Senin, 25 Oktober 2021
Budaya Ambal Warsa adalah Refleksi dan Doa, Karena Usia ''Pengabdian'' Bertambah

Ambal Warsa adalah Refleksi dan Doa, Karena Usia ”Pengabdian” Bertambah

Baca Juga

Ikatan Kekerabatan Warga Kebumen dengan Keraton Surakarta Nyambung Lagi

Honggowongso adalah Tokoh Arsitek Pembangunan Keraton Mataram Surakarta KEBUMEN, iMNews.id - Ikatan kekerabatan warga (Kabupaten) Kebumen dengan Keraton Surakarta kini...

Pakasa Banjarnegara Gelar Jamasan Pusaka Kalimasada

Putra Mahkota KGPH Mangkubumi Juga Tampak di Ritual Itu BANJARNEGARA, iMNews.id - Pengurus Paguyuban Kawula Keraton Surakarta (Pakasa) Cabang (Kabupaten)...

Gerakan #Selamatkan Keraton, Ditindaklanjuti Wali Kota Solo

Upayakan Bantuan Kemen PUPR untuk Renovasi Keraton Surakarta IMNEWS.ID – GERAKAN #Lestarikan Keraton yang ‘’dikobarkan’’ Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton...
~Pariwara~

Wong Jawa Harus Paham Betul Maknanya

SOLO, iMNews.id – Menjadi insan dari ”bangsa” atau warga peradaban Jawa, harus betul terhadap simbol-simbol dalam perjalanan kehidupan pribadinya. Termasuk juga, ketika mengingat kapan dirinya dilahirkan ke dunia, kemudian mengadakan ungkapan rasa syukur (kepada Allah SWT-Red) atas pertambahan usia ”pengabdiannya” di dunia, yang sering disebut peringatan ulang tahun atau dalam bahasa Jawa disebut ”ambal warsa” atau ”tanggap warsa”.

”Saya memang pernah merayakan ulang tahun, tetapi tidak harus setiap tahun. Karena bagi saya, peringatan ulang tahun adalah refleksi diri terhadap bertambahnya usia ‘pengabdian’ saya kepada kehidupan di dunia ini. Salah satu jawaban atas pertanyaan apa manfaat diri saya dalam ‘pengabdian’ itu?, adalah selalu ‘ngrungkebi’ budaya (Jawa). Nasi tumpeng dan segala uba-rampe ungkapan syukur kepadaNya, adalah perwujudan atas pertanyaan itu,” papar KRT Hendri Rosyad Wrekso Puspito (63), menjawab pertanyaan iMNews.id, tadi siang.

Pemerhati budaya Jawa dan keraton dari sisi spiritual itu, Kamis malam Jumat (9/9) menggelar acara ulang tahun dirinya tetapi dengan tatacara sakral, yang jauh dari kesan hingar-bingar hura-hura. Acara ultah tepat pada tanggal 9 September (9/9), untuk mengenang kelahirannya 63 tahun lalu atau tahun 1959, hanya mengundang sahabat komunitasnya di bidang spiritual kebatinan yang jumlahnya tak lebih dari 15 orang, termasuk anak-anak dan cucunya.

Ultah yang digelar di kediamannya di kawasan Desa Gentan, Kartasura, Sukoharjo itu, berlangsung Kamis malam mulai pukul 19.00 WIB, tetapi menjadi sebuah acara yang sakral dan penuh makna karena beberapa hal. Yang pertama adalah hari Kamis malam Jumat, kini masih menjadi hari sakral bagi wong Jawa, apalagi segala perlengkapan dan tatacara upacaranya, sangat jauh dari kesan hingar-bingar atau hura-hura seperti sering diperlihatkan masyarakat modern sekarang ini, termasuk wong Jawa.

BERBAGAI KALANGAN : KRT Hendri Rosyad Wrekso Puspito bertemu Gubernur Ganjar Pranowo di Keraton Mataram Surakarta, beberapa waktu lalu. Selain tokoh itu, berbagai kalangan/profesi terutama teman-teman sealmaternya di FH UNS, memberi simpati dan ucapan selamat ultahnya ke-63 melalui grup-grup medsos hingga tadi siang. (foto : iMNews.id/dok)

Tak Bisa Jawab Satu Persatu

”Saya hanya menyajikan nasi tumpeng, lengkap dengan segala uba-rampenya. Nasi tumpeng sudah sangat jelas, simbol ekspresi ungkapan syukur kita kepada Sang Maha Pencipta yaitu Allah SWT. Karena, ujung paling atas nasi tumpeng lancip, mirip satu titik yang mengarah ke atas, tempat kita manusia memohon segalanya”.

”Di situ, ada juga bunga sedap malam. Warna putih simbol kesucian. Walau letaknya tak tampak dari semua sudut, aroma harumnya menyebar ke mana-mana, dan bisa dirasakan banyak orang. Itu makna filosofi yang tinggi,” ujar KRT Hendri sambil mengucapkan terima kasih kepada para sahabat dan handai-tolan dari berbagai kalangan/profesi yang tak bisa dijawab satu persatu, yang telah menyampaikan ucapan selamat ulang tahun kepadanya.

Selain uba-rampe yang sangat mengesankan ”njawani” dan penuh nilai-nilai spiritual ketuhanan, tatacara perayaan ultah juga tak perlu menghadirkan grup campursari atau organ tunggal maupun pelawak. Tetapi, doa tolak-balak ”Kidung Donga Tetulak” yang terangkai dalam tembang Macapat dan disuguhkan Ki KRT Sri Handono, anggota komunitas yang berprofesi sebagai dalang wayang kulit.

Untuk mengartikulasi suasana doa dan refleksi ”pengabdian” diri KRT Hendri, lampu penerangan ruang tempat perayaan ultah dipadamkan saat berlangsung doa, sekitar 10 menit. Pemotongan nasi tumpeng, dilakukan KRT Hendri, sebagai simbol ultahnya, lalu diberikan kepada R Purnomo Nugroho sebagai anggota komunitas paling senior karena usianya 65-an tahun.

”Wong Jawa punya cara sendiri dalam merayakan ultah. Tentu yang sarat  nilai-nilai dan makna filosofi tinggi. Baik dalam melestarikan nilai-nilai budaya, maupun untuk kebutuhan penguatan nilai-nilai spiritual kebatinan dan religinya kepada Allah SWT. Kalau ada yang menganggap merayakan ultah adalah ungkapan gembira untuk bersenang-senang, itu boleh-boleh saja. Tetapi bagi saya, makna ‘tanggap warsa’ atau ‘ambal warsa’ berarti refleksi karena usia ”pengabdian” diri bertambah,” tunjuk KRT Hendri. (won) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Berita Terkini

Ikatan Kekerabatan Warga Kebumen dengan Keraton Surakarta Nyambung Lagi

Honggowongso adalah Tokoh Arsitek Pembangunan Keraton Mataram Surakarta KEBUMEN, iMNews.id - Ikatan kekerabatan warga (Kabupaten) Kebumen dengan Keraton Surakarta kini...

More Articles Like This