Rombongan Difabel Berkunjung ke Kraton, Belajar Mengenal Seni Budaya di Bangsal Smarakata

  • Post author:
  • Post published:September 20, 2023
  • Post category:Regional
  • Post comments:0 Comments
  • Reading time:6 mins read
You are currently viewing Rombongan Difabel Berkunjung ke Kraton, Belajar Mengenal Seni Budaya di Bangsal Smarakata
PEMANDANGAN BERBEDA : Rabu (20/9) siang tadi, di Bangsal Smarakata tampak pemandangan yang agak berbeda dari biasanya. Di situ banyak terlihat anak-anak dan remaja penyandang difabel lengkap dengan perlengkapannya, ada yang mencoba mengenakan kostum tari dan dijelaskan berbagai hal untuk mengenal seni-budaya kraton. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Prajurit Ada Agenda Kirab di Ngawi, Rangkaian Sekaten Mendekati Agenda Utama

SURAKARTA, iMNews.id – Siang tadi sekitar pukul 11.00 WIB, Kraton Mataram Surakarta menerima kunjungan rombongan sekitar 50 orang yang terdiri dari anak-anak dan remaja penderita difabel dan keluarganya. Mereka disebut hanya berkunjungan biasa layaknya wisatawan, tetapi ada yang ingin tahu soal seni-budaya khas kraton. Sebab itu, rombongan diterima di bangsal Smarakata yang selama ini menjadi pusat sebagian besar kegiatan latihan seni-budaya khas kraton. Mereka diberi edukasi tentang dasar-dasar seni tari dan perlengkapannya, seni vokal sinden dan “macapat” dan dasar-dasar pengetahuan karawitan.

Menurut sentana-dalem garap, KPP Bambang Kartiko, kunjungan tersebut datang tiba-tiba layaknya wisatawan yang biasanya dilayani dari Museum Art Gallery, sehingga hanya ada beberapa figur anggota Sanggar Pawiyatan Beksa Kraton Surakarta yang menerima kedatangan mereka dan memberi edukasi pengenalan. Kunjungan sejumlah anak dan remaja penyandang difabel itu tak bisa diterima dan dilayani langsung oleh pihak-pihak yang berkompeten di situ, karena mulai pukul 10.00 ada kegiatan rapat koordinasi yang dipimpin GKR Wandansari Koes Moertiyah di ruang rapat bekas kantor Sinuhun PB XI.

MULAI RAMAH : Bangsa Smarakata yang selalu menjadi pusat latihan dan pembelajaran seni-budaya di internal kraton, mulai ramah terhadap pengunjung penyandang difabel, seperti rombongan sekitar 50 orang yang siang tadi belajar mengenal berbagai seni-budaya dan simbol-simbolnya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Semua sedang rapat, kebetulan saya mau ke kantor Kasentanan (Pengageng Kusuma Wandawa) dan lewat di situ langsung ambil gambar. Saya tidak sempat bertanya-tanya,” ujar KPP Bambang Kartiko saat dimintai konfirmasi iMNews.id, siang tadi. Hal serupa juga dibenarkan Yemi Triyana, abdi-dalem staf Kantor Pengageng Sasana Wilapa yang sejak sebelum pukul 10.00 WIB sudah sibuk mempersiapkan kebutuhan logistik rapat koordinasi yang salah satunya membahas rangkaian agenda kegiatan Sekaten 2023.

Dari berbagai data informasi hasil eksplorasi data-data manuskrip sejarah yang ada di kraton dan catatan iMNews.id, nyaris tak pernah disebut eksistensi penyandang difabel menjadi bagian dari strata sosial sejarah Mataram Surakarta maupun sebelumnya. Dari dokumen sejarah yang pernah dieksplorasi, sangat jarang menyebut eksistensi penyandang difabel, meskipun dalam dua atau tiga dekade terakhir, abdi-dalem karawitan Kantor Pengageng Mandra Budaya memiliki dua seniman karawitan penyandang tuna-netra.

GENDING MANGUYU-UYU : Konser gamelan menyajikan gending “Manguyu-uyu” seperti ini, sebelum 2017 sering digelar di Bangsal Pradangga, jika akan menggelar upacara adat Garebeg Mulud atau sejenisnya. Bunyi gamelan itu dimaksudkan menjadi pertanda akan dimulainya ritual Sekatenkeesokan harinya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam perkembangan zaman seperti sekarang, di berbagai lokasi khususnya tempat-tempat yang sering dikunjungi publik semakin didorong untuk mengakomodasi kebutuhan sarana dan fasilitas kemudian untuk penyandang difabel. Untuk itu, tempat-tempat khusus di kawasan kraton yang sering menjadi fasilitas publik dan dikunjungi wisatawan, sangat perlu dipertimbangkan untuk melengkapi sarana fasilitas itu. Seperti di kompleks Museum Art Gallery, kini sudah termasuk ramah penyandang difabel, karena sebagian besar akses jalan menuju halaman dan ruang pamer, bisa dilewati kursi roda dan aman untuk jenis penyandang difabel lainnya.

Namun Bangsal Smarakata, gedhong Sasana Handrawina, Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, kompleks Sitinggil Lor dan beberapa akses pintu keluar-masuk seperti Kori Kamandungan, masih berupa trap dengan dua atau tiga anak tangga. Ke depan, perlu dipertimbangkan untuk dilengkapi dengan fasilitas yang memudahkan penyandang difabel bisa mengakses. KPH Edy Wirabhumi selaku Penanggungjawab perencanaan revitalisasi Kraton Mataram Surakarta yang dimintai konfirmasi iMNews.id soal fasilitas penyandang difabel di tempat-tempat khusus di kawasan kraton yang sangat mungkin dikunjungi publik, sudah mengakomodasi kebutuhan itu.

MULAI BEKERJA : Wakil Pengageng Sasana Prabu KRMH Suryo Kusumo Wibowo menyambangi abdi-dalem yang khusus punya keahlian merangkai Gunungan di teras “Koken” Gandarasan, Selasa (19/9) siang kemarin. Mereka mulai bekerja menyiapkan uba-rampe Garebeg Mulud berupa dua pasang Gunungan yang akan dikeluarkan, Kamis 28/9. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Sementara itu, rangkaian agenda upacara adat Sekaten 2023 kini sudah hampir memasuki saat-saat dimulainya awal ritual yang ditandai dengan “konser ungeling gangsa” Kiai Gutur Sari dan Kiai Guntur Madu kali pertama, yaitu Kamis pagi (21/9) mulai sekitar pukul 10.00 WIB. Namun, sebelum itu ada rangkaian upacara adat atau kegiatan yang mendahuluinya, yaitu wilujengan Rabu malam ini (20/9) di dalam kraton, sebelum gamelan dikeluarkan ke Masjid Agung dan Sekaten ditabuh kali pertama, Kamis (21/9) besok.

Dihubungi di tempat terpisah, Wakil Pengageng Sasana Prabu, KRMH Suryo Kusumo Wibowo yang bertanggungjawab dalam persiapan uba-rampe upacara adat Sekaten menyebutkan, proses pembuatan dua pasang Gunungan sudah dimulai di teras “Koken” (dapur umum kraton-Red) Gandarasan, sejak Selasa kemarin. Dua pasang atau empat buah Gunungan akan dikeluarkan kraton saat puncak ritual hajad-dalem Garebeg Mulud yang tepat tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW, yaitu 12 Mulud (Tahun Jimawal 1957) atau 12 Rabiul Awal (Tahun Hijriyah 1445), untuk didoakan di kagungan-dalem Masjid Agung lalu “dibagi-bagikan secara merata”.

PAKASA MAGELANG : Pakasa Cabang Magelang yang diketuai KRT Bagiyono Rumeksonagoro, termasuk cabang yang cukup jauh dari Kraton Mataram Surakarta. Mereka menjalankan tugas “tugur”, Selasa malam (19/9), dan sempat bertemu dengan Pangarsa Punjer Pakasa, KPH Edy Wirabhumi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Tetapi, sejak dulu nama yang dipakai adalah ‘garebeg’ yang kurang lebih sama dengan istilah dikeroyok ramai-ramai. Mirip dengan istilah yang digunakan sekarang kalau ada peristiwa ‘penggerebekan’. Karena intinya, dikeroyok ramai-ramai. Tetapi, dalam etika tata-nilai budaya Jawa sebenarnya bukan unsur berebut secara beringas seperti yang beberapa kali tampak saat puncak Garebeg Mulud atau upacara adat lain yang pakai Gunungan. Karena, ‘ujub’ (pesan-Red) yang disampaikan utusan-dalem sebelum Gunungan didoakan di Masjid Agung, bunyinya ‘sawise kadonganan, nuli kabagi kang warata’. Jelas ‘kan?,” tutur Gusti Moeng di Bangsal Smarakata, beberapa waktu lalu.

Bersamaan dengan pelaksanaan rangkaian kegiatan dalam rangka Sekaten 2023 yang terus berjalan, kegiatan keramaian pasar malam di Alun-alun Lor juga terus berlanjut, termasuk pula kegiatan stan dagang aneka produk di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa. KRT Darpo Arwantodiprojo selaku penanggungjawab prajurit, juga mempersiapkan pra abdi-dalem prajurit untuk mendukung kirab pada acara besih desa yang digelar warga Mantingan, Kabupaten Ngawi, 29 Oktober. Warga Pakasa cabang yang bergilir melakukan “tugur”, juga silih-berganti datang, seperti rombongan Pakasa Magelang yang dipimpin ketuanya, KRT Bagiyono Rumeksonagoro yang berjaga Selasa malam (19/9) kemarin. (won-i1).

Leave a Reply