Berbagai “Pesan” Muncul dari Pembukaan Sekaten “Perdana 2026” (seri 3-habis)

  • Post author:
  • Post published:August 5, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Berbagai “Pesan” Muncul dari Pembukaan Sekaten “Perdana 2026” (seri 3-habis)
DIHATURKAN LANGSUNG : Pesanan juice jeruk Sunkys dihaturkan langsung penjualnya kepada Sinuhun PB XIV Hangabehi, saat bersama Gusti Moeng dan rombongan mampir di stan itu dalam pembukaan "Maleman Sekaten 2026", Minggu (2/8). (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Terselip “Pesan”, Wajib Menjaga “Kemuliaan Pusaka” Peninggalan Leluhur

IMNEWS.ID – TATA-LAKSANA Sekaten Garebeg Mulud pada dekade terakhir pemerintahan rezim Orde Baru (1990-1998), menjadi puncak perubahan kegiatan keramaian pasar malam pendukung ritual religi menyambut hari besar Maulud Nabi Muhammad SAW itu. Perubahan tata-laksana dan tata-niaga Sekaten yang mulai terbawa arus modern, sudah tampak pada dekade sebelumnya (1980-1990) yang terus menuju arah “bebas”.

Hadirnya “tobong” hiburan musik rock dan dangdut, menjadi simbol modernitas tata-niaga dalam keramaian pasar malam “Maleman Sekaten”. Sedangkan hadirnya “EO” (event organizer) pengelola “Maleman Sekaten” yang menjual tiket masuk bagi para pengunjungnya, menjadi simbol modernitas tata-laksana penyelenggaraannya. Dalam 2 dekade itu terkesan, Sekaten Garebeg Mulud sedang menjadi “target desakralisasi”.

Melalui tokoh-tokoh yang punya link politik dengan partai politik pendukung rezim pemerintah dan berpengaruh pada putusan Sinuhun PB XII, waktu itu, kraton bisa mengeluarkan kebijakan yang “merugikan” lembaganya sendiri. Di antaranya, adalah kebijakan yang tergolong pragmatis dalam tata-laksana dan tata-niaga keramaian Sekaten Garebeg Mulud, padahal berpotensi mengancam unsur sakralitas ritualnya.

Saat itu, bergagai jenis kesenian yang bisa dikemas tata-niaganya dalam bentuk tobong, diakomodasi di Alun-alun Lor, karena bersedia menyewa lahan. Perlahan-lahan, seni pertunjukan dangdut-pun diizinkan hadir dengan tobong tertutup di arena Sekaten. Dalam soal kebisingan, musik dangdut yang memasang sound system medium saja, sudah setara suara knalpot stan tobong “tong setan” polusi suaranya.

TAMU ISTIMEWA : Riyan vokalis grup band D’Masiv hadir di acara pembukaan “Maleman Sekaten 2026”, Minggu (2/8). Kerabat kraton ini adalah sahabat Sinuhun PB XIV Hangabehi, yang berkunjung lagi sejak “kerja-bhakti resik-resik kraton” 2021.
(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Polusi suara sound system dan polusi citra visual dari aksi erotisme penampilan penyanyi dangdut, adalah bentuk-bentuk potensi yang mengurangi kesakralan Sekaten (deskralisasi). Bahkan dalam catatan iMNews.id (dulu Suara Merdeka-Red), pernah pada dekade 1990-2000, tampil sajian pertunjukan dangdut dua tobong sekaligus. Selain terkesan seperti adu keras sound-system, menguntungkan secara finansial.

Pragmatisme dalam mencari pendapatan dalam jumlah relatif besar dan kesempatannya langka (setahun sekali-Red), yang tampak nyata terjadi selama kraton berada di alam republik adalah tata-laksana Sekaten Garebeg Mulud. Mungkin hanya jenis ritual itu yang bisa dimanfaatkan untuk “mencari terobosan” dari “kebuntuan” akibat “hilangnya semua kedaulatan” kraton, karena jenis-jenis ritual lain kecil.

PUNYA PENGALAMAN : Dalam wawancara dengan para wartawan, Riyan vokalis grup band D’Masiv punya kenangan di masa kecilnya tinggal bersama keluarga kerabat kraton di Surakarta. Kenangan itu diajak ke “Maleman Sekaten” membeli mainan anak-anak.
(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

“Pragmatisme” akibat perubahan/modernitas yang merongrong nilai-nilai sakralitas, tidak terbatas hanya dalam sajian pertunjukan di arena “Maleman Sekaten”. Karena, dalam dua dekade itu tata-laksana Maleman Sekaten pernah dikelola sebuah “EO”, yang merubah keramaian gratis menjadi berbayar. Padahal, esensi Maleman Sekaten, dari pasar rakyat menuju Masjid Agung sebagai pusat ritual dan “syi’ar agama”.

“Pragmatisme” untuk mendapatkan keutungan besar dalam waktu singkat juga ditunjukkan “EO”, ketika mengkavling-kavling area Alun-alun Lor bahkan hingga kompleks Pendapa Pagelaran, menjadi desain zona pameran, dagang dan pertunjukan yang bernilai ekonomi rendah, sedang dan tinggi. Tetapi, praktiknya sulit dijaga porsi zona “bebas” bagi pedagang “oprokan” (tradisi) mendapat tempat yang layak.

PUNYA KEPEDULIAN : Riyan vokalis grup band D’Masiv juga punya pengalaman, ikut terlibat kegiatan kerja-bhakti “resik-resik kraton” di masa pandemi Corona. Dia punya kepedulian, karena kraton “terlantar”, korban “Insiden MOM” (2017-2022).
(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Para pedagang “oprokan” seperti bakul Cabuk-rambak, Pecel-Baki, Sega-liwet, Sate-kere dan sejumlah besar pedagang kecil yang hanya berbekal “tenggok” dan “dingklik”, sejak itu “terlempar” dari Alun-alun Lor. Padahal, mereka yang khas ikonik keramaian pasar malam Sekaten, masing-masing hanya butuh kavling 60×60 cm.  Sejak itu, Sekaten tidak ramah terhadap para pelestari menu karya Sinuhun PB II.

Kajian sejarah Ketua Lokantara Pusat di Jogja, Dr Purwadi, mencatat ratusan resep menu masakan dan makanan khas Surakarta, tercipta saat Sinuhun PB II bertahta di Kraton Mataram Kartasura dan Surakarta (1727-1749). Wilayah sekitar (Kecamatan-kini) Baki, sekitar 3 KM dari Kartasura (Ibu Kota Kraton Mataram Islam, 1645-1745), adalah pusat kegiatan kuliner “UMKM” berbagai menu masakan khas Surakarta.

TERTIMPA BERINGIN : Selama beberapa tahun Alun-alun Lor menjadi ajang relokasi pedagang Pasar Klewer antara 2018-2022, pernah terjadi musibah angin ribut yang menumbangkan pohon beringin dan lainnya, hingga menimpa kios-kios para pedagang.
(foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Ketika rezim Orba “terguling” dan “angin kebebasan” berhembus kencang, tobong musik dangdut tetap bisa hadir di “Maleman Sekaten” beberapa tahun setelahnya. Tetapi, “Maleman Sekaten” mulai 2004 bisa steril dari tobong dangdut karena Bebadan Kabinet 2004 bijak menyikapi “angin kebebasan” reformasi. Keramaian pasar malam di bulan puasa menyambut Idhul Fitri, juga bisa dibebaskan dari “dangdut”.

Terbebasnya “Maleman Sekaten” dari praktik-praktik pragmatisme materialistik, memang bukan sekadar membentengi Alun-alun Lor dari potensi desakralisasi. Karena kawasan kraton seluas 92 hektare dari Gladag sampai Alun-alun Kidul, punya makna filosofi identik dengan “perjalanan hidup manusia”. Sebagai bagian dari kesatuan makna secara struktural, “pusaka” leluhur itu wajib tetap dijaga “kemuliannya”. (Won Poerwono-habis/i1)