Semua “Perdana” yang Diulang Sinuhun PB XIV, Jauh Lebih Bermakna
IMNEWS.ID – PERISTIWA “Insiden Mirip Operasi Militer (MOM) 2017”, patut dimaknai sebagai peristiwa yang mempertajam friksi/perpecahan yang terjadi pada suksesi 2004. Selain mempertegas ciri-ciri ideal masing-masing kelompok/seberang, juga ada sedikit perubahan peta kelompok/pihak yang terbelah. Karena ada figur-figur tokoh yang “pindah menyeberang”, sebagai dinamika mencari kesesuaian/keselarasan.
Munculnya fenomena “Trio Wek-wek” atau “Trio Bebek”, adalah bagian dari dinamika mencari kesesuaian demi keselarasan pribadi masing-masing. Artinya, figur-figur ini akhirnya mendapatkan “habitat” yang sesuai dengan ciri-ciri mendasar pribadi masing-masing. Mereka secara “grup” atau tim merasa nyaman berada di lingkungan pihak yang selama ini dipahami publik sebagai “antagonis” yang banyak menyimpang.

Antara “protagonis” dan “antagonis”, memang berdasar dari arah mana melihatnya, tetapi dalam standar norma kewajaran publik secara luas bisa melihat pihak mana yang dianggap wajar. Sebagai pengganti “Tiga Dara” itu, ada seorang putri-dalem Sinuhun PB XII yang merapat ke pihak “protagonis”. Tetapi, KGPH PA Tedjowulan dan KGPH Madu Kusumonagoro, sudah lebih dulu memperkuat Bebadan Kabinet 2004/LDA.
Fluktuasi dinamika “politik” internal keluarga besar putra/putri Sinuhun PB XII ternyata tetap terjadi, dan peta “keberadaan” masing-masing, baik secara individu maupun perhimpunan (kelompok) makin tampak. Karena, setelah 2012 bahkan sejak 2017 KGPH Puger sering “menghilang”. Padahal semula mendapat kepercayaan duduk sebagai Pengageng Sasana Pustaka, Pariwisata dan Pengageng Kasentanan di kabinet.

Sebaliknya, GPH Suryo Wicaksono (Gusti Neno), belakangan mulai sering muncul di kraton saat ada acara penting, misalnya wilujengan KGPH Hangabehi sebagai Sinuhun PB XIV (iMNews.id, 13/11/2025), karena di situ hadir KGPH PA Tedjowulan. Waktu itu, KGPH Puger-pun kelihatan, termasuk GRAy Koes Sapardiyah, apalagi KGPH Madu Kusumonagoro. Kalau GKR Alit, menjadi bagian peta yang “berubah” sejak 2017.
Putri tertua Sinuhun PB XII itu pernah “sepata” (bersumpah), tak akan menginjak kraton selama Sinuhun PB XIII jumeneng-nata (2004-2025). Tetapi ludahnya dijilat lagi, karena sejak 2017 sering masuk kraton, terutama di Sasana Putra, hingga kini. Mulai 2017 itu pula, KGPH Dipokusumo juga “merapat” ke Sasana Putra, karena di situ lebih sering ada pembagian “kue” (proyek) dari pada di Sasana Purnomo.

Seperti itulah fluktuasi dinamika sosial-politik di internal kraton, yang seakan mengikuti yang terjadi di luar kraton. Perubahan “peta hubungan kekerabatan” yang terjadi akibat peristiwa 3 Januari 2023, bisa dimaknai sebagai perubahan “peta kekuatan politik” di internal kraton itu. Karena ada peristiwa “damai” terjadi antara Gusti Moeng dan Sinuhun PB XIII, setelah “insiden” 17 Desember 2022.
Peristiwa “damai” pada 3 Januari 2023 setelah “Insiden Gusti Moeng Kondur Ngedhaton” (17 Desember 2022), waktu itu, terkesan dianggap sebagai puncak atau akhir “kegelapan” di kraton. Dan “perdamaian” antara top figur simbol dua elemen kraton pimpinan di kraton itu, sempat diharapkan banyak pihak bisa terwujud ke segala arah, ke jajaran (bawah) masing-masing dan ke samping (putra/putri-dalem).

Tetapi faktanya, setelah tiga tahun dari peristiwa 3 Januari 2023, perdamaian yang diharapkan berlanjut ke segala arah seperti harapan banyak pihak, ternyata “tidak terwujud”. Yang terjadi hanya fluktuasi dinamika sosial-politik internal, yaitu perubahan peta kekerabatan (kekuatan). “Sengitnya” persaingan dan ambisi merebut kekuasaan sejak 2/11/2025, mustahil bisa disebut “hasil perdamaian”.
Peristiwa demi peristiwa yang menjadi fakta-fakta riil di peta sosial kekerabatan internal kraton itu, justru melahirkan rangkaian struktur masing-masing keadaan. Yaitu struktur masing-masing yang berdamai, bisa dianalogikan sebagai struktur protagonis dan antagonis, lalu struktur penindas dan yang tertindas (korban), struktur resmi dan struktur pesaing, yang berhak dan tidak dan sebagainya.

Setelah kraton “gelap” selama 6 tahun, banyak yang semula berharap, setelah peristiwa 3 Januari, semua kerja adat yang dijalankan Bebadan Kabinet 2004 dan LDA bersama semua elemen masyarakat adatnya, diawali dengan “perdana” menuju suasana, terang-benderang, baik dan ideal. Ternyata harapan itu pupus, karena ada sisa residu “masa lalu” (2004) yang didukung SDM dan SDK dari luar “menghadang”.
Walau kini “hadangan/ganjalan” itu sudah terpetakan dan bisa dihadapi sinergitas dan soliditas tiga “elemen penting”, tetapi semua yang berawal dari “perdana” mulai momentum “damai” (3/1/2023), harus diulang. Kerja-kerja adat tahun 2023 yang diulang pada Desember 2025 hingga kini, tidaklah sia-sia, karena semua “perdana” di awal era Sinuhun PB XIV, jauh lebih bermakna dan bernilai. (Won Poerwono-bersambung/i1)
