“Habis Gelap Terbitlah Terang; Habis Damai Terbitlah Ksatria Sabrang” (seri 4-habis)

  • Post author:
  • Post published:August 10, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing “Habis Gelap Terbitlah Terang; Habis Damai Terbitlah Ksatria Sabrang” (seri 4-habis)
TEDHAK KERJA : Hadirnya Sinuhun PB XIV Hangabehi di acara ritual Sebaran Apem Kukus Keong 2026 di Pengging, Boyolali (Jumat, 7/8), perlu dimaknai sebagai "tedhak-dalem" untuk menjalankan kerja adat walau "pasif". (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Terang Pasti Akan Datang, “Ksatria Sabrang Perlu Maneges”

IMNEWS.ID – KINI, di awal era kepemimpinan Sinuhun PB XIV Hangabehi, memang tinggal selangkah lagi berupa seremonial untuk memaklumatkan atau mengumumkan secara resmi. Tetapi, segala persyaratan fundamental untuk berbagai posisi dan kapasitasnya sudah didapat. Berikut, koordinasi untuk bersama-sama menjalankan kerja-kerja adat perlu secepatnya dilakukan, termasuk pembenahan di sana-sini.

Namun, karena sisa residu masa lalu belum sepenuhnya bisa “dibersihkan”, terpaksa membuat kegiatan kerja-kerja adat pemimpin baru bersama Bebadan Kabinet 2004, LDA dan berbagai elemen masyarakat adatnya (untuk sementara) harus berjalan di sisinya atau berdampingan. Walau dari fakta yang sudah berjalan telah berpotensi menjadi ancaman, tetapi bisa dimaknai adanya spirit kontrol dan “balancing”.

Dalam sistem manajerial (pemerintahan) “negara” (monarki) Mataram Islam Surakarta yang sejak 1945 menjadi lembaga pelestarian adat, tradisi dan budaya, sudah tidak mengenal “trias politika” dan pilar-pilar demokrasi yang salah satunya berupa lembaga oposisi. Tetapi, semangat demokratisasi masih relevan diakomodasi sebagai instrumen pengingat (kontrol) “kekuasaan”, yang bisa diampu lembaga kapujanggan.

Era Sinuhun PB XIV Hangabehi ini sangat membutuhkan peran “lembaga kapujanggan”, agar kepemimpinan dan kerja-kerja adat yang berjalan ke depan lebih terarah. Bila berkaca pada era yang sudah lewat, memang ada faktor kapasitas pribadi seorang pemimpin yang sangat menentukan jalannya kepemimpinan dan kualitas kerja adatnya. Produk kepemimpinannya “nihil”, karena faktor “human error” atau cacat mendasar.

MELATIH KEBERSAMAAN : Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Umum LDA) sejak awal membiasakan melatih kebersamaan Pangeran Adipati Anom KGPH Hangabehi, agar kerja adat kelembagaan dan pemimpin dinasti bisa sinergi serasi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dalam posisi seperti itu, sisa residu suksesi 2004 yang berkolaborasi dengan kekuasaan di masa Presiden ke-7, menangkapnya sebagai “peluang emas”. Kolaborasi macam ini yang “memanfaatkan” kepemimpinan tokoh yang baru lewat. Di satu sisi untuk misi dan kepentingan pribadi dan kelompok, di sisi lain “atas nama” negara (penguasa). Ini yang membuat Bebadan Kabinet 2004, LDA dan sebagainya kewalahan.

Tetapi, apa yang sudah lewat memang harus diterima sebagai keniscayaan. Karena fakta perjalanan pemimpin yang baru lewat (2004-2025), punya kecacatan fisik sangat mendasar, persis isi pernyataan terbuka GBPH Yudaningrat (adik Sultan HB X). Saat “human error” inilah yang dimanfaatkan beberapa tokoh penting pendukung “Ksatria Sabrang”, yang telah menyimpangkan “paugeran adat”, etika dan kewajaran.

CONTOH SINERGITAS : Gusti Moeng (Pengageng Sasana Wilapa/Ketua Umum LDA) sejak awal telah membangun contoh-contoh sinergitasnya dengan pemimpin dinasti. Karena, seorang Sinuhun PB punya batas-batas dalam kerja adat yang tak boleh dilanggar. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

GKR Galuh Kencana (almh) dalam wawancara khusus dengan iMNews.id di saat-saat akhir hayatnya, membenarkan pemimpin yang sudah lewat memang persis adagium “Luput saka kekudangan, mrucut saka gendhongan”. Tetapi, kelemahan itu justru dimanfaatkan para tokoh seperti disebut dalam artikel iMNews.id edisi 9/8/2026, atas nama kepentingan pribadi atau kelompok yang sangat dominan andilnya.

Oleh karena itu, sangat tepat kalau periode 2017-2022 disebut kraton berada dalam “kegelapan”. Bahkan masih berlanjut dengan perubahan komposisi figurnya, misalnya dengan munculnya “Trio Wek-wek”, yang secara langsung atau tidak, mengakui peran  (dominannya) melalui video di medsos belakangan ini. Termasuk, bagaimana mereka merekayasa, melahirkan dan mendukung eksistensi “Ksatria Sabrang”.

CONTOH IDEAL : Di persemian “Maleman Sekaten 2026” yang digelar Bebadan Kabinet 2004, Minggu (2/8) lalu, Gusti Moeng memperlihatkan “batasan” untuk dirinya dan Sinuhun PB XIV Hangabehi, sebagai contoh hubungan ideal lembaga dan Sinuhun. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dengan segala tanda-tanda, ciri-ciri dan fenomena serta perjalanan yang dialami Sinuhun PB XIV Hangabehi, sudah sangat kelihatan sangat beda bahkan sedikitpun tak sama dengan yang dimiliki, dilakukan dan dialami almarhum ayahandanya. Bahkan, ada tanda-tanda dan fenomena yang akan dilakukan sebagai pemimpin baru Kraton Mataram Surakarta, tampak berada di “jalan yang benar” (The Right Track).

Tanda-tanda, ciri-ciri dan fenomena ideal seperti itu yang kini sangat diharapkan banyak pihak, bisa membawa Kraton Mataram Islam Surakarta kembali berwibawa, punya harkat dan martabat dalam pergaulan nasional dan internasional. Gambaran kapasitas dan pembawaan seperti itu, akan sangat membantu kelembagaan kraton   menjalankan kerja-kerja adat riil dalam kesehariannya sesuai paugeran adat.

KERJA ADAT : Untuk mempertahankan Bebadan Kabinet 2004, LDA dan berbagai elemen pendukungnya untuk kelancaran mempersiapkan seorang pemimpin dinasti, kerja-kerja adat yang dilakukan Gusti Moeng dan KPH Edy Wirabhumi benar-benar ekstra keras. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dengan modal awal positif dan ideal itu, berbagai pihak tentu makin yakin harapan datangnya “terang” setelah “gelap” akan segera terwujud. Kekerabatan masyarakat adat yang mendominasi saat ini, akan semakin solid dan kuat mendukung Bebadan Kabinet 2004 dan kepemimpinan Sinuhun PB XIV. Walau sudah “terpetakan”, potensi gangguan “Ksatria Sabrang” masih ada karena memang belum “saatnya” dieksekusi.

Tetapi, naluri insan atau “wong” Jawa biasanya punya keasadaran untuk merenung (berkontemplasi). Ruang perenungan yang menggunakan konteks pewayangan, banyak sekali contohnya. Misalnya dalam lakon “Semar Maneges”, dan para tokoh sentral yang jadi lakon, naik ke “kayangan” untuk “maneges”. Dari perenungan itu, bisa didapat “petunjuk bijak” untuk mengevaluasi “kelakuan” dan menyadarkannya. (Won Poerwono-habis/i1)