Luar Biasa, Ada yang Menyajikan Sendratari Ritual Sekaten Garebeg Mulud

  • Post author:
  • Post published:August 24, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Luar Biasa, Ada yang Menyajikan Sendratari Ritual Sekaten Garebeg Mulud
"NGINANG BERSAMA" : Adegan "nginang bersama" enam penari sendratari "Girang Mring Sekaten" sajian para siswa SMPN 24 Surakarta di ajang "Sekaten Art Festival 2026", hari keempat, Minggu malam (23/8). Sajian cerdas yang edukatif. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Seandainya Ditambah “Sound track” Kodhok-kodhokan atau Gangsingan

SURAKARTA, iMNews.id – Pentas seni “Sekaten Art Festival” yang disajikan di tengah-tengah keramaian “Maleman Sekaten” dan upacara adat “Sekaten Garebeg Mulud 2026” malam keempat, Minggu malam (23/8), ada kejutan. Di antara 4 grup penyaji pentas di Pendapa Sitinggil Lor itu, ada yang mengemas peristiwa upacara adat Sekaten menjadi tema dramatari yang membuat segar tema event itu.

Pentas tari “Sekaten Art Festival 2026” yang digelar Bebadan Kabinet 2004, Minggu malam (23/8), benar-benar mendapat kejutan yang berbeda dari event yang sama tahun-tahun lalu dan di antara jenis-jenis sajian tari para pesertanya. Karena, sendratari sajian para siswa SMPN 24 Surakarta berjudul “Girang Mring Sekaten” itu, sudah merujuk sebuah peristiwa yang terjadi 1-31 Agustus 2026 ini.

Kejutan tentang tema atau judul sajian dalam event “Sekaten Art Festival 2026” itu memang sangat jarang terjadi di panggung bersejarah itu. Mengingat, rata-rata peserta yang tampil biasanya hanya menyajikan dua pilihan, antara kemasan tari tradisional yang khas kraton dan berkembang di masyarakat, atau kreasi baru yang mengambil peristiwa masyarakat modernitas atau budaya bangsa lain.

ATRAKSI SALTO : Para penari penyaji sendratari “Girang Mring Sekaten” di ajang “Sekaten Art Festival 2026”, hari keempat, Minggu malam (23/8) ini, juga punya keahlian atraksi lompat salto sebagai ekspresi “girang” mereka. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Tetapi, para seniman, terutama tim penyusun tema sednratarinya dari SMPN 24 cukup jeli. Karena, peristiwa upacara adat Sekaten Garebeg Mulud yang puncaknya berupa prosesi hajad-dalem Gunungan, bisa dikemas menjadi tema sajian pertunjukan sendratari. Dalam sajian berjudul “Girang Mring Sekaten” selama 15-an menit itu, menjadi sajian yang sangat berbeda, cerdas, cermat dan memukau.

MENGUSUNG GUNUNGAN : Atraksi mengusung “Gunungan” dalam prosesi sebagai salah satu adegan sendratari “Girang Mring Sekaten”, para siswa SMPN 24 Surakarta ini menjadi penyaji “Sekaten Art Festival 2026” yang berbeda dari peserta lainnya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Walau sangat mungkin hanya beberapa gelintir yang menyaksikan sajian para siswa SMPN 24 ini bisa mengidentifikasi dan memberi apresiasi, termasuk Gusti Moeng malam itu, tetapi sajian yang satu ini sangat kreatif, menghibur dan bisa memberi inspirasi bagi para seniman tari lain. Karena, ternyata masih banyak peristiwa adat, tradisi dan budaya di lingkungan kita yang bisa “diangkat”.

Siapapun sutradara atau penata ide ceritanya, sajian sendratari “Girang Mring Sekaten” sangat mengedukasi bagi banyak pihak, bahkan masyarakat luas. Karena sudah mendesak untuk sadar, peduli, memahami dan melakukan upaya pelestarian berbagai peristiwa adat, tradisi dan budaya yang bersumber dari Kraton Mataram Surakarta. Terlebih, sajian ini seakan punya misi ajakan untuk “menyelamatkan”.

MERAK NGIGEL : Sebelum para siswa SMPN 24 Surakarta “beraksi”, Sanggar Baswara Art lebih dulu menyajikan tari “Merak Ngigel” yang cukup menghibur di antara para pengunjung “Maleman Sekaten” yang mau singgah di Pendapa Sitinggil Lor. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sajian sendratari yang bermakna “Bersenang/gembira (Girang) di ajang (Mring) Sekaten” itu, sudah merujuk pada perasaan atau suasana hati yang gembira atau senang berada atau menyaksikan ritual Sekaten. Terlebih, adegan-adegan yang ditampilkan dari awal hingga akhir, melukiskan bagaimana tahapan prosesi hajad-dalem Gunungan Garebeg Mulud digelar, yang di dalamnya ada peristiwa unik.

Ekspresi gembira atau senang itu, diungkapkan para penari terlatih beratraksi salto inim dengan melompat-lombat, membentuk konfigurasi bertingkat, lalu ada yang bersalto memutar badan di udara. Sebagai atraksi ketangkasan, adegan ini sudah menarik. Terlebih, kemudian ada properti membentuk dua gapura yang bisa dibagi dua membentuk jalan, untuk keluarnya properti Gunungan yang diusung.

PAKET HEMAT : Sanggar Pawiyatan Beksa Kraton Mataram Surakarta juga menampilkan tari “Minakjingga Gandrung” dalam format “paket hemat” atau penari tunggal, pada malam keempat “Sekaten Art Festival 2026”, Minggu (23/8). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sebelum “gunungan” diusung, ada adegan semua peraga dalam gerak tari melukiskan pengunjung Sekaten yang sedang “nginang”, yang jelas merujuk pada peritiwa “nginang” (makan sirih) saat gamelan Sekaten ditabuh “jenggleng” kali pertama. Adegan ini juga dipertajam oleh dua atau tiga penari yang memperlihatkan cara mengusap “dubang” dengan “mbako susur”, dengan membuat ekspresi bibir “merat-merot”.

Keseluruhan atraksi itu, diiringi “sound track” musik gamelan yang dipandu bunyi terompet atau saxophone, mirip terompet prajurit kraton. Ada ilustrasi vokalnya pula, berbunyi “nginang karo ngilo”… “nyusur karo ngilo”, terdengar lucu menggelikan. Ini sungguh sangat cerdas, menghibur. Seandainya ilustrasi musiknya ditambah bunyi “kodhok-kodhokan” atau “gangsingan”, pasti sangat meyakinkan. (won-i1)