Dua Kompleks Bangunan di Kraton Direvitalisasi “Kolosal”, Selama Empat Bulan (seri 4-habis)

  • Post author:
  • Post published:July 24, 2026
  • Post category:Budaya
  • Reading time:4 mins read
You are currently viewing Dua Kompleks Bangunan di Kraton Direvitalisasi “Kolosal”, Selama Empat Bulan (seri 4-habis)
SUDAH SIAP : Sebuah wahana sarana rekreasi di arena "Maleman Sekaten", sudah siap beroperasi walau bulan di kalender Jawa masih Sapar atau belum memasuki bulan Mulud Tahun Be 1960 yang biasanya menjadi ajang keramaian Sekaten Garebeg Mulud. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Harus Ada Ruang Produktif untuk Sekadar Bertahan Hidup

IMNEWS.ID – HANYA menunggu hitungan hari, beberapa kompleks dari seluruh kawasan cagar budaya Kraton Mataram Surakarta, akan ditutup “untuk umum” selama 4 bulan. Penutupan beberapa lokasi terutama yang selama ini menjadi objek wisata, akses dan rute perjalanan wisata di kawasan kraton, karena proyek fisik revitalisasi mulai dikerjakan. Itu berarti, kenyamanan “publik” akan sedikit terganggu.

Kenyamanan “publik” yang mungkin akan terganggu, yaitu lalu-lintas umum yang selama ini memanfaatkan jalan lingkar di dalam Baluwarti dan lingkar jalan Supit Urang. Karena mungkin saja, selama 4 bulan itu ada kegiatan proyek yang keluar-masuk lokasi proyek untuk bongkar material. Berbagai kegiatan pendukung aktivitas pariwisata di kraton, mungkin juga akan terganggu karena layanan wisata ditutup.

Tak hanya berbagai jenis usaha dalam jaringan industri pariwisata yang berkait dengan kraton termasuk museum yang menjadi objek wisata, yang bisa “kehilangan” pendapatan total selama 4 bulan. Sekitar 400 orang dari masyarakat adat sebagai “sentana-garap dan abdi-dalem garap” di jajaran Bebadan Kabinet 2004, tentu akan terpengaruh. Mengingat, kraton sudah tak punya sumber (kedaulatan) ekonomi lain.

Jika dirunut ke balakang, selama 80-an tahun sejak kraton bergabung ke NKRI mulai 1945, terkesan sudah “dicabut” nyawa kehidupannya. Karena, bukan hanya silayak kedaulatan administratifnya yang diambil-alih semuanya, melainkan juga aktivitas ekonomi dan sumber-sumber ekonomi lainnya. Dari semua potensi sumber ekonomi itu, sebagian besar diambil-alih (dijarah), dan sebagian lain “dikondisikan” mati sia-sia.

SEKADAR BERTAHAN : Beberapa fasilitas sarana rekreasi yang mulai muncul di Alun-alun Lor, adalah sekadar “kail” dan “jala” yang diperbaiki untuk mencari pendapatan guna sekadar bertahan hidup bagi masyarakat adat kraton. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Demikian sebuah analisis untuk menggambarkan nasib “negara” (monarki) Mataram Islam Surakarta, ketika Sinuhun PB XII “mengeksekusi” keinginan para leluhurnya, untuk menggabungkan diri ke dalam “wadah baru” yang disebut NKRI mulai 17 Agustus 1945. Karena “keputusan” itu, ada konsekuensi logis yang harus diterima kraton, yaitu tidak mendapatkan kompensasi, tetapi malah ikut memberi “modal” NKRI.

Tetapi, konsekuensi logis itu tampaknya malah “dikehendaki” menjadi kondisi riil yang akhirnya setelah melewati perjalanan waktu menjadi tampak tidak logis atau tidak rasional. Yaitu, NKRI telah “abai” (sengaja) tidak “menyantuni” atau memberi “kompensasi” keluarga besar Sinuhun PB XII. Karena selama hayat, hampir semua putra-putri Sinuhun PB XII tak memiliki penghasilan resmi/pekerjaan tetap.

MENJALANKAN TUGAS : Mereka yang tampak di dalam baliho itu adalah Sinuhun PB XIV dan sebagian kerabat dekatnya yang bersepakat mulai menjalankan tugas dan kewajiban adat melestarikan budaya dan menjaga kelangsungan kraton. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Setelah lebih 80 tahun kemudian atau kini, seluruh masyarakat adat kraton boleh melihat realita adanya “kehadiran” negara. Dalam tema revitalisasi, pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo telah “mengulurkan tangan” ke kraton mulai akhir tahun 2025. “Uluran tangan” ini memang sulit disebut “santunan”, apalagi “kompensasi”, tetapi sekadar memberbaiki “kail” atau “jala” untuk menangkap ikan.

“Uluran tangan” negara yang dalam sosialisasi perencanaan termasuk “lumayan”, bukan berarti mengesampingkan peran para pemimpin negara sebelum Prseidn Prabowo. Karena, ada data yang menyebut hampir tiap presiden yang memimpin, ada “uluran tangan” atas nama negara untuk “membantu” kraton. Namun bantuan itu terkesan agar kelihatan peduli, misalnya pembangunan kembali kraton setelah terbakar 1985.

MENERUSKAN EKSISTENSI : Sinuhun PB XIV Hangabehi memberi salam hormat kepada istri KGPH PA Tedjowulan. Ia bersama seluruh kerabat dan masyarakat adatnya, kini hendak meneruskan eksistensi kraton yang diperjuangkan para leluhurnya. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Tetapi, bantuan berupa proyek revitalisasi 2025/2026 ini, juga bukan berarti telah memberi ganti sepadan apa yang telah “dikorbankan” kraton untuk NKRI. Oleh sebab itu, proyek revitalisasi ini sebaiknya harus memberi “ruang produktif” bagi kraton. Jangan sampai demi kelancaran kegiatan proyek revitalisasi, justru menutup “ruang kreatif produktif” bagi kraton, yang sekadar untuk bertahan hidup.

Proyek revitalisasi seperti pernah disebut Kemenbud RI Fadli Zon dan jajarannya dalam beberapa kesempatan bertemu dengan kalangan otoritas di kraton, memang ingin menjadikan museum dan sebagian kawasan kraton punya daya tarik dan “nilai jual tinggi” dalam “pasar pariwisata”. Itu memang ideal, walau mirip memperbaiki “kail” dan “jala”, untuk menangkap ikan sekadar cukup, efektif dan efisien.

HANYA BAGIAN : Museum dan beberapa bangunan lain di kawasan kraton yang sedang direvitalisasi, hanyalah bagian dari “kail” dan “jala” yang sedang diperbaiki, agar menjadi alat untuk mencari pendapatan (nafkah) guna sekadar bertahan hidup. (foto : iMNews.id/Won Poerwono)

Masyarakat adat Kraton Mataram Surakarta walau selama ini diperlakukan sangat tidak adil, tetapi mereka tetap realistik dan sangat sensistif pada situasi dan kondisi negara bahkan dunia, terkini. Artinya, kraton juga bisa memahami situasi dan kondisi serta kesulitan yang sedang melanda bangsa ini. Maka, uluran tangan negara berupa bantuan revitalisasi ini tetap diterima dengan senang dan bangga.

Tetapi memang, sebagai sesama anak bangsa, masyarakat adat kraton mungkin juga punya perasaan dan sensitivitas. Kepekaan terhadap rasa keadilan yang makin jauh berpihak pada rakyat kebanyakan, termasuk kalangan masyarakat adat. Karena, aset-aset ekonomi negara justru hanya dikuasi beberapa gelintir oknum di sekitar “kekuasaan”, sementara kraton yang pernah memodali NKRI justru “terlantar”. (Won Poerwono-habis/i1)