Ada Kejutan Lagi, Tari “Bedhaya Jumpara” Disajikan Tujuh Lelaki

  • Post author:
  • Post published:August 25, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Ada Kejutan Lagi, Tari “Bedhaya Jumpara” Disajikan Tujuh Lelaki
SAJIAN MERIAH : "Flash mob" menari bersama tari diiringi lagu Melayu "Cindai (Siti Nurhaliza) menutup "Sekaten Art Festival 2026" hari kelima, semalam, menjadi sajian meriah karena ada Gusti Moeng, Gusti Ayu dan para penyajinya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Bonus Kenangan, Gusti Moeng dan Gusti Ayu Menari “Flash Mob” Lagu “Cindai”

SURAKARTA, iMNews.id – Memasuki malam ke-5, Senin (24/8) semalam, suasana panggung pertunjukan pentas seni “Sekaten Art Festival 2026” di Pendapa Sitinggil Lor bertambah “sumringah”, pengunjungnya juga lebih banyak dari malam-malam sebelumnya. Karena, semalam ada sajian “kejutan lagi” dari malam sebelumnya yang tersaji “Sendratari Ramayana” dan sendratari tentang “Sekaten”.

Semalam, Sanggar “Demes Management” memberi kejutan suguhan tari berjudul “Bedhaya Jumpara” yang semua penarinya, “tujuh orang” bukan perempuan seperti layaknya yang ada di Kraton Mataram Surakarta, Pura Magkunegaran dan produk institusi lain. Melainkan tujuh penari lelaki dan tiga lelaki lainnya menirukan fungsi abdi-dalem “lurah bedhaya” pada sajian “Bedhaya Ketawang” di kraton.

Tampilnya tari “Bedhaya Jumparing” yang dinarasikan sebagai ekspresi heroik  “Ratu Kalinyamat”, pahlawan nasional dari Jepara (abad 17) di ajang itu, tentu menarik dan membuat terperangah bagi penonton yang paham tarian sakral Bedhaya Ketawang dan sejumlah tarian khas ragam “bedhayan”. Karena, di kraton dan di lembaga adat keturunan Dinasti Mataram, tarian “bedhayan” punya pedoman khusus.

Jika masuk rumpun “bedhayan” karena meneladani tarian “Bedhaya Ketawang”, pedoman bakunya menyebut harus sembilan orang penarinya. Jika rumpun “srimpen”, bisa disajikan 7, 5 atau 3 penari. Tetapi, “Bedhaya Jumpara” disajikan oleh tujuh penari lelaki, dengan properti senjata panah. Jadi, ada beda menarik karena jumlahnya 7 penari dan hal yang terasa aneh karena penarinya lelaki.

“BEDHAYA LELAKI” : Aksi tujuah pernari yang menyajikan tari “Bedhaya Jumpara” di ajang “Sekaten Art Festival 2026” hari kelima, semalam, juga menarik para penonton. Karena, sajian “Bedhaya Lelaki” itu sangat fenomenal dan aneh. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Melalui MC yang mengatur jalannya pentas maupun narasi pengantar penyajian yang dibacakan, tak ada kata penjelasan soal alasan Bedhaya Jumpara disajikan tujuh penari laki-laki. Sang MC hanya menyebut, tarian itu adalah ekspresi heroik  “Ratu Kalinyamat” (Bupati Jepara ke-1), yang simbolnya senjata “jemparing” (panah). Gusti Moengpun, tentu tidak akan mengomentari, karena posisiya sebagai pengayom.

Terlepas dari unsur keanehan dan kejutannya, sajian tari “Bedhaya Jumparing” adalah fenomena baru yag lahir di luar kraton di zaman modern ini. Sebelumnya, pernah ada karya susunan baru tari “bedhayan” yang disajikan sejumlah penari lelaki di luar kraton. Sebagai karya seni, apapun wujud hasil interpretasi dari karya yang sudah lebih dulu ada, apalagi dijadikan pedoman, tetap sah-sah saja.

JUGA LUWES : Para penari “Bedhaya Jumpara” atau “Bedhaya Lelaki” karena semua penarinya lelaki di ajang “Sekaten Art Festival 2026” hari kelima, semalam juga tampak luwes layaknya penari wanita yang membawakan jenis “bedhayan”. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Yang bikin menarik dan menjadikan terperangah, karena masyarakat luas yang mengenal jenis-jenis tari “bedhayan” dan “srimpen” sebagai khas karya kraton, disajikan sesuai pedoman baku yang dimiliki, bahkan menjadi bagian dari pauderan adat. Tetapi masyarakat luas di luar kraton, hanya bisa menemukan jejaknya, memahami, menirukan dan berkreasi sesuai kebebasannya berekspresi.

Tetapi ada persoalan serius dalam memahami, meniru dan berkreasi, karena hampir semua tari tradisi khas kraton, punya makna filosofi atau landasan pengalaman hidup ketika proses penyusunannya. Batas-batas etika dan estetika menjadi bagian penting sebagai pedoman saat karya tari disusun. Kewajaran/kelayakan, adalah batas-batas etika dan estetika, karena ada unsur edukatif dalam tari.

“TOPENG KLANA” : Tari “Topeng Klana” yang termasuk tarian Jawa khas kraton dan banyak dikenal di luar kraton, disajikan peserta dari SMKN 8 Surakarta, di ajang “Sekaten Art Festival 2026” hari kelima, semalam. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Selain sajian Sanggar Tari “Demes Management”, semalam juga tampil sajian tari “Cindai” (Sanggar Tari Maestro), tari “Minakjinggo-Ranggalawe” dan tari “Topeng Klana” dari SMKN 8 Surakarta, tari “Srikandi-Mustakaweni” (Sanggar Tari Edi-peni) dan tari “Gupala”. Tari “Cindai” yang ilustrasi musik dan lagunya (Siti Nurhaliza) dari ekspresi budaya Melayu (Malaysia), menjadi pengiringnya.

Termasuk saat disajikan lagi untuk mengiringi tiga penari penyaji, dalam sesi  “flash mob” menari bersama para penyaji lain di penghujung pentas, semalam. Yang menarik, “flash mob” itu juga diikuti Gusti Moeng, Gusti Ayu dan RAy Lina Lintang Sasangka. Baik Gusti Moeng, Gusti Ayu dan RAy Lina serta para penyaji tarian Jawa yang tampil semalam, menjadi beda sekali saat menyajikan tari “Cindai”.

“MINAKJINGGA-RANGGALAWE” : Fragmen tari “Minakjingga-Ranggalawe” yang disajikan SMKN 8 Surakarta di ajang “Sekaten Art Festival 2026” hari kelima, semalam, bisa menjadi ukuran terjaganya kekayaan seni tari tradisi bahkan khas kraton itu. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Karena, satu hal yang menjadi ciri pembedanya, musik dan lagu Melayu sebagai iringan tari “Cindai” itu, butuh kecepatan, kecekatan dan kelincahan gerak agak tinggi. Sementara, para tokoh dan para penari Jawa itu, terbiasa menyajikan tari yang butuh tingkat penghayatan tinggi, gerakan lambat tetapi bermakna, yang menyesuaikan irama musik (karawitan) iringan yang rata-rata berdinamika.

“Sekaten Art Festival 2026” akan memasuki malam terakhir pentas, nanti malam di tempat yang sama, Pendapa Sitinggil Lor. Ada sejumlah sanggar di antaranya Sanggar Tari Amarta asuhan KPP Haryo Sinawung, yang akan memberi sajian tari klasik, tradisional dan kreasi baru. Pentas malam nanti merupakan penutup “Sekaten Art Festival 2026”, karena Rabu besok Sekaten Garebeg Mulud berakhir. (won-i1)