Minggu Sore (2/8) “Maleman Sekaten” Dibuka, Ada Pentas Festival Art 2026

  • Post author:
  • Post published:July 31, 2026
  • Post category:Regional
  • Reading time:5 mins read
You are currently viewing Minggu Sore (2/8) “Maleman Sekaten” Dibuka, Ada Pentas Festival Art 2026
MENJADI IKON : Gerbang keramaian pasar-malam atau "Maleman Sekaten 2026" di awal era Sinuhun PB XIV Hangabehi, menjadi cirikhas sekaligus ikon upacara adat perdana Sekaten Garebeg Mulud di bulan Mulud Tahun Be 1960 atau Agustus 2026 ini. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Pekerjaan Fisik Revitalisasi Menunggu Proses Lelang, Isi Museum Sudah Dipindah

SURAKARTA, iMNews.id – Mundur sehari dari yang direncanankan semula, Sabtu (1/8), pembukaan resmi “Maleman Sekaten” 2026 akan digelar Bebadan Kabinet 2004, Minggfu sore (2/8). Sedianya, kalau keramaian pasar malam pendukung Sekaten Garebeg Mulud 2026 bisa dibuka Sabtu (1/8), sekaligus menandai genap sebulan kegiatan ini berlangsung di berbagai titik lokasi selain Alun-alun Lor dan Pendapa Pagelaran.

“Karena ndilalah berbareng dengan beberapa keperluan di luar kota yang harus dihadiri, maka rencana Maleman Sekaten dibuka Sabtu (1/8), mundur Minggunya (2/8). Di Kota Malang ada pelantikan pengurus Pakasa Cabang (2026-2031). Klaten  juga ada persiapan pergantian pengurus. Sinuhun (PB XIV Hangabehi) juga hadir di acara Yaqowiyu Klaten,” ujar KPH Edy Wirabhumi, menjawab iMNews.id, Jumat (31/7).

KPH Edy Wirabhumi selaku Pangarsa Pakasa Punjer menjelaskan, kini mulai berlanjut lagi dinamika pergantian pengurus Pakasa cabang di sejumlah daerah yang sudah habis masa bhaktinya. Bahkan, ada yang sampai tertunda, misalnya Pakasa Cabang Malang Raya dan akan segera menyusul Pakasa cabang (Kabupaten) Klaten. Sementara, Pakasa Cabang Tegal, cabang Salatiga, cabang Pekalongan pelan-pelan sudah terbentuk.

Selain itu, sebagai Ketua Harian Lembaga Dewan Adat (LDA), KPH Edy Wirabhumi juga  menyatakan, walau pembenahan organisasi Pakasa tetap berjalan, perencanaan kerja revitalisasi juga tetap bisa berjalan. Karena, revitalisasi sejumlah bangunan di beberapa kawasan kraton merupakan komitmen pemerintah untuk membantu Kraton Mataram Surakarta, bahkan ada 12 kraton se-Nusantara yang juga direvitalisasi.

SUDAH “DIAMANKAN” : Salah satu gamelan kraton Kiai Guntur Madu, sudah “diamankan” di dalam “gedhong” Sasana Handrawina. Karena, gedhong Langen Katong tempat penyimpanannya, juga akan segera direvitalisasi. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Namun, jadwal pekerjaan fisik revitalisasi di kraton yang sudah dimulai dengan ritual wilujengan, Selasa (21/7), terpaksa belum bisa dilanjutkan dengan pasang pagar seng di beberapa lokasi yang akan dikerjakan serentak mulai Senin (27/7). Karena, Kemenbud RI baru melakukan lelang tender yang pemenangnya baru bisa mulai bekerja pertengahan Agustus ini. Karena pekerjaan fisik mundur, ada penyesuaian.

“Di antara yang menyesuaikan itu adalah kebijakan meliburkan layanan kunjungan wisata terutama di museum. Karena pengerjaan mundur, pemasangan pagar seng juga bisa mundur. Dan, rencana meliburkan museum juga bisa mundur. Tetapi, persiapan berupa pemincahan benda-benda koleksi museum sudah hampir selesai. Mudah-mudahan, sebelum pekerjaan fisik dimulai, semua koleksi museum sudah bisa diamankan,” ujar KPH Edy.

BELUM BANYAK : Stan para pedagang berbagai mainan anak-anak khas Sekaten yang kini hampir semuanya berbahan dasar plastik, masih tampak sedikit yang menghiasi sepanjang jalan lingkar Alun-alun Lor di depan Masjid Agung. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Berkait dengan penyelenggaraan Sekaten Garebeg Mulud 2004, disebutkan kraton kini memang sedang sangat sibuk membagi waktu untuk menjalankan tugas adat, kerja-sama dengan pemerintah (Kemenbud RI) untuk mempercantik kembali kraton dan tugas-tugas lain yang berkait dengan masyarakat adat. Kehadiran Sinuhun PB XIV Hangabehi pada ritual Yaqowiyu di Jatinom (Klaten), Jumat (31/7) juga punya makna luas.

Dalam siaran pers yang diterbitkan selaku Ketua Harian LDA, KPH Edy Wirabhumi menguraikan secara lengkap agenda Sekaten Garebeg Mulud dengan berbagai tahapan dan tatacaranya. Dia juga menegaskan, penyelenggaraan Sekaten 2026 adalah atas “dhawuh” Sinuhun PB XIV Hangabehi. “Minggu sore (2/8) pukul 15.30 WIB, pembukaan Sekaten akan dilakukan di Pendapa Pagelaran dengan seremonial,” ujarnya.

Dalam siaran pers Ketua Harian LDA disebutkan, Sekaten Garebeg Mulud yang rutin digelar Kraton Mataram Surakarta tiap datang bulan Mulud kalender Jawa, adalah rangkaian tradisi yang memiliki makna religius, historis sekaligus kultural. Aspek kulturalnya seperti diungkapkan KRT Darpo Arwantodipuro disebut dalam beberapa dokumen manuskrip yang tersimpan di perpustakaan kraton, Sasana Pustaka.

Di antaranya ada Serat Babad Sekaten, Serat Kali Jaga, Serat Perayaan Sekaten dan beberapa istilah dalam Sekaten yang disinggung di Kamus Kawi-Jawi (CF Winter). Di beberapa judul naskah manuskrip itu, disebut bahwa perayaan Sekaten sudah ada di Kraton Demak sejak Sultan Bintara I (Raden Patah) jumeneng-nata di nagari Demak Ngawantipura (abad 14-15). Gamelan yang ditabuh, berasal dari Kraton Jenggala.

HAMPIR SAMA : Suasana keramaian pasar malam “Maleman Sekaten” tahun 2026 ini diperkirakan kurang lebih sama dengan tahun 2025 lalu. Deretan stan dagang mainan anak-anak di depan pintu masuk Masjid Agung tahun 2025, menjadi pembandingnya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Dari salah satu naskah manuskrip itu justru menyebut gamelan Sekaten mulai ditabuh pada tanggal 5 “malem” 6 Rabingulawal (Mulud) di pelataran Masjid Demak. Tetapi, tak ada catatan yang menyebut tanggal 12 Rabingulawal (Mulud) sebagai hari kelahiran Nabi Muhammad SAW, ada prosesi hajad-dalem Gunungan. Prosesi mengarak “pareden jaler lan kakung” baru ada sejak Raja Mataram, Sultan Agung.

Gamelan yang menjadi alat Sunan Kali Jaga untuk “mulut” (menarik dengan perekat) para pengunjung Sekaten dalam syi’ar Islam, disebutkan hanya ada satu (pangkon) bernama Kiai Nagawilaga. Tetapi setelah setelah Sultan Bintara III wafat, Kraton Demak Ngawantipura kosong tanpa pemimpin. Sunan Gunungjati tampil sebagai “Pjs Raja” yang kemudian menyerahkan gamelan kepada putrinya, KRAy Ayu Mas Nyawa.

NYARIS PENUH : Jalan lingkar Alun-alun Lor di depan Masjid Agung, tampak penuh stan dagang mainan anak-anak pada Sekaten tahun 2025. Walau kondisi ekonomi nasional tahun 2026 ini hampir sama, para pedagang berharap tahun lebih baik. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Gamelan Kiai Nagawilaga lalu dibawa ke Cirebon dan ditempatkan di Kraton Kanoman. KRT Darpo Arwantodipuro masih memiliki kisah lanjutan soal gamelan Sekaten dan soal perjalanan keramaian “Syahadaten” atau “Syahadatain” dari zaman ke zaman. Sementara itu, Sekaten Garebeg Mulud yang berlangsung 200 tahun Kraton Mataram Surakarta (1745-1945) hingga kini, disebut KP Budayaningrat mengalami pasang-surut.

Saat berada di awal era Sinuhun PB XIV Hangabehi inipun, Sekaten Garebeg Mulud 2026 juga mengalami dinamika yang sama dengan sebelumnya. Bahkan, banyak sekali hal hasil dinamika yang fluktuatif terjadi, terutama karena bersamaan dengan proses pergantian kekuasaan. Selain situasi dan kondisi global termasuk ekonomi, politik dan budaya, revitalisasi kraton juga berpengaruh pada tata-laksananya. (won-i1)