Tingkat Proporsional Karya Rata-rata di Atas 80%, Kendalanya Soal Bahasa
SURAKARTA, iMNews.id – Sanggar Paes Tata-busana Pengantin Jawa gagrag Surakarta menggelar ujian nasional praktik rias (paes) dan tata-busana pasangan pengantin, di Bangsal Smarakata Kraton Mataram Surakarta, Rabu (29/7). Ujian selama sehari itu diikuti 13 siswa sanggar “Babaran (angkatan) VI” tahun 2026. GKR Wandansari Koes Moertiyah, GKR Ayu Koes Indriyah dan KP Budayaningrat selaku pengujinya.
Ujian yang berlangsung selama sehari itu, dimulai sejak pagi sekitar pukul 08.00 WIB, karena di antara para peserta datang dari luar kota yang jauh, seperti Kota Malang (Jatim), Salatiga, Kabupaten Pati dan sekitar Surakarta. Penilaian diawali sejak pagi saat para siswa peserta ujian “mendandani” dari “maes” (merias wajah), memasang sanggul, “bebetan” (mengenakan jarik) dan mengenakan “dodot ageng”.

Setiap peserta melakukan praktik merias dan menata-busana pengantin wanita yang paling rumit dan banyak makan waktu. Setelah itu, baru merias dan menata-busana pengantin lelakinya. Setiap peserta ujian, harus menyiapkan sepasang model yang akan menjadi objek praktik rias dan menata-busana, sesuai jenis busana pengantin gaya Kraton Mataram Surakarta yang dipilih sebagai ketrampilan yang diuji.
Dalam kesibukan seperti ini, Bangsal Smarakata di saat datang waktu ujian pasti menampilkan pemandangan kegiatan unik. Karena, tiap siswa harus memasang bangku meja panjang bangku keci-kecil untuk duduk sepasang model pengantin, cermin besar , perlengakapan tata-busana dan berbagai jenis peralatan rias. Sejak awal berdandan dan maes, para “dwija” penguji sudah bisa menilai sekaligus “membantu”.

Rata-rata sekitar tiga jam durasi yang ditempuh kerja praktik rias dan tata-busana untuk sepasang pengantin bagi para siswa peserta ujian. Sehingga, hanya ada jeda waktu sekitar sejam untuk bersiap-siap menunggu giliran dipanggil untuk tampil. Karena pada saat penilaian utama ini, para dwija penguji yaitu GKR Koes Moertiyah Wandansari, GKR Ayu Koes Indriyah dan KP Budayaningrat duduk berjejer menguji.
Ujian praktik yang rata-rata berupa presentasi jenis rias dan tata-busana yang dikenakan pada modelnya, lalu ditanya oleh satu atau dua “dwija” (guru) penguji bergantian. Hal yang ditanya sangat bervariasi, mulai dari nama detil rias, busana, sejarah, asal-usul, jenis perlengkapan, bahasa dan sebagainya. Namun, para penguji tidak menguji ketrampilan berbahasa Jawa saat menjawab pertanyaan.

Ada lima jenis busana untuk pasangan pengantin Jawa gagrag (gaya) Surakarta yang diuji sesuai pelajaran yang diberikan di “kelas” selama 6 bulan, di Sanggar Marcukunda Kraton Mataram Surakarta. Dari lima jenis busana pengantin yang rata-rata dipilih siswa untuk dipraktikkan dalam ujian, adalah “dodot ageng ngubar kunca” dan busana Langenharjan. Rata-rata semua peserta bisa menyajikan dengan baik.
Bagi yang awam dan masih dalam tahap belajar seperti rata-rata 13 siswa peserta ujian ini, belum juga menyadari ketika ada kekurangan dari tingkat proporsional riasan dan tata-busananya dari ujung kaki hingga ujung kepala, baik pengantin wanita maupun lelaki. Namun ketika tiga “dwija” mulai menilai, barulah diketahui kekurangan tingkat proporsionalnya, misalnya bentuk rangkaian “cundhuk-mentul”.

Selain itu, bentuk “blumbangan dodot ageng” yang dikenakan, rata-rata kurang dicermati para peserta, sehingga ukuran gelembung “blumbangan” tidak proporsional dengan tinggi badan model pengantinnya. Soal nama-nama dan istilah dalam riasan dan detil perlengkapan serta busana, sangat banyak untuk bisa dihafalkan dan dikuasai 13 siswa peserta ujian yang terdiri 10 perempuan dan tiga lelaki itu.
Bagi para peserta ujian yang usianya antara 20-35 tahun itu, menghafal begitu banyak istilah dan nama-nama dalam pengetahuan rias dan tata-busana pengantin jawa gagrag Surakarta, memang bisa dimaklumi saat keliru atau kurang hafal dalam menjawab pertanyaan penguji. Tetapi, semua itu wajib dipahami dan dikuasai sebagai pengetahuan oleh seorang juru paes pengantin Jawa gagrag Surakarta.

Gusti Moeng selaku Ketua Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan Kraton, GKR Ayu Koes Indriyah selaku Ketua Sanggar Paes Tata-busana Pengantin Jawa gagrag Surakarta dan KP Budayangingrat selaku dwija Sanggar Pasinaon Pambiwara kraton, sering mengingatkan soal itu. Karena juru rias/paes, wajib dan harus menguasai nama-nama, istilah dan wajib menjelaskannya dengan bahasa pengantar, Bahasa Jawa.
Soal bahasa pengantar (Bahasa Jawa), memang menjadi persoalan tersendiri bagi kalangan siswa sanggar paes dan tata-busana. Karena, selama 6 bulan belajar praktik paes dan tata-busana, tidak diajarkan secara khusus Bahasa Jawa yang menjadi pengantar. Karena, para pengguna jasanya pasti akan bertanya soal istilah dan nama-nama yang harus dijawab secara proporsional, yaitu dengan Bahasa Jawa. (won-i1)
