Yasinan dan Dzikir Digelar Bebadan Kabinet 2004 di Bangsal Smarakata
SURAKARTA, iMNews.id – Jumat Pon, 12 Desember 2025 ini adalah jadwal wajib shalat Jumatan kelima bagi Sinuhun PB XIV Hangabehi, sebagai salah satu syarat yang harus dijalaninya sebagai penerus tahta di Kraton Mataram Islam Surakarta.
Siang tadi, Sinuhun PB XIV Hangabehi menjalani syarat wajib yang harus dilakukan di kagungan-dalem Masjid Agung yang kelima dari 7 kali, sesuai saran Maha Menteri KGPH Tedjowulan. Saran itu, untuk meneladani yang pernah dilakukan Sinuhun PB X.

Seperti yang sudah dilakukan empat kali shalat Jumatan sebelumnya di Masjid Agung, siang tadi Sinuhun PB XIV Hangabehi juga berjalan kaki bersama berbagai elemen masyarakat adat mengantarnya. Mereka ikut bergabung shalat di ruang bersejarah.
Di antara para pengantar yang ikut bersama shalat Jumat yang kelihatan, adalah abdi-dalem juru-suranata RT Irawan Wijaya Pujodipuro, KRT Ahmad Faruq Reksobudoyo (abdi-dalem Kanca Kaji) dan KP Siswantodiningrat bersama Bebadan Kabinet 2004.

Tak ketinggalan warga Pakasa urusan dari 11 cabang sesuai isi daftar hadir yang diedarkan dari Pakasa Punjer di kraton. Ada lebih dari 100 orang utusan dari 11 cabang Pakasa mendaftar ingin mengantar dan shalat Jumat bersama di Masjid Agung.
“Kula lan pengurus cabang mboten saget nderek sowan sesarengan Jumatan ing kagungan-dalem Masjid Agung ing Jumat (12/12) menika. Nanging wonten warga Pakasa Kudus iangkang ngintun donga saking Masjid Nabawi,” ujar KRRA Panembahan.

KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro (Ketua Pakasa Cabang Kudus) itu saat menghubungi iMNews.id pagi tadi menyatakan, pengurus cabangnya minta maaf Jumat (12/12) ini tidak bisa ikut Jumatan bersama. Tetapi, doa tetap dikirim.
Sementara itu, shalat Jumat siang tadi juga tampak “raja” dari “seberang” bersama rombongannya Jumatan di Masjid Agung. Seperti sebelumnya, ada di antara rombongan membag-bagikan uang di halaman masjid, sampai kejar-kejaran dengan para peminat.

Sekeluar dari ruang khusus untuk shalat yang punya riwayat sejarah, Sinuhun PB XIV Hangabehi langsung dicegat para wartawan di ruang pendapa masjid. Hanya beberapa pertanyaan yang dijawab, terutama yang berkait masalah kunjungan wisata kraton.
Seperti diketahui, Sinuhun PB XIV Hangabehi masih menjabat sebagai Pengageng Museum, Pagelaran dan Alun-alun Lor serta Pengageng Kusuma Wandawa. Walau masa berkabung 40 hari sudah lewat, tetapi layanan kunjungan wisata belum bisa dibuka.
Sementara itu, Kamis malam Jumat (11/12) semalam, Bebadan Kabinet 2004 menggelar kegiatan spiritual religi dzikir, tahlil dan yasinan di Bangsal Smarakata. Abdi-dalem ulama memimpin doa itu untuk mengirim doa atas wafatnya Sinuhun PB XIII.
Ki Dr Purwadi (Ketua Lokantara Pusat di Jogja) yang hadir dalam pisowanan yang dipimpin Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Pangarsa LDA) menyebut, tradisi ritual religi yang diinisiasi Gusti Moeng tiap malam Jumat, sangat positif.

Kegiatan dzikir, tahlil dan yasinan tiap malam Jumat sudah berlangsung hingga peringatan 40 hari wafat Sinuhun PB XIII, dan akan berlanjut hingga peringatan 100 hari. Kegiatan ini dihadiri jajaran Bebadan dan berbagai elemen masyarakat adat.
Menurut Ki Dr Purwadi, berbagai kegiatan spiritual religi yang gencar diaktifkan kembali oleh Gusti Moeng, merupakan bentuk konvergensi antara kelompok dan aliran. Termasuk dzikir, tahlil, yasinan malam itu dan khataman Alqur’an tiap Rabu malam.
Antara priyayi dan santri, dilukiskan sebagai upaya kalangan bangsawan (masyarakat adat) melakukan aktivitas syariat. Oleh sebab itu, Kraton Mataram Surakarta tidak mengenal paham sekuler. Syariat yang dekat santri, subur di lingkungan bangsawan.
“Arab digarap, Jawa digawa,” sebut Ki Dr Purwadi melukiskan cara-cara bangsawan memaknai syariatnya. Menururtnya, adagium itu justru melukiskan dikotomi yang harmonis antara santri dan priyayi. Berikutnya, antara “abangan” dan religi.

Dalam fragmentasi tentang itu Ki Dr Purwadi melukiskan para pengikut “kejawen” yang sering dikatakan kurang peduli dengan aktivitas religius. Dalam konstalasi itu, Kraton Mataram Surakarta menjadi media yang ampuh untuk keselarasan semuanya.
Berikut antara toleransi dan pluralisme, bisa terlukis dari para peserta dzikir, tahlil dan acara religi lain, yang diikuti oleh kalangan yang beragam asal. Mereka duduk bersama walau tidak satu keyakinan. Bhineka Tunggal Ika tercermin di situ. (won-i1)




