Keduanya Memohon untuk Keselamatan Jumenengan-Nata Sinuhun PB XIV Hangabehi
KUDUS, iMNews.id – Pengurus Pakasa Cabang Kudus kembali “melahirkan” gagasan baru inovatif yang cemerlang, setelah sosialisasi gambar Sinuhun PB XIV Hangabehi ke seluruh wilayah kabupaten, ucapan Selamat Hari Kepercayaan dan sebagainya. Ide baru inovatif kali ini, berupa gelar doa bersama antara yang berlangsung di Majelis Taklim Pedangkungan dan yang sedang umrah di Mekah (Makkah) Arab Saudi.
“Mungkin ada selisih waktu beberapa jam, antara KRT Joko Sulistiyono yang berdoa Masjid Nabawi (Madinah) dengan warga Pakasa Cabang Kudus yang menggelar doa wilujengan Majelis Taklim Pedangkungan. Dia mendoakan Sinuhun PB XIV Hangabehi pas Jumatan, warga Pakasa Kudus menggelar doa bersama Jumat (24/7) malamnya. Isi doanya sempat saya kirim lewat WA,” ujar KRRA Panembahan Gilingwesi Singonegoro.

KRRA Panembahan Didik Alap-alap Gilingwesi Singonegoro (Ketau Pakasa Cabang Kudus) membenarkan “doa bersama” di atas, saat diminta konfirmasi iMNews.id, tadi siang. Dia menambahkan, soal ibadah umrah yang dilakukan warga Pakasa Kudus yang juga santri Majelis Pedangkungan, Joko Sulistiyono Rekso Pradotodiningrat disebut adalah niat pribadi. Baik keberangkatan umrah dan kabarnyapun terhitung mendadak.
“Memang saya pernah dengar rasanan mau umrah dan sempat minta doa restu, tetapi tidak dalam waktu dekat. Karena, memang belum menyebutkan waktunya. Tetapi tiba-tiba dia minta dikirim teks isi doa untuk Sinuhun PB XIV Hangabehi. Selain itu, dia mengirim foto2nya sudah di dekat Masjid Al Munawarrah, Nabawi (Madinah). Dia berdiri di tengah jalan, sambil membentangkan banner Sinuhun saat difoto”.

“Saya ikut bangga dan beruntung serta terima kasih, karena ada santri/warga Pakasa yang kebetulan bisa pergi umrah. Doa untuk Sinuhun PB XIV Hangabehi, itu yang paling utama saya titipkan. Doa untuk keselamatan beliau dan keluarga, serta kraton dan seisinya. Doa agar segera dibukakan jalan terang bagi semuanya untuk segera menggelar jumenengan-nata beliau. Itu yang utama,” pinta KRRA Panembahan.
Menurut KRRA Panembahahan Gilingwesi Singonegoro itu, atas nama seluruh warga Pakasa Cabang Kudus dirinya bersyukur Sinuhun PB XIV Hangabehi sudah menjalankan hampir semua tahap perjalanannya menuju tahta. Namun, satu tahap lagi yang paling akhir dan genap, yaitu upacara adat jumenengan-nata yang ditunggu-tunggu seluruh masyarakat adat termasuk Pakasa Kudus, hingga kini belum juga bisa terwujud.

Atas dasar itulah, seluruh warga Pakasa Kudus ikut berupaya segera mewujudkan harapan banyak pihak itu, yaitu upacara adat jumenengan-nata. Karena sebelum itu, donga wilujengan sudah beberapa kali diadakan, sampai datang kesempataan bersama, Jumat malam (24/7), antara yang sedang beribadah umrah dengan warga di cabang. Tak hanya itu, saat sosialisasipun Pakasa Kudus menjadi “pioner” bagi yang lain.
Ketua Pakasa Cabang Kudus yang juga Juru-Kunci II Makam Pangeran Puger, Desa Demaan, Kecamatan Kota itu sempat menunjukkan beberapa penggel kalimat doa yang dikirim ke KRT Joko Sulistiyono yang sedang beribadah umrah. Isi doa itu antara lain :” Allahuma Rabbal-‘Alamin, kawula nyuwun kanthi andhap-asor wonten ngarsa Paduka. Mugi Paduka paring berkah, rahmat lan pitulungan dhateng KGPH Hangabehi”.

“Menawi punika dados karsa lan ridha Paduka, mugi prosesi jumenengan-nata Sampeyan-dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Pakubuwana XIV, saget kalampahan kanthi lancar, wilujeng, tentrem, saha kebak kamulyan. Mugi Paduka paring kawicaksanaan, kekiyatan, kesehatan lan manah ingkang jembar dhateng supados anggenipun ngasta amanah, ngreksa paugeran, nglestantunaken budaya adiluhung…”.
“…Kraton Surakarta Hadiningrat, saha nuwuhaken kerukunan lan katentreman tumrap sadaya sentana-dalem, abdi-dalem lan masyarakat. Mugi Paduka tebihaken lan sirnaaken saking sadaya alangan, pasulayan saha perkawis ingkang saget ngalang-alangi. Mugi Karaton Surakarta Hadiningrat tansah pinaringan tentrem, rukun lan kamulyan,” demikian antara lain doa berBahasa Jawa krama inggil yang dikirim.

Dalam pada itu, memasuki bulan Agustus ini, pengurus cabangnya belum punya agenda untuk ikut dalam berbagai kegiatan peringatan 17-an baik di kampung atau di tingkat kabupaten. Pakasa cabang masih terkonsentrasi untuk menyambut upacara adat jumenengan-nata apabila sewaktu-waktu kabar dan dhawuh pisowanan itu tiba. Tradisi haul Pangeran Puger rutin tiap Surapun, tahun ini juga “dilewatkannya”.
Menurutnya, yayasan dan panitia haul memang tidak mengundangnya, baik selaku Juru-Kunci II maupun selaku pimpinan Pakasa cabang. Ritual haul tokoh Dinasti Mataram adalah pelestarian budaya Jawa yang menjadi bidang tugas Pakasa. Tahun lalu, Pakasa Kudus diundang ikut kirab, menurut Qiston (pengurus makam) tahun ini haul (9-13 Sura) hanya digelar kecil-kecilan, tak mengundang Pakasa Kudus. (won-i1)
