Semalam, Sinuhun PB XIV “Tedhak Menikmati” di Bangsal Pagongan Kidul
SURAKARTA, iMNews.id – Selasa Wage (25/8) yang menjadi tanggal merah hari libur nasional perayaan hari besra Maulud Nabi Muhammad SAW, malam ini, sepasang gamelan Sekaten Kiai Sekati ditabuh terakhir kali sampai pukul 23.00 WIB. Rabu (26/8) pagi mulai pukul 09.00 WIB besok, sepasang gamelan pusaka diusung masuk kraton dan sekitar pukul 10.00 WIB dua pasang Gunungan didoakan di Masjid Agung.
Beberapa detil agenda kegiatan yang akan dilakukan Bebadan Kabinet 2004 dalam rangka upacara adat Sekaten Garebeg Mulud 2026 itu, adalah rangkaian tatacara akhir atau penutup dari seluruh ritual memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Karena, tepat pada tanggal 12 Mulud Tahun Be 1960 sesuai kalender Jawa yang ditetapkan Sinuhun Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma, adalah puncak peringatannya.

“Dalam beberapa data manuskrip yang kami dapati, menyebutkan tanggal 5 Mulud Tahun Be 1960 (iMNews.id, 19/8) sesuai kalender yang ditetapkan Sinuhun Sultan Agung, adalah saat turunnya sepasang gamelan Sekaten. Sedangkan keluarnya hajad-dalem Gunungan Garebeg Mulud, yang tepat pada tanggal 12 Mulud Tahun Be 1960 atau 26 Agustus 2026 besok,” jelas KRT Darpo Arwantodipuro menjawab iMNews.id.
KRT Darpo Arwantodipuro adalah staf kantor Pengageng Sasana Wilapa yang banyak berkecimpung dalam tugas data kepustakaan untuk mendukung berbagai keperluan upacara adat di kraton. Sebelumnya, tugas seperti itu banyak dilakukan KPA Winarno Kusumo (alm) selaku Wakil Pengageng Sasana Wilapa sekaligus juru penerang budaya kraton. Sedangkan KRT Darpo adalah salah seorang “kadernya”.

Penegasan soal saat puncak acara dari rangkaian upacara adat Sekaten Garebeg Mulud 2026, secara langsung juga diungkapkan GKR Wandansari Koes Moertiyah (Gusti Moeng). Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Umum LDA itu menegaskan di depan para wartawan berbagai hal, termasuk agenda prosesi hajad-dalem Gunungan sebagai puncak ritual Sekaten, Rabu (26/8) pagi besok mulai pukul 10.00 WIB.
Penegasan Gusti Moeng itu, diberikan saat habis memimpin jamasan meriam pusaka Nyai Setomi di Bangswal Witana kompleks Pendapa Sitinggil Lor, Senin (24/8). Jamasan Nyai Setomi dan 10 meriam “anakan” di kompleks Pendapa Sitinggil Lor dan kompleks Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, adalah rangkaian ritual Sekaten yang menarik, karena diteruskan dengan mengolesi semua meriam dengan minyak.

Hal menarik lain yang mungkin tak dilakukan selama Sinuhun PB XIII (2004-2025), adalah kegiatan “tedhak” meninjau ke Masjid Agung saat gamelan ditabuh selama seminggu atau menjalankan shalat Jumat. Tetapi, Sinuhun PB XIV Hangabehi kembali menghidupkan tradisi spiritual religi untuk menggenapi tugas dan kewajibannya sebagai “khalifatullah”, yaitu “tedhak” di tengah gamelan Sekaten.
Semalam sehabis shalat Isya kira-kira pukul 20.00 WIB, Sinuhun PB XIV Hangabehi diikuti beberapa abdi-dalem dan sentana (KRMH Rizki-adik ipar), “tedhak” ke Bangsal Pradangga (Pagongan) Kidul. Ia duduk lesehan di antara para abdi-dalem karawitan yang sedang bertugas menabuh gamelan Kiai Guntur Madu. Pemimpin baru Dinasti Mataram yang hadir menikmati gendhing “Rambu” ini, sangat fenomenal.

Selain beberapa peristiwa dalam rangkaian tahapan ritual Sekaten itu, juga tampak abdi-dalem juru-suranata RT Irawan Wijaya Purjodipuro yang begitu rajin datang ke Bangsal Pagongan Lor dan Kidul dua kali dalam sehari, selama sepasang gamelan ditabuh. Karena, paugeran adat yang selama ini dipegang teguh, dia juga punya tugas memimpin doa wilujengan sebelum dan sesudah dua gamepan ditabuh.
“Untuk saya, selama ini selalu menjalan tugas sehari dua kali datang ke Bangsal Pagongan, pagi dan sore. Karena, harus ada donga wilujengan sebelum dan sesudah gamelan ditabduh di masing-masing Bangsal Pagongan. Selama saya dipercaya menjalankan tugas ini, ya saya jalankan. Terlebih saat kendali dipegang Gusti Wandan (Gusti Moeng), tugas ini tidak pernah absen,” ujar RT Irawan, Minggu sore.

Sementara itu, salah satu rangkaian ritual Sekaten yang tak pernah bisa dilihat langsung publik adalah proses merangkai Gunungan, yang akan didiakan di Masjid Agung pada puncak ritual, Rabu (26/8) besok. Karena proses merangkai hajad-dalem ini tertutup di teras “Koken” atau Bangsal Magangan seperti yang saat ini berlangsung. Siang tadi, Tutik (55) dan keluarganya hampir menyelesaikan tugasnya.
Sementara Gusti Moeng, KPH Edy Wirabhumi, KRMH Suryo Kusumo Wibowo dan beberapa tokoh jajaran Kabinet 2004 sedang mengurus berbagai tugas masing-masing di Bangsal Smarakata, Tutik dan keluarganya menggarap dua pasang (empat buah) Gunungan dan “gunung anakan” di Bangsal Magangan. Menurutnya, tugasnya diminta selesai malam ini, termasuk “tugas tambahan” yang sedang jadi perhatian. (won-i1)
