabang Kudus, terhadap tokoh Adipati Tirtakusuma. Dan hal serupa mungkin bisa sering terjadi di kalangan masyarakat Kabupaten Kudus.

TEMPAT LAIN : Kegiatan ritual yang sering digelar masyarakat adat di Kabpaten Pati, juga sering menjadi “tempat lain” untuk menyalurkan potensi SDM, SDK dan semangat warga Pakasa Cabang Kudus yang begitu besar. (foto : iMNews.id/Dok)

“Kalau trah Sunan Kudus selain di kompleks taman makam, menara dan masjid ada tiga makam. Yaitu makam Sedo Mulyo dan Seda Mukti di Desa Kaliputu (Kecamatan Kota) dan Sedo Luhur di Desa Bakalan Krapyak (Kecamatan Kota). Sampai generasi eyang saya, BRM Kartowi Joyo Surat Alap-alap Gilingwesi, masih jadi satu di Desa Kaliputu. Setelah itu sudah berpencar,” ujar KRRA Panembahan.

Hal yang disebut Ketua Pakasa Kudus itu, memberi gambaran bahwa banyak trah Sunan Kudus yang makamnya terpencar di berbagai lokasi, karena berkeluarga dan mencari penghidupan di wilayah sangat luas, sampai ke luar negeri. Ini adalah alasan rasional, mengapa makam Adipati Tirtakusuma terpisah di Desa Rendeng, dan tampak “kurang beruntung” dan cici-ciri fisik makamnya hilang?. (Won Poerwono-habis/i1)